Positive Parenting
Oleh : Mohamamd Fauzil Adhim
Tahukah Anda bedanya mengejar anjing dan dikejar anjing? Keduanya sama-sama menguras tenaga. Tetapi berbeda akibatnya bagi jiwa dan pada akhirnya bagi badan.
Saat kita mengejar anjing, energi baru akan muncul ketika kita melihat anjing itu lewat di hadapan kita. Energi yang semula hilang karena mati-matian berlari, terasa memenuhi seluruh rongga badan kita kembali saat binatang yang luput dari kejaran kita itu tampak berkelebat. Ia menghadirkan semangat selagi tujuan kita masih kuat atau kita merasa cukup memiliki kemampuan untuk mengejarnya.
Tetapi kondisi psikis yang sama tidak kita miliki kalau yang terjadi sebaliknya. Kita dikejar anjing. Barangkali baru lima meter kita berlari, rasanya lunglai seluruh badan kita. Lemas tak berdaya. Kita perlu waktu cukup lama memulihkan kembali energi yang hilang. Begitu pula kesiapan emosi kita untuk bertindak, perlu pemanasan untuk bisa kembali cepat tanggap. Kecuali jika anjing itu menyalak lagi mengejar kita, maka kesanggupan berusaha akan muncul lagi, meski tak seberapa. Sekadar menyelamatkan diri dari ancaman.
Anak-anak kita juga demikian. Kalau semangat yang kita tanamkan kepadanya, maka ia akan senantiasa memiliki energi dan kesegaran untuk mengejar anjing yang bernama cita-cita. Tetapi kalau ia kita paksa meraih sesuatu yang kita harapkan mereka miliki, maka kitalah yang menjadi anjing penjaga itu. Anak-anak kita belajar bukan karena haus ilmu, melainkan karena takut kepada kita. Kalau kita tidur, tidur pula semangat anak untuk belajar. Kalau kita pergi, pergi pula kemauannya untuk berbuat baik.
Ia menjadi robot dari keinginan kita, yang menanti saat untuk berontak. Atau justru sebaliknya, menjadi orang yang tidak punya gairah sama sekali. Tak ada yang menyenangkan baginya selain makan. Bahkan makan pun boleh jadi tak menyenangkan baginya.
Ini mungkin gambaran yang terlalu ekstrem. Tetapi jangan katakan tidak ada, meski saya berharap itu tidak terjadi pada keluarga kita. Saya berdoa, semoga atas setiap letih lelah kita mengasuh mereka di waktu kecil, kelak Allah 'Azza wa Jalla akan memberikan kepada kita kemurahan dan kasih sayang di surga-Nya.
Tak ada cita-cita yang lebih mengharukan bagi orang tua terhadap anaknya, kecuali berharap agar mereka kelak menjadi anak-anak saleh yang mendoakan (waladun shalih_un yad'u lah). Karenanya, sudah seharusnya kita memberi perhatian yang lebih banyak kepada apa yang dapat mengantarkan mereka menuju kesalehan.
Kita sentuh hatinya, sehingga hiduplah akal pikirannya. Bukan menyibukkan dengan banyaknya pengetahuan yang mereka serap. Sementara terhadap jiwa mereka, kita lupa menghidupkannya.
Saya teringat dengan Dr. Marian C. Diamond, peneliti otak milik Einstein. Setelah mempelajari otak milik mendiang Albert Einstein, Dr. Diamond mencoba memahami lebih jauh dengan melakukan berbagai percobaan terhadap tikus. Mulanya dia memberi pengayaan lingkungan, kemudian mencoba melakukan eksperimen berbeda.
Dr. Diamond meneliti dua kelompok tikus. Satu kelompok memperoleh pengayaan emosional, yakni mendapat perhatian yang penuh kasih sayang. Dr. Diamond menemukan bahwa ketika dia memberikan sentuhan kasih itu, mereka menunjukkan tanda-tanda fisik akan perbaikan fungsi sistem limbik mereka.
Karena itu, mengacu pada percobaan ini, pengayaan secara mental dapat memberikan kepada kita kapasitas fisik yang lebih luas bagi kecerdasan intelek dan emosi. Begitu dijelaskan dalam buku Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak terbitan MLC, Bandung.
Kecerdasan Cair
Ada sejumlah penelitian lain yang menyerupai hasil percobaan Dr. Diamond. Kali ini penelitiannya terhadap manusia. Bukan tikus. Ringkasnya, pengayaan secara mental akan meningkatkan kapasitas fisik kecerdasan kita dan anak-anak kita. Peningkatan kapasitas mental memungkinkan mereka memiliki kecerdasan cair yang lebih tinggi.
Apa itu kecerdasan cair? Rumusannya begini, "Kecerdasan cair adalah ukuran efisiensi kerja otak, bukan ukuran jumlah fakta yang tersimpan di dalamnya."
Seorang anak boleh jadi tahu banyak, tetapi ia tidak dapat memanfaatkan pengetahuan yang ada di otaknya. Ia dapat mempelajari, katakanlah kimia karbon, di usia yang sangat belia. Tetapi, ia tidak mengambil manfaat darinya. Pengetahuannya tentang kimia karbon menjadi tumpukan pengetahuan mati, sehingga menjadi kotoran data (data smog) dalam otaknya.
Nah, keadaan seperti ini mudah terjadi apabila anak-anak kita belajar seperti robot. Mereka belajar disertai beban yang harus mereka singkirkan. Tanpa tujuan, tanpa keterlibatan emosi, tanpa bisa menikmati. Saat yang paling membahagiakan bagi mereka adalah ketika terbebas dari beban dan tuntutan.
Ini berbeda dengan anak-anak yang belajar karena ada semangat yang menyala dalam dirinya. Gairah belajar selalu ada pada dirinya, kecuali apabila orang tua atau guru telah menjebaknya dengan rutinitas yang terus-menerus tanpa memberi kesempatan rehat bagi jiwanya. Di antara bentuk rehat jiwa adalah menghibur diri. Kata Ali bin Abi Thalib r.a., "Hiburlah had suatu ketika, karena jika dipaksakan terus-menerus terhadap sesuatu, ia menjadi buta..."
Itu sebabnya saya sangat berharap, kepada sekolah-sekolah yang memberlakukan jam belajar sehari penuh (full day), agar tidak memberikan pekerjaan rumah bertumpuk-tumpuk. Sebab ini tidak membuat anak semakin cerdas. Justru sebaliknya, inisiatif, antusiasme, dan kecerdasan cairnya bisa melemah. Kita bisa memberi mereka project sebagai bahan pengayaan apabila mereka ingin berlatih meningkatkan kecakapan intelektualnya di rumah. Tetapi, bukan pekerjaan rumah.
Agar mereka menjadi anak-anak yang penuh inisiatif, kecakapan emosinya berkembang, kecakapan sosialnya tidak terhalang, kita perlu memberi kesempatan kepada mereka untuk dapat menikmati hari libur tanpa beban akademik.
Kalau harus ada yang kita berikan kepada anak-anak kita, maka itu lebih bersifat pengayaan mental dan lingkungan. Kita bisa memberi mereka pengayaan pengalaman dengan memberi pekerjaan rumah yang menantang mereka, misalnya beternak atau menggembala kambing –kegiatan yang sangat efektif untuk merangsang empati dan kepemimpinan pada diri mereka.
Selebihnya, semangat merekalah yang perlu kita bangkitkan. Bukan membebani dengan tuntutan-tuntutan yang membuat mereka seperti dikejar anjing. Dalam keadaan tertekan, sejumput makanan di neraca akan jauh lebih berat dibandingkan sekarung bate yang ditopang. Begitu pula jiwa anak-anak kita.
Tugas yang sederhana akan terasa sangat berat dan melelahkan jiwa, bukan hanya fisik –apabila kita memberikannya sebagai tuntutan dan bahkan ancaman. Tetapi, tugas yang sangat pelik, rumit, dan berat pun jika kita sertai dengan dukungan dan perhatian tutus, akan terasa ringan.
Boleh jadi tugas itu bahkan terasa di luar batas kesanggupan. Tetapi, sekali lagi, dalam keadaan penuh semangat dan gairah menyala-nyala, insya Allah mereka akan sanggup menuntaskan tanggung jawabnya. Dan inilah yang seharusnya ada pada jiwa anak-anak kita.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala merahmati kita. Semoga Allah Azza wa Jalla memampukan saya hadir kembali ke hadapan Anda untuk berbincang tentang bagaimana membangkitkan semangat anak. (*)
KB/TK ISLAM IBNU RUSYD PARENT COMMUNITY
Selasa, 22 April 2008
Semangati, Jangan Bebani
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar