KB/TK ISLAM IBNU RUSYD PARENT COMMUNITY

KB/TK ISLAM IBNU RUSYD PARENT COMMUNITY

Rabu, 20 Februari 2013

Sekolah yang Baik adalah Yang Kuat Ruhiyah-nya

Hidayatullah.com--Banyak orang yang mempermasalahkan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di Indonesia. Namun bagi penulis buku-buku parenting, Mohammad Fauzil Adhim, yang bermasalah bukanlah UN-nya. Malahan, UN bisa membuka mata bahwa pendidikan di negeri ini sedang “sakit keras”. Salah satu contoh nya adalah banyak siswa yang nyontek, tidak jujur dalam mengerjakan ujian.

Pernyataan pemerhari masalah psikologi ini disampaikan saat mengisi “Seminar Parenting” yang diadakan oleh Komite Sekolah SD Integral Luqman Al-Hakim Surabaya di Aula Serbaguna Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya pada Jum’at (22/4).

Menurutnya, kegiatan menyontek bukan sekedar pelanggaran, namun sudah bentuk kejahatan. Oleh karena itu, pelakunya harus ditindak tegas. Kalau perlu, pihak sekolah harus berani mengeluarkannya dari sekolah.

“Sekolah harus berani tegas terhadap siswa yang nyontek. Dikeluarkan dari sekolah, misalnya. Karena nyontek sama dengan menipu. Ini biang kejahatan di masa-masa berikutnya,” kata salah satu kolumnis di Majalah Hidayatullah ini.

Selain itu menurutnya, siswa yang suka mencontek menunjukkan bahwa dia memiliki integritas yang jelek. Padahal dengan adanya siswa yang memiliki integritas jelek menunjukkan pendidikan belum dikatakan berhasil.

Dia melanjutkan, ada tiga komponen pendidikan bisa dikatakan berhasil, yaitu memiliki integritas yang baik, motivasi yang tinggi, dan kompetensi yang unggul.

Seorang siswa dikatakan memiliki integritas yang baik, ketika dia berbuat jujur dalam segala perilakunya. Oleh karena itu, seorang guru haruslah berupaya sekuat tenaga menjadikan siswa jujur.Sedangkan untuk menjadikan siswa memiliki motivasi yang tinggi, seorang guru haruslah pandai memotivasi dan menggembleng mentalnya. Selain itu harus dipastikan, bahwa sang guru senang dengan aktivitas mengajar.

Sementara itu untuk masalah kompetensi, Fauzil menjelaskan, kompetensi yang harus dimiliki siswa tidak hanya kompetensi akademik, melainkan juga kompetensi hidup (life competence). Kompetensi hidup pun masih dibagi dua, yaitu kompetensi diri (self competence) dan kompetensi sosial (social competence).

“Seseorang tanpa memiliki kompetensi hidup tidak akan bisa survive dalam hidup ini, sekalipun dia memiliki kompetensi akademik yang bagus sewaktu duduk di bangku sekolah.”
*/Luqman Hakim

Baca Selengkapnya......

Antusiasme yang Menyala

Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Pernahkah bayi Anda sakit? Apa yang terjadi padanya? Ya, dia akan rewel jika sakitnya sudah benar-benar sangat mengganggu. Lebih-lebih pada malam hari ketika kantuknya datang dan mata tak kunjung bisa terpejam. Tetapi begitu dia mulai sedikit sehat (belum sehat betul), rasa sakit yang mendera tak dirasakannya lagi. Ia bermain-main dengan gembira. Tertawa renyah, berlari-lari, dan berceloteh. Padahal badannya masih panas, nafasnya masih tersengal, dan batuknya belum sepenuhnya reda.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari anak-anak kita yang lucu itu? Fokus dan antusiasme. Pada saat perhatian kita fokus pada satu hal, kita cenderung tidak peka terhadap hal-hal lain sekalipun itu sebenarnya kurang nyaman bagi diri kita. Rasa sakit kita “menghilang” karena hampir seluruh energi kita mengarah pada sesuatu yang menjadi fokus kita. Semakin kuat fokus kita, semakin besar perhatian kita, serta semakin tinggi kepekaan kita terhadap hal tersebut. Pada saat yang sama kita cenderung “mengabaikan” hal-hal lain.

Ketika fokus perhatian saya terhadap pendidikan anak sangat kuat, membaca buku sejarah atau politik pun memantik insight (semacam “aha…!”, “oya, ya…”) tentang pendidikan anak. Saya menulis buku Salahnya Kodok misalnya, bukan karena membaca buku-buku psikologi anak. Tetapi saya membaca tentang Jepang, Amerika, dan Israel; bagaimana mereka menanamkan sikap politik. Saya tercenung sejenak, lalu melihat ada yang keliru pada kita saat anak terjatuh. Bukan mengajarinya memahami apa yang terjadi, apa konsekuensinya dan tindakan apa yang perlu dilakukan untuk masa-masa berikutnya. Tetapi kita menyalahkan sekeliling dan bila perlu melakukan tindakan naif untuk mencari pembenaran.

"Hush, itu ayamnya yang nakal.” Kita hibur anak sembari melemparkan sandal kita ke arah ayam di seberang sana, atau kita salahkan lantai yang tak bersalah, dan jadilah anak kita belajar menjadi pengecut. Anak terhibur, tetapi kehilangan kesempatan belajar. Anak segera reda tangisnya, tetapi kehilangan daya tahan menghadapi tantangan. Ia belajar melemahkan dirinya sendiri karena orangtua mengajarkannya demikian. Ia tidak belajar memahami tindakannya dan mengendalikan sekeliling. Ia hanya belajar mengendalikan orangtua dan menyalahkan sekeliling. Dan inilah tragedi yang kita tanam sendiri pada jiwa anak-anak kita!

Kembali ke fokus. Kuatnya fokus membuat otak kita semakin cemerlang. Kita mengingat dengan baik bukan karena menghafal, tetapi karena fokus yang kuat memberi sinyal pada otak bahwa informasi itu berharga. Dan Anda tahu, ada dua hal yang membuat otak kita mengingat dengan lebih baik: perhatian dan makna. Sesuatu bisa memiliki makna yang bagi kita karena berhubungan erat dengan kepentingan kita. Ketika Anda bermusuhan dengan seseorang, Anda lebih mudah mengingat informasi tentang keburukannya. Anda juga lebih cepat melihat hubungan antara sebuah peristiwa dengan kesalahan atau keburukan orang yang sangat tidak Anda sukai.

Bermakna tidaknya informasi bisa juga berkait dengan nilai-nilai ideologis yang mempengaruhi jiwa kita. Lebih-lebih jika nilai itu benar-benar telah menjadi daya penggerak (driving force) bagi hidup kita, maka tingkat kepekaan kita akan meningkat dan segala hal yang berkaitan semakin bermakna.

Itu sebabnya, kita perlu menggerakkan anak-anak kita dengan tujuan yang sifatnya ideologis. Kita berusaha agar agama menjadi daya penggerak bagi hidupnya, sehingga membentuk reason for being "semacam alasan untuk bertindak" bagi anak-anak kita. Sesungguhnya, motivasi itu berkait erat dengan apa yang menggerakkan kita untuk bertindak, apa yang ingin kita capai, dan cita-cita besar yang ingin kita raih.

Dalam keadaan termotivasi (motivated), fokus kita akan semakin kuat. Dan kita baru saja melihat bahwa kuatnya ingatan kita berkait erat dengan perhatian dan makna.

Penjelasan ini memahamkan kita mengapa anak-anak generasi salafush-shalih sangat cemerlang otaknya. Anak-anak itu fokusnya terjaga dan motivasinya menyala-nyala karena agama. Persoalannya, apakah kita sudah cukup layak untuk menjadi orangtua? Orangtua yang tidak sekedar lebih tua umurnya daripada anak!

Lalu apa yang melemahkan fokus? Hadiah dan gengsi. Kita perlu memberi hadiah pada anak untuk menunjukkan rasa sayang kita. Bukan untuk “menggaji” perbuatan baiknya, sebab ini akan melemahkan. Kita bisa memberi mereka iming-iming, tetapi bukan sesuatu yang bisa diraih hanya dengan satu perbuatan, saat ini juga, sekarang juga. Kita bangun mimpi mereka tentang surga, sembari membangun harapan kita sendiri untuk bisa meraih surga. Tetapi surga tidak bisa Anda raih seketika. Anda harus mati dulu. Itu pun tidak cukup untuk memastikan kita masuk surga. Mati bukan jalan masuk surga. Harus ada amal shalih. Itu pun tak cukup. Amal shalihnya harus yang diridhai, sebagaimana diamanahkan dalam surat Al-Ahqaaf ayat 15.

Mengenai gengsi, pada awalnya anak tidak pusing-pusing dengan baju apa yang ia pakai. Mahal atau tidak, bermerek atau tidak, anak tidak peduli. Kitalah yang mengajari mereka untuk malu memakai baju hadiah, sehingga pikiran yang seharusnya fokus pada keunggulan, jadi terpecah karena penampilan.

Tentu saja anak-anak harus berpakaian pantas. Tapi yang harus kita ajarkan adalah alasan mendasar di balik itu. Jadi, ada tujuan di balik tindakan.

Astaghirullahal adzim. Rasanya saya belum pantas menjadi orangtua untuk anak-anak saya. Banyak sekali kekurangan yang masih melekat pada diri saya.

Antusiasme

Kekuatan lain anak kita adalah antusiasme yang menyala. Secara sederhana, antusiasme adalah perasaan yang kuat, rasa senang, kegairahan dan semangat terhadap sesuatu. Ketika anak belajar berjalan, ia benar-benar merasa senang dengan proses belajar berjalan yang ia lakukan. Tidak peduli berapa kali dia jatuh, tak peduli lecet-lecet lututnya. Mungkin ia menangis sesaat sebagai reaksi terhadap rasa sakit di badan, tetapi ia segera kembali belajar berjalan dengan sungguh-sungguh, penuh semangat dan senang. Karena antusias, anak belajar dengan mudah apa yang sulit dipelajari. Karena antusiasme yang tinggi pula, anak tetap bersemangat ketika harus berkali-kali jatuh dan gagal. Ia tidak putus asa.

Setiap anak lahir dengan antusiasme yang sangat tinggi. Ia selalu tergerak untuk belajar dan belajar. Ia melakukan berbagai hal yang membantunya segera mampu melakukan berbagai aktivitas yang semula tidak mungkin ia lakukan.

Berbekal antusiasme yang sangat tinggi, anak melakukan proses belajar dengan sangat cepat. Salah satunya, dalam keadaan antusias, otak memproses informasi dan pengalaman dengan lebih baik. Jika Anda belajar dalam keadaan sangat bergairah, Anda akan lebih mudah mengingat sekaligus memahami apa yang Anda pelajari. Belajar terasa menyenangkan bukan karena materi pelajarannya yang mengajak kita bersenang-senang, tetapi perasaan kita yang kuat membuat apa pun yang kita pelajari 'sekalipun sulit' terasa menyenangkan.

Dari sini kita bisa memahami mengapa ada TK (Taman Kanak-kanak) yang sengaja tidak mengajarkan menyanyi. TK model ini menyelenggarakan kegiatan belajar yang menyenangkan dengan terutama membangun kedekatan emosi antara guru dan anak, merangsang antusiasme anak untuk belajar, mengobarkan motivasi yang kuat dan membangun karakter yang kuat. Guru merancang model kegiatan yang terasa alamiah, spontan, menyenangkan dan antusias. Dengan demikian, tidak adanya menyanyi bukan membuat anak tertekan. Karena prinsip pokok pembelajaran usia dini adalah menyenangkan. Jika menyanyi tidak menyenangkan bagi anak, mereka tidak boleh dipaksa untuk menyanyi. Bukankah anak bisa mengalami proses belajar yang menyenangkan dan penuh gairah hanya jika antusiasme anak menyala-nyala?

TK tanpa nyanyi ini sudah ada di beberapa negara. Salah satu keunggulan yang menonjol dari TK model ini adalah pembangunan karakter pada anak.

Saya ingin berbicara lebih lanjut tentang TK yang berkembang pertama kali di Austria ini. Tetapi kali ini bukan kesempatan yang tepat. Kali ini saya hanya ingin mengajak Anda untuk melihat betapa besarnya kekuatan yang bernama antusiasme. Tugas kitalah untuk menjaganya dan mengarahkan pada aktivitas yang terbaik. Salah satunya dengan membangun kekuatan motivasi saat anak-anak berada di jenjang TK dan SD.

Secara keseluruhan, fokus dan antusiasme pada orang-orang dewasa bisa kita temukan pada mereka yang ikhlas dan istiqamah. Karena ikhlas, mereka bersungguh-sungguh dan melakukan kegiatan serta amal shalih secara total.


Energi keikhlasan itulah yang perlu kita bangun pada anak di tahap awal kehidupannya di sekolah. Wallahu a'am bish-shawab. [www.hidayatullah.com]

Baca Selengkapnya......

Rabu, 12 Januari 2011

Kualitas Pendidikan Terbaik Di Dunia

Diambil dari Top of the Class - Fergus Bordewich
Oleh: Andri Aji Saputro

Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah Finlandia.

Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki—di mana perjanjian damai dengan GAM dirundingkan—ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia.
Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang sains, membaca, dan juga matematika.
Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak -anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.

Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia?
Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.
Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.

Lalu apa dong kuncinya?
Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk ke sekolah-sekolah pendidikan, dan hanya 1 dari 7 pelamaryang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran! Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.

Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru yang berkualitas tinggi, tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra -TK! Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, Kepala Sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab, mereka akan bekeja lebih bebas. Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.

Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Di sini guru tidak mengajar dengan metode ceramah, kata Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.
Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.

Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.
Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking -rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing -masing.

Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.

Baca Selengkapnya......

Selasa, 27 April 2010

Ratna Megawangi, Pelopor Pendidikan Holistik Berbasis Karakter

Melangit di langitperempuan pada 19 Februari 200

Ratna Megawangi, Ir. M.Sc, Ph.D. adalah seorang perempuan cerdas dan berkarakter kuat. Muslimah bergelar doktor dan post doctoral ini adalah pelopor pendidikan holistik berbasis karakter di Indonesia.

Pendiri dan Direktur Eksekutif Indonesia Heritage Foundation, yang mengelola hampir 100 sekolah karakter di berbagai penjuru tanah air, ini juga seorang penulis terkemuka. Buku dan artikel dosen dan lulusan terbaik IPB (1982) ini sering menjadi perdebatan hangat dan best seller.


Lewat Yayasan Warisan Luhur Indonesia (Indonesia Heritage Foundation) yang dirikan tahun 2001, Ratna Megawangi dan suaminya Dr. Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD (Menteri Negara Komunikasi dan Informasi) bersama teman-temannya menuangkan sebuah idealisme, mimpi dan harapan besar bahwa suatu saat Bangsa Indonesia akan berjaya sebagai bangsa yang berkarakter kuat.


Akan tiba saatnya bangsa ini menuai buah dari benih-benih bangsa, yang sejak 2001sudah mulai disemai di mana-mana, melalui pendidikan holistik berbasis karakter yang digerakkan Yayasan Warisan Luhur Indonesia. Yakni benih-benih bangsa yang berkarakter kuat, benih-benih bangsa yang mempunyai akhlak mulia yang universal sesuai warisan nilai-nilai luhur Indonesia.

Pendidikan holistik berbasis karakter ditanamkan sejak usia prasekolah kepada anak-anak dari beragam latarbelakang. TK Karakter dan Semai Benih Bangsa yang dikelola kini berjumlah hampir 100 sekolah dan tersebar di berbagai penjuru tanah air, serta akan terus berkembang secara tak terbatas di kemudian hari. TK Karakter dan Semai Benih Bangsa diplot mampu menembus batas sekat perbedaan agama, suku, golongan, status sosial, kaya atau miskin, semua anak berkesempatan memperoleh pendidikan karakter yang didirikan dan dikelolanya.

Membiarkan Berbeda

Jauh sebelum suaminya, Sofyan A. Djalil, menjadi Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Kabinet Indonesia Bersatu, nama Ratna Megawangi, Ph.D, kelahiran Jakarta 24 Agustus 1958, sudah menjadi wacana perdebatan dan polemik hangat di media massa nasional. Ratna, penulis buku berjudul “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender” tahun 1999, ini sudah produktif menulis buku dan artikel di sejumlah media massa sejak tahun 1994.

Ia aktif membuka wacana tentang anak, keluarga, dan perempuan. Kehadiran Ratna dianggap banyak pihak selalu bernada antagonistis terutama oleh pengusung gerakan feminisme bahkan against the stream bagi mainstream yang sedang berkembang.

Buku “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender” selain bernada antitesa, juga against the stream bagi mainstream gerakan feminisme yang sedang gencar memperjuangkan kesetaraan gender.

Ratna di situ menyadarkan para pihak bahwa sesungguhnya antara laki-laki dengan perempuan tidaklah bisa dipersama-ratakan. Secara kodrati, genetika, psikis, dan fisik keduanya berbeda. Karenanya perbedaan itu haruslah dipelihara menjadi sebuah perbedaan yang harmoni. Perbedaan yang bisa diperlihatkan dalam pembawaan peran masing-masing yang saling melengkapi. Ratna dalam bukunya menawarkan sudut pandang baru tentang relasi gender.

Buku yang mulai ditulis tahun 1997 dan selesai persis seminggu setelah Tragedi Nasional 14 Mei 1998, kemudian diterbitkan tahun 1999 oleh Penerbit Mizan, Bandung, itu memuat berbagai postulat dasar, idiologi, paradigma, dan contoh-contoh tentang kegagalan ide kesamarataan lelaki-perempuan di berbagai negara terutama di negara komunis, berikut beragam pemikiran lain yang memberikan Ratna kesimpulan akhir bahwa lelaki dan perempuan adalah berbeda.

Berbeda sehingga tidak bisa disetarakan secara kuantitatif fifty-fifty. Di Singapura, Korea, atau Jepang, demikian pula di negara-negara maju keterwakilan perempuan di lembaga parlemen sekitar 10% saja. Di Indonesia diperjuangkan jauh lebih liberal harus 30% perempuan di DPR, walau yang bisa dicapai masih belasan persen. Ratna menawarkan sudut pandang baru tentang relasi gender.

Pasca kejatuhan rejim Orde Baru, Ratna Megawangi merasa lega sebab ajaran Karl Marx yang ada dalam bukunya, sesuatu yang bisa dicap sebagai tindakan makar dan merongrong ideologi Pancasila pada masa sebelum itu, menjadi lolos sensor alias terbit tanpa harus melalui sensor. Ratna sadar berdasarkan pengalamannya sebagai dosen ilmu filsafat untuk mahasiswa S-2 di IPB Bogor, ide-ide Karl Marx yang ditulisnya bisa membuat seseorang menjadi Marxis sejati, atau di sisi lain malah menjadi sangat konservatif.

Sudut pandang baru tentang relasi gender yang ditawarkan Ratna melawan arus besar justru pada saat kesetaraan sedang digaungkan oleh para penggagas gerakan feminisme. Seketika hadir buku itu segera menjadi bahan polemik berkepanjangan di media massa. Bahkan tak kurang 14 kali Ratna harus hadir langsung di acara bedah buku di beragam komunitas. Tak heran jika buku itu menjadi buku laris atau best seller yang mengalami cetak ulang hingga tiga kali, bahkan bersiap-siap untuk dicetak keempat kalinya.

Selain best seller buku yang penulisannya diinspirasikan oleh buku “The Tao of Islam” karangan Sachico Murata dari Jepang, di mana Ratna menjadi editor edisi terjemahan bahasa Indonesia berjudul sama “The Tao of Islam” diterbitkan oleh Mizan, Bandung tahun 1996, itu menjadi bahan bahan tesis seorang mahasiswi asing asal Sydney, Australia yang pernah bermukim dan magang di UGM Yogyakarta.

Mahasiswi asing yang pandai berbahasa Indonesia itu berhasil mendapatkan buku karangan Ratna Megawangi, lalu membuat tesis khusus tentang buku dengan judul “A Textual Analisys of Membiarkan Berbeda”. Mahasiswi perguruan tinggi The Australian National University itu berpendapat, buku “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender” adalah satu-satunya buku yang pernah ia baca yang memberikan solusi terhadap relasi gender yang lebih harmonis.

“Karena memang, di buku itu bab terakhir saya tawarkan solusinya, tak sekadar antagonisme. Tapi, solusinya bagaimana keharmonisan dalam keluarga bisa dibentuk melalui keharmonisan relasi jender,” kata Ratna Megawangi, di rumahnya yang asri kawasan Harjamukti, Cimanggis, Depok.

Sebelum menulis buku “Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru tentang Relasi Gender”, Ratna sudah sejak lama berani membuka wacana dan polemik tentang masalah anak, keluarga, dan terutama perempuan atau masalah feminisme di harian Kompas, semenjak tahun 1994 atau persis sepulang dari studi S-3 di Amerika Serikat tahun 1993.

Dalam catatan pribadinya Ratna menyebutkan sudah pernah menulis lebih dari 30 artikel yang dipublikasi Kompas, berisi visinya tentang perempuan. Ratna datang sebagai antagonisme baru yang berani berbeda terhadap pandangan para kaum gerakan feminisme.

Kaum feminis tentu saja menjadi marah oleh kahadiran Ratna. Sebab baru pada tahun 1992 muncul mainstream baru gerakan feminisme. Pada gerakan itu para feminis bergerak luar biasa menuntut kebebasan perempuan, emansipasi, dan segala macam memperjuangkan kesamaan hak-hak perempuan dengan lelaki.

Istri Menteri
Tak ada perubahan yang berarti dalam diri Ratna Megawangi setelah suaminya Dr. Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD “Mutiara Bangsa dari Aceh” dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjadi Menteri Negara Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Kabinet Indonesia Bersatu.

Embel-embel sebagai istri seorang menteri tak akan mengurangi mimpi dan idealisme besar Ratna membangun bangsa lewat pendidikan holistik berbasis karakter kepada anak-anak sejak usia dini prasekolah, buah terbesar yang diperolehnya selama studi S-2, S-3, dan post doctoral di Tufts University, Medford, AS.
Suami Ratna, Sofyan Djalil sehari-hari adalah profesional murni yang bergerak di bidang konsultan spesialis implementasi good corporate governance dan good corporate communication. Setelah diangkat menjadi menteri, ke lingkungan elit nasional dan pemerintahan, Sofyan diharapkan bisa menyelipkan pelan-pelan pesan moral perlunya semua pihak membangun karakter anak secara holistik ke dunia pendidikan sejak dini usia prasekolah.

Pendidikan holistik berbasis karakter saat ini diakui Ratna Megawangi, pemakai kacamata minus yang saban hari mengenakan busana muslimah, masihlah ide kecil. Namun ide kecil ini secara perlahan tapi pasti akan tumbuh menjadi besar yang bahkan mampu mengubahkan paradigma bangsa menjadi bangsa yang berkarakter kuat.

Ide kecil pendidikan holistik berbasis karakter dianggap Ratna sebuah kepakan sayap kupu-kupu kecil dari sebuah rumah sederhana di Cimanggis namun mampu menjadi angin tornado besar dan gerak turbulensi baru yang menggentarkan kalbu di mana-mana.

Lulusan Terbaik IPB
Ratna Megawangi adalah ibu dari tiga orang anak yakni Muhammad Rumi lahir tahun 1985, Safitri Mutia lahir di Amerika Serikat tahun 1990, dan Muhammad Lutfi lahir tahun 1998. Ratna sesungguhnya adalah pakar dan dosen ilmu Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK), di Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor.

Di tahun 1978, otaknya yang cerdas telah menuntunnya untuk memilih kuliah di IPB, ditambah dorongan dari ayahnya Drs Harmonie Jaffar, seorang profesional yang bekerja di sebuah perusahaan farmasi swasta asing. Ketika itu, dari ayahnya Ratna mengetahui Kampus IPB Bogor mempunyai program bagus berupa kesempatan mengikuti tes ujian akhir menyelesaikan kuliah dalam waktu singkat empat tahun.

Tiada motivasi lain kecuali menyelesaikan kuliah sesegera mungkin tanpa mempedulikan jurusan apa yang dirasa terbaik dan di mana hendak berkiprah. Sebab Ratna belumlah menemukan apa bakat dan kesenangannya yang permanen. Berdasarkan test psikologi atau psikotes yang pernah dijalani diperoleh hasil di semua bidang Ratna mencatat nilai rata-rata yang sama bagus.

Direkomendasikan pula, Ratna cocok dan berkesempatan memilih disiplin ilmu serta bekerja di bidang apa saja. Nah, khusus perihal penelusuran pendalaman bakat direkomendasikan kepada Ratna agar terus mengasah diri hingga berhasil menemukan talenta yang sesungguhnya. Jika bakat itu sudah ketemu, Ratna dipesankan pula untuk semakin memperdalamnya.

Otak cerdas Ratna Megawangi bukan hanya memberi kesempatan menyelesaikan pendidikan S-1 dalam waktu singkat. Ia kuliah empat tahun saja sudah berhasil meraih gelar insinyur, pada Mei 1982, dan tamat dengan meraih penghargaan sebagai lulusan terbaik Fakultas Pertanian berdasarkan perolehan tertinggi nilai akademis.

Tahun 1982, agaknya tahun yang berkelimpahan berkat buat Ratna. Selain berhasil tamat sebagai lulusan terbaik di tahun yang sama, ia berhasil dipersunting oleh Sofyan Djalil, seorang pemuda “Mutiara Bangsa dari Aceh”. Mereka pertamakali bertemu di IPB Bogor. Ratna bertemu dengan Sofyan tahun 1980 ketika sudah menginjak bangku kuliah tingkat tiga, sedangkan Sofyan masih tingkat dua Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH-UI), Jakarta.

Usia mereka terpaut lima tahun. Sofyan Djalil, kelahiran Perlak, Aceh 23 September 1953, lebih tua sebab sebelum memasuki kuliah anak petani dari desa pegunungan ini sempat melanglang buana ke mana-mana. Termasuk selama setahun penuh di tahun 1977 hidup sebagai “James” alias Penjaga Mesjid. Sofyan makan, tidur dan hidup melulu di lingkungan mesjid Menteng Raya, Jakarta Pusat, tanpa bekerja.

Sofyan baru berkesempatan bekerja sebagai pegawai negeri sipil golongan II-A tahun 1978, di Kejaksaaan Agung, Jakarta, bertugas sebagai pesuruh yang membantu mengurus mesjid Pusdiklat Kejaksaan Agung. Namun sebagai anak petani tipikal pekerja keras sambil bekerja Sofyan Djalil berkutat ilmu di sore hari dengan menempuh kuliah di FH-UI.

Ratna Megawangi selain cantik, berasal dari keluarga berada, sedang menempuh pendidikan tinggi, sadar dirinya ditaksir oleh banyak pria bukan hanya oleh Sofyan. Cantik namun belum pernah mau membuka hati kepada satu pria manapun. Berbeda ketika berjumpa dengan Sofyan Djalil.

Ratna tanpa tahu sebab mau saja meladeni ngobrol akrab sekaligus membuka hati kepada pria beridealisme tinggi yang, menurut Ratna, ketika itu tampak miskin, jelek, kurus tak terawat, dan tidak pernah memiliki uang lebih di kantong. Kalaupun keduanya makan bersama di restoran, Sofyan Djalil hanya bisa membuka dompet lalu berterus terang mengaku tak punya uang kecuali sekedar ongkos perjalanan.

Selain Ratna, ibunya termasuk orang yang ikut bingung kok mau-maunya Ratna terhadap Sofyan. Namun di balik kebingungannya, Ratna akhirnya berhasil menemukan jawaban kenapa ia bisa menerima, bersikap terbuka, dan mengobrol bebas dengan Sofyan Djalil. Pada diri pria asal Aceh itu Ratna melihat ada potensi tersembunyi. Dalam pandangan mata hati terdalam Ratna, pemuda Sofyan Djalil adalah “Mutiara yang Masih Terpendam”.

“Karena saya, memang, saya sudah senang dengan orang-orang yang punya jiwa-jiwa percaya diri, kepemimpinan. Saya, melihat kepemimpinannya itu,” aku Ratna, yang sebelumnya tak pernah peduli apalagi membuka hati terhadap pria lain. Padahal para pria lain itu bisa menunjukkan diri sebagai lebih keren, lebih gagah, lebih kaya, dan beragam kelebihan lain bisa segera dipertontonkan.

“Jadi, diri saya merasakan, ya, ini! Dan saya tidak melihat bagaimana dia. Tapi saya merasa kagum dengan pandangannya, dan kalau saya hidup bersama dia saya yakin saya bisa apa… namanya, bisa bergantung,” jelas Ratna. Ratna tak mau peduli bagaimana Sofyan Djalil, yang hingga waktu kawin pun tak memiliki uang termasuk untuk membeli cincin perkawinan.

Setelah menikah tambahan kebingungan baru masih dimunculkan orang. Kali ini dari salah seorang adik Ratna, walau hanya berupa canda belaka. Rumahtangga Sofyan Djalil dan Ratna di awal pernikahannya tinggal serumah dengan orangtua Ratna. Hal itu memberi kesempatan kepada adik Ratna mengamati persis apa saja kekayaan yang Sofyan Djalil bawa. Ternyata hanya sebuah koper kecil berisi buku-buku berikut pakaian. “Udah, nggak ada apa-apa lagi, nggak punya apa-apa sama sekali,” kata Ratna.

“Tapi, di situ, kami membangun dari bawah yaitu dengan hope, dengan kerja keras, dengan idealisme. Kami dari dulu punya idealisme yang luar biasa besar semenjak dari masih belum nikah. Jadi, di situlah kita share. Terus, kemudian kepada anak-anak ditekankan hidup itu sederhana, tidak terlalu ini, yah, kita share ke anak-anak semua idealisme kami,” jelas Ratna, perihal kuatnya pondasi rumahtangga yang mereka bangun.

Ada sebuah idealisme besar di balik pendirian keluarga yang tetap mempersatukan Ratna-Sofyan hingga menembus segala batas sekat perbedaan, halangan dan rintangan. Rasa saling percaya sekaligus saling mengisi satu sama lain ditanamkan. Tidak pernah hadir kamus the other the third person. Masa up and down rumahtangga tak sampai menggoyahkan keutuhan idealisme. Malah, perkawinan menurut Ratna adalah sebuah jihad batin bahkan sudah merupakan separuh iman.

Kalaupun keduanya bertengkar kecil-kecilan di rumah itu lebih banyak karena perbedaan persepsi dan paradigma dalam wacana politik. Sebab masing-masing telah sepakat untuk memposisikan diri sebagai the devil’s advocate satu terhadap yang lain untuk saling mengkritisi. Akibatnya keduanya terkadang bersikap keras satu sama lain. Tambahan pula keduanya memiliki tingkat intelektualitas sama tinggi.

Ratna mengaku di antara keduanya hingga kini proses penyesuaian masih tetap berlangsung dan tidak akan ada hentinya. Jika “pertengkaran” tak menemui titik temu, anak-anak dengan segera bisa menjadi penengah yang mengkritisi baik ayah maupun ibunya. Jika ego Sofyan Djalil “mengeluh”, misalnya menyebutkan susah mempunyai istri pintar Ratna dengan enteng bisa bercanda, menyebutkan agar suaminya kawin saja dengan perempuan lulusan SD agar selalu bisa nurut, iya mas, iya bang.

Dididik hidup sederhana
Ratna Megawangi terlahir sebagai anak kedua dari enam bersaduara. Ia lahir di Jakarta, 24 Agustus 1958. Mereka enam bersaudara hidup dan dibesarkan di lingkungan keluarga mapan dan cukup berada. Ayahnya, Drs Harmonie Djaffar berasal dari Banjarmasin, adalah profesional yang bekerja di sebuah perusahaan farmasi milik swasta asing. Sedangkan ibunya bernama Srie Mulyati, seorang wanita berdarah campuran Jawa dan Sunda.

Walau orangtua hidup mapan berkecukupan, Ratna menerima bentuk pengasuhan dan pendidikan berdisiplin keras. Didikan disiplin keras, hemat, dan hidup sederhana semenjak masa kecil, telah menjadikan Ratna dan lima saudaranya memiliki sifat kemandirian, pekerja keras, dan perasaan tidak mau dibantu orang. Sifat-sifat baik itu tetap terlihat dan terasakan manfaatnya setelah dewasa.

Orangtua Ratna, sejak dini sudah menanamkan kebiasaan untuk harus hidup sederhana. Demikian pula tentang harta, jauh-jauh hari sudah diperingatkan agar jangan berharap apa-apa, semisal menerima materi atau warisan dari orangtua. Orangtua hanya memberikan bekal, atau kayuh sebagai bekal hidup yakni pendidikan. “Sehingga, itulah yang memacu kami untuk terus berprestasi dalam hal akademis,” kata Ratna.

Kendati orangtua Ratna memiliki kendaraan mobil, anak-anak dibiasakan pergi ke sekolah menumpang kendaraan umum bis kota atau angkutan kota (Angkot). Demikian pula perihal uang jajan sekolah diberikan sangat terbatas. Jika Ratna dan saudara kakak-beradik hendak menginginkan sesuatu, tiada cara lain yang diajarkan dan dipaksakan, harus terlebih dahulu menabung. Perjuangan menabung dari sedikit uang jajan harus bisa dibuktikan dan diperlihatkan.

“Jadi, kalau kami kecil, kok pelit bangat, ya, kenapa kok ada mobil tidak diantar tiap hari ke sekolah, misalnya, begitu,” kata Ratna, mengenang ajaran hidup sederhana dari orangtua.

Keinginan Ratna kecil ke sekolah diantar naik kendaraan mobil justru terbalik dengan apa yang diinginkan anak perempuannya Safitri Mutia. Anak kedua yang sedang duduk di bangku SMP ini protes keras kepada Ratna ketika belum seminggu ayahnya menjadi menteri supir sudah disuruh menjemputnya ke sekolah.

Setelah Sofyan Djalil menjadi menteri, pemerintah melalui Sekretariat Negara, menugaskan dua orang supir baru berikut kendaraan berbuntut nomor polisi BS untuk bekerja di sebuah rumah di Jalan Anantakupa Raya Blok V/11-12, Kompleks Harapan Baru, Taman Bunga, Harjamukti, Cimanggis, Bogor, tempat kediaman keluarga Sofyan Djalil. Satu supir untuk mendampingi Sofyan Djalil satu lagi untuk Ratna Megawati.

Supir pribadi keluarga yang sebelumnya sudah lama akrab menyertai seluruh anggota keluarga menjadi “menganggur”. Dia itulah yang diutus Ratna menjemput Titi, nama panggilan Safitri Mutia. Lewat telepon genggam Titi yang biasa ke sekolah naik angkutan umum spontan memprotes Ratna, menolak dijemput sebab tetap lebih suka pergi dan pulang sekolah naik Angkot.

Terlebih, Titi sudah mengetahui rencana keluarganya “harus” pindah ke kompleks perumahan menteri di kawasan Widya Chandra, Jakarta Selatan. Dengan demikian tak ada banyak waktu lagi tersisa bagi Titi berpuas diri bersama teman-teman sekolah menaiki angkutan umum bernama Angkot.

Ratna menyebutkan anak-anak sejak kecil telah dididik hidup sederhana dan tidak steril dari masyarakat. Mereka harus tahu denyut nadi dan keprihatinan hati masyarakat atau tetangga. Mereka tidak kapok sehari-hari ke sekolah naik Angkot, kendati anak sulungnya Muhammad Rumi harus menyerahkan uang karena ditodong oleh pisau atau Titi dua kali kehilangan handphone di Angkot

Temukan ‘Makanan Jiwa’
Tamat sebagai lulusan terbaik IPB Bogor Mei 1982, Ratna tidak tahu kemana akan bekerja selanjutnya. Dia masih belum menemukan talenta atau kesenangan hati yang sesungguhnya. Tawaran atau kesempatan bekerja apa pun jika ada pasti akan diterima tanpa perlu proses seleksi dan pemikiran panjang.

Sama persis seperti ketika menjadi mahasiswa jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK), Fakultas Pertanian, IPB Bogor di tahun 1978, Ratna dengan mudah masuk menjadi tenaga pengajar di jurusan dan fakultas yang sama di almamaternya itu tahun 1982. Ratna memang amat sangat pragmatis. Tidak terlalu bercita-cita mau menjadi apa. Hidup dijalani begitu saja.

Hingga tiba waktunya, pada tahun 1986, Ratna berkesempatan melanjutkan pendidikan S-2 untuk belajar gizi di School of Nutrition, Tufts University, Medford, Massachussets, AS. Ia memperoleh beasiswa dari Ford Foundation untuk tahun pertama, dan dari World Bank untuk tahun kedua. Ratna berangkat tahun 1986. Selama setahun penuh ia tinggal sendirian di negeri Paman Sam sebelum suaminya bisa datang menyusul kemudian, juga untuk kuliah S-2. Sofyan Djalil akhinya berhasil memperoleh beasiswa kuliah S-2 di perguruan tinggi sama, Tufts University dari kantornya bekerja.

Di School of Nutrition, Ratna merasakan hidup masih biasa-biasa saja. Kuliah sepertinya sekedar menjalankan kewajiban tanpa tahu harus ke mana. Pokoknya dapat sekolah ya sekolah saja. Ratna lulus dan meraih gelar S-2 Master of Science (M.Sc) tahun 1988. Pada saat itu Sofyan Djalil baru setahun menjalani kuliah S-2. Ratna harus menunggu akhir kuliah suami sampai selesai setahun lagi.

Sambil menunggu, Ratna yang ketika lulus S-2 disarankan untuk meneruskan kuliah ke program doktor itu memperoleh dorongan dari mantan dekannya untuk mengajukan “beasiswa” dalam bentuk lain. Yakni, Ratna tidak perlu membayar uang kuliah namun dikasih pekerjaan sebagai tenaga research asisstant. Tahun 1988 Ratna mulai kuliah S-3 sambil bekerja sebagai tenaga riset. Tahun 1990 ia melahirkan anak kedua, Safitri Mutia dan tahun 1991 lulus sebagai doktor bergelar Ph.D dalam bidang International Food and Nutrition Policy.

Ketika Ratna lulus S-3, Sofyan Djalil justru baru setahun memasuki kuliah S-3. Sofyan mengambil S-3 sebab ketika lulus master of arts (MA) bidang studi Public Policy tahun 1989 Ratna masih sedang mengambil S-3. Saat menunggu Ratna menyelesaikan kuliah S-3, Sofyan mengajukan proposal baru ke kantor pusat tempatnya bekerja di Jakarta, agar bisa memperoleh beasiswa baru untuk S-3. Proposal itu disetujui. Sofyan mengambil bidang International Financial and Capital Market Law and Policy.

Dengan demikian, ketika Ratna sudah menyelesaikan Ph.D tahun 199,1 Sofyan Djalil baru setahun kuliah S-3. Ratna kemudian harus menunggu lagi sebab sudah dengan dua orang anak rasanya berat dan enggan berpisah dengan suami. Seorang profesor, dosen Ratna, kemudian menawarkan Ratna masuk post doctoral program.

Sebagai kesempatan baru tawaran itu segera saja diambil. Walau, belajar tentang anak, keluarga, proyek keluarga, dan child development adalah suatu hal baru bagi Ratna. Ratna mau ambil sebab hanya disiplin ini yang memiliki dana beasiswa di tingkat post doctoral program. Di post doctoral program, Ratna harus melupakan ilmu bidang Gizi Makanan dan Sumberdaya Keluarga (GMSK) keahlian dan kepakaran Ratna semenjak S-1 hingga S-3.

Uniknya, momentum post doctoral program justru menjadi titik picu awal, cikal bakal, kiprah kepeloporan Ratna Megawangi sebagai penggagas pendidikan holistik berbasis karakter. Ratna berhasil menemukan jati diri, kesenangan, talenta, visi kehidupan, dan hakekat idealismenya yang sesungguhnya pada fenomena anak dan keluarga.

Di post doctoral program antara 1991-1993, Ratna menjalankan tugas sebagai independent research. Ia mengadakan sejumlah riset tentang keluarga dan perkembangan anak di berbagai negara. Ratna mulai menyadari bakat dan kesenangannya ada di bidang humaniora yang multi disiplin ilmu yang menggabungkan beragam ilmu seperti ilmu sosial, sosiologi, psikologi, budaya, hingga filsafat. Atau secara spesifik ilmu tentang anak, keluarga, perkembangan anak, pengasuhan anak, pendidikan anak, kultur keluarga, atau segala hal terkait anak dan keluarga. Ratna segera mencintai bidang ini dengan penuh semangat baru yang luar biasa sekali.

“Nah, sewaktu saya melakukan post doctoral program, saya merasa inilah yang rasanya menyentuh bukan saja intelectual academic saya. Tetapi juga menyentuh hati saya, jiwa saya, begitu,” kata Ratna. Gizi, kata Ratna, adalah food for the phyisical body, sedangkan masalah-masalah pendidikan anak dan keluarga menurutnya merupakan food for the soul. “Keduanya sama saja, makanan juga. Bedanya yang satu makanan tubuh satu lagi makanan jiwa,” jelas Ratna berkata mantap.

Ratna mengamati fenomena atau persoalan anak dan keluarga telah dianggap sebagian besar masyarakat sebagai bagian kehidupan sehari-hari yang biasa-biasa saja. Bahkan sudah dianggap sebagai taken for granted yang tidak terlalu penting untuk dirasakan. Namun setelah Ratna mempelajari anak dan keluarga sebagai teori ternyata persoalannya luar biasa menarik sekali. Di dalamnya terdapat unsur spiritual, masalah komitmen, dan beragam masalah lain.

Ratna lalu memutuskan masalah anak dan keluarga menjadi bidang yang akan dikembangkan setibanya di Indonesia. Tahun 1993, Ratna menyelesaikan post doctoral program dan menjadikan manuskrip hasil penelitiannya bersama profesornya Prof. Marian Zeitlin, terbit sebagai buku berjudul “Strengthening The Family: Implications for International Development”, oleh United University Press, Tokyo, tahun 1995.

Menemukan kesenangan baru, Ratna bersedia segera pulang lebih awal ke Indonesia Januari 1993. Padahal Sofyan Djalil masih menulis disertasi untuk menyelesaikan S-3. Mereka berpisah enam bulan sebab baru pada Juni 1993, Sofyan bisa kembali.

Tiba di Indonesia dan kembali ke IPB Bogor, Ratna menemukan sudah banyak sekali kawan-kawannya yang ahli Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Setahun pertama kepulangannya, Ratna masih mengajar mata kuliah food economics and nutrition planning. Tapi hatinya sungguh-sungguh sudah tak lagi di situ. Ratna mengetahui bidang keluarga masih baru berkembang itu pun lambat dan kecil jumlahnya.

Ke fakultasya, Ratna mengajukan permohonan untuk membuka mata kuliah wajib baru Pengantar Teori Keluarga. Ratna berpendapat institusi keluarga harus diberikan secara teori kepada setiap mahasiswa jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Sebab di jurusan itu ada unsur paradigma politik dan filsafat. Ratna harus mengajarkan teori marxisme, komunisme, sejumlah teori-teori yang bersifat fungsional dan semua teori tentang pro dan kontra dalam keluarga supaya mahasiswa memiliki bekal dari segi paradigma.

“Jadi, bisa berpikir dalam konteks paradigma,” kata Ratna. Tak berhenti di situ. Ratna mengambil-alih mata kuliah Teori Keluarga Lanjut untuk setiap mahasiswa program S-2, kemudian membuka matakuliah baru Individu, Keluarga dan Masyarakat untuk mahasiswa S-3.

Membangung Bangsa Berkarakter
Selain menempuh pendidikan tinggi di negeri Paman Sam, Amerika Serikat, Ratna Megawangi bersama suami Sofyan Djalil mengalami kontemplasi hidup yang intens. Secara khusus mereka berdua pernah berkenalan dengan sejumlah aliran dalam sufisme. Sejumlah ilmu, teori dan filsafat kehidupan sudah cukup dimengerti dan melekat erat dalam diri mereka berdua.

Sejak tahun 2000, Ratna dan Sofyan sepakat berbuat sesuatu yang konkrit bagi bangsa yakni membangun bangsa berkarakter. Mereka memberanikan diri membangun Indonesia Heritage Foundation atau Yayasan Warisan Luhur Indonesia dengan modal nekat. Yayasan berhasil merekrut 12 orang mahasiswa terbaik IPB Bogor sebagai pengerja awal. Yayasan didirikan nekat sebab hanya dengan kapital kecil Rp 75 juta, hasil tabungan yang memang dipersiapkan untuk tujuan ini. Dengan seed money yang kecil tersebut, ternyata telah berhasil menarik beberapa donatur untuk mendukung program yayasan dalam mewujudkan visi yayasan “Membangung Bangsa Berkarakter”.

Terdapat sembilan pilar karakter nilai-nilai luhur universal yang ditanamkan kepada anak sejak dini usia prasekolah. Pertama, karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaaan-Nya; Kedua, kemandirian dan tanggungjawab; Ketiga, kejujuran/amanah, diplomatis; Keempat, hormat dan santun; Kelima, dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; Keenam, percaya diri dan pekerja keras; Ketujuh, kepemimpinan dan keadilan; Kedelapan, baik dan rendah hati, dan; Kesembilan, karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Kesembilan pilar karakter diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang selalu bekerja membuat orang mau selalu berbuat sesuatu kebaikan. Orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan acting the good berubah menjadi kebiasaan.

Setiap anak untuk tiba pada perilaku berkarakater kuat membutuhkan proses luar biasa sulit. “Nah, walaupun kita nggak ada feeling, ya, tapi kalau orang sudah terbiasa berbuat baik, sekali dia berbuat tidak baik sudah tidak enak. Jadi, kebiasaan itu menimbulkan suatu nurani yang rasa tidak enak, dia rasa malu,” kata Ratna.

Tahun 2001 pendidikan holistik berbasis karakter mulai diujicoba. Pada tahun 2003 dilakukan evaluasi internal, monitoring, perbaikan dan segala macam. Termasuk meneliti sekitar 600 anak didik yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa IPB. Mereka meneliti dampak pendidikan holistik berbasis sembilan karakter terhadap perilaku keseharian anak. Hasilnya ternyata luar biasa.

“Nah, tahun 2003, alhamdulilah hasil penelitian yang kami lakukan itu teryata promising. Jadi, anak-anak yang ikut program kami namanya: Semai Benih Bangsa atau SBB, dengan yang tidak atau yang masuk TK biasa, itu secara statistik signifikan lebih bagus karakternya yang sembilan pilar itu, dibandingkan dengan yang TK yang biasa,” kata Ratna. Tahun 2004 alumni lembaga sekolah yang diberi nama Institut Pengembangan Pendidikan Karakter sudah duduk di bangku SD kelas empat.

Ratna mendedikasikan diri sepenuhnya pada Yayasan. Sedangkan Sofyan Djalil sehari-hari bergiat sebagai profesional murni untuk mencukupi kebutuhan keluarga, mendirikan sekaligus menjadi managing partner sebuah perusahaan konsultan Sofyan Djalil and Partner (SDP). Ratna praktis berpenghasilan nol. Gaji bulanannya sebagai dosen di IPB tak pernah diambil. Sebab mengajar hanya satu dua kali seminggu dirasanya tak pantas menerima gaji. Itu lebih baik dia sumbangkan saja.

Ratna Megawangi yang berintegritas tinggi dan independen dalam bersikap, dalam sisi-sisi tertentu merasakan ada ketergantungan yang amat sangat terhadap suaminya, seperti secara emosional dan finansial. Namun ke mana-mana Ratna tak pernah membawa-bawa nama Sofyan Djalil. Baik sebelum apalagi setelah menjadi Menteri Komunikasi dan Informasi Kabinet Indonesia Bersatu.

Termasuk, selama ini Ratna tak pernah mencantumkan nama Sofyan atau Djalil atau Sofyan Djalil dalam nama lengkapnya, kecuali “Dr. Ir. Ratna Megawangi, M.Sc” saja. Ratna mengungkapkan sebuah tabir, ia malah tak banyak dikenal orang sebagai istri Sofyan Djalil. Sofyan sendiri telah meminta Ratna agar sebagai istri menteri tak perlu terlalu involved dalam keseharian kegiatan Ibu Dharma Wanita.

“Bahkan, suami saya juga bilang bahwa kamu adalah kamu. Ya, artinya kamu adalah Ratna Megawangi yang nggak ada embel-embelnya dengan Menteri Komunikasi ini. Kamu sudah dibangun dari awal begitu,” kata Ratna, yang tak akan mengubah diri hanya karena bersuamikan seorang menteri.

Ratna pun menggariskan akan menerapkan cost of benefit analisys dalam setiap pilihan pengambilan keputusan antara memosisikan diri sebagai istri menteri atau sebagai seorang pribadi Ratna Megawangi yang Direktur Eksekutif Yayasan Warisan Luhur Indonesia. Mana yang paling menguntungkan saja.

Misalnya jika pada waktu bersamaan, Ratna harus memilih antara mendampingi suami mengikuti acara jamuan makan kenegaraan, atau memberikan ceramah dan pelatihan kepada para guru pendidikan holistik berbasis karakter. Berdasarkan cst of benefit analisys, Ratna pasti akan memilih yang terakhir.

Karena guru-guru adalah corong dan ujung tombak di kelas. Kalau guru-guru sadar semua anak-anak akan berkarakter bagus. “Banyak guru-guru yang menangis setelah kita berikan pelatihan bagaimana memberikan pendidikan karakter secara holistik kepada anak. ‘Oh ternyata begitu, apa yang kami ajarkan selama puluhan tahun ini selalu dipersalahkan,” kata Ratna, mengutip komentar para guru yang baru melek mata setelah melihat betapa pentingnya menanamkan karakter pada anak didik sejak dini.

Ratna yang sedari kecil dididik mandiri, pekerja keras, hemat, berdisiplin tinggi, ketika dewasa tetap menjadi seorang wanita yang juga mandiri, independen, kritis, pekerja keras, toleran, dan berintelektual tinggi.

Perempuan yang selalu mengenakan busana muslimah ini adalah salah satu penerima penghargaan “80 Tokoh Wanita Muslim Paling Terkemuka Indonesia”, yang profilnya pernah dibukukan dalam “Profil Tokoh Wanita Muslim Indonesia,” tahun 2002. Tampil selalu berbusana muslimah, namun visi toleransi Ratna Megawangi begitu tinggi.

Ratna Megawangi bukan hanya tiga setengah tahun sudah menjadi kontributor tetap mengisi kolom “Titik Pandang”, tiap hari kamis di harian sore “Suara Pembaruan”, atau sebelumnya aktif menulis di harian “Kompas”.

Ratna Megawangi dalam buku terbarunya “Pendidikan Karakter Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa”, terbit Juli 2004, tak merasa enggan mengutip beberapa ayat firman Tuhan dari Alkitab Perjanjian Baru, seperti kitab Lukas sebagai referensi. Sedangkan kitab suci tak dapat dibatalkan, firman Tuhan itu ya dan amin alpha dan omega. Ratna juga penulis tetap di tabloid MQ milik KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym. Semuanya menggagas tentang pendidikan anak dan moral.

Kekritisan Ratna Megawangi tak luntur sedikitpun walau suaminya masuk ke dalam birokrasi pemerintah. Persoalan pajak adalah sekelumit saja sikap kritis yang diungkapkannya. Ratna Megawangi yang pada Pemilu Legislatif mengaku tidak memilih alias golput, sedangkan pada Pemilu Presiden memilih pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla. Pilihan itu dipastikannya didasarkan bukan karena suaminya anggota Tim Sukses SBY-JK.

Ratna mengkritisi kecenderungan pemerintah menggenjot pendapatan pajak tinggi. Ratna lebih suka dengan pajak yang rendah. Sebab dengan pajak rendah investasi akan meningkat, saving meningkat, terbentuk akhlak yang bagus sebab orang rajin bekerja demi meraih pendapatan, dengan tingkat saving tinggi akan tinggi pula tingkat investasi sehingga terbuka banyak lapangan kerja, orang bekerja sangat industrious, perputaran ekonomi menjadi marak.

Sedangkan pajak tinggi pasti akan membuat orang malas bekerja sebab apa-apa pendapatan selalu dipajakin, pekerja merasa di-punished, tabungan menipis, lalu berdampak tidak ada investasi.

Demikian juga janji-janji pemerintah berikut tuntutan masyarakat yang menginginkan serba gratis. Biaya pendidikan gratis pelayanan kesehatan gratis, itu, kata Ratna membuat rakyat menjadi sangat tergantung kepada pemerintah, rakyat menjadi tidak mandiri. Pada sisi lain untuk memenuhi pelayanan gratis serta untuk memperbesar pendapatan pajak Pemerintahan harus dibuat besar. Pada Pemerintahan yang besar terbuka peluang untuk cari kekayaan dan cenderung korup. “Di mana-mana perilaku birokrasi pasti inheren, embeded dengan perilaku yang tidak efisien,” kata Ratna Megawangi. ►e-ti/ht-ms

(sumber >> TokohIndonesia DotCom / Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

sumber:www.langitperempuan.com

Baca Selengkapnya......

Senin, 26 April 2010

Pidato Severn Suzuki, 12 th di Ruang Sidang PBB

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki. Seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children’s Organization ( ECO ).
ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak-anak yang mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak-anak lain mengenai masalah lingkungan.
Dan mereka pun diundang menghadiri Konferensi Lingkungan hidup PBB tahun 1992. Pada saat itu, Seveern yg berusia 12 tahun, memberikan sebuah pidato yang sangat kuat yang memberikan pengaruh besar (dan membungkam) beberapa pemimpin dunia terkemuka.
Apa yang disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun, hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, dan saat pidatonya selesai, ruang sidang yang penuh dengan orang-orang terkemuka berdiri dan memberikan tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun itu?
Inilah Isi pidato tersebut: ( sumber The Collage Foundation )


Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental Children Organization.
Kami Adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri.
Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil. Untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, Hari ini Disini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.
Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.
Saya berada disini mewakili anak-anak yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.
Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang-binatang yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya di seluruh planet ini karena kehilangan habitat nya. Kami tidak boleh tidak di dengar.
Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubang nya lapisan OZON.
Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.
Saya sering memancing di Vancouver bersama ayah saya, hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan-ikannya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang-binatang dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya – hilang selamanya.
Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang-binatang liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu-kupu. Tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal-hal tersebut masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.
Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah-masalah kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama seperti saya sekarang?
Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahannya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahannya tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!
Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah punah.
Dan anda tidak dapat mengembalikan hutan-hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir.
Jika anda tidak tahu bagaimana cara memperbaikinya.
TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!
Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, anggota perhimpunan, wartawan atau politisi – tetapi sebenarnya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan, paman dan bibi – dan anda semua adalah anak dari seseorang.
Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama – perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.
Saya hanyalah seorang anak kecil, namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama, dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.
Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.
Di negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. Walaupun begitu tetap saja negara-negara di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.
Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan – kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.
Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak-anak yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: “Aku berharap aku kaya , dan jika Aku kaya, Aku akan memberikan anak-anak jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal, cinta dan kasih sayang.”
Jika seorang anak yang berada dijalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?
Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak-anak tersebut berusia sama dengan saya, bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. Bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak-anak yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India.
Saya hanyalah seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.
Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak, anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.
Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.
Tidak menyakiti makhluk hidup lain, berbagi dan tidak tamak.
Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarkan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?
Jangan lupakan mengapa anda menghadiri konferensi ini. Mengapa anda melakukan hal ini – kami adalah anak-anak anda semua. Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak-anak mereka dengan mengatakan “Semuanya akan baik-baik saja”, “Kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan” dan “Ini bukanlah akhir dari segalanya”.
Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?
Ayah saya selalu berkata “Kamu akan selalu dikenang karena perbuatan mu bukan oleh kata-kata mu”
Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. Kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.
Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata-kata tersebut.
Sekian dan terima kasih atas perhatian nya.
***
Servern Cullis-Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh orang-orang penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya.
Setelah pidato nya selesai serempak seluruh orang yang hadir di ruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun itu.

dan setelah itu ketua PBB mengatakan dalam pidato nya..
“Hari ini Saya merasa sangatlah Malu terhadap Diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa penting na linkungan dan isi nya disekitar kita oleh Anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembar pun Naskah untuk berpidato, sedang kan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh assisten saya kemarin. Saya … tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun ”
Cerita ini benar-benar terjadi dan pidato severn Cullis-Suzuki itu benar-benar pidato yang dikatakan nya dalam pidato tersebut tanpa dilebih-lebihkan

sumber:internalmedia.wordpress.com

Baca Selengkapnya......

Kartini Bukan “Pahlawan Jender”

Sejarah Kartini telah disalahgunakan sesuai dengan kepentingan mereka. Kaum muslim telah dijauhkan dari Islam dengan dalih kebebasan, keadilan, dan kesetaraan jender

Oleh: Andi Perdana G*

TANGGAL 21 April bagi wanita Indonesia adalah hari yang khusus untuk memperingati perjuangan RA Kartini. Tapi sayangnya, peringatan tersebut sarat dengan simbol-simbol yang berlawanan dengan nilai yang diperjuangkan Kartini. Misalnya, penampilan perempuan berkebaya atau bersanggul, lomba masak, dan sebagainya yang merupakan simbol domestikisasi perempuan yang selalu digugat aktivis liberal-jender.

Suara emansipasi pun terasa lebih kuat pada bulan April karena Kartini dianggap sebagai pahlawan emansipasi wanita. Terlepas dari keterlibatan RA. Kartini sebagai pejuang dalam pemberdayaan perempuan di Indonesia, emansipasi sebenarnya diilhami dari gerakan feminisme di Barat.

Pada abad ke-19, muncul benih-benih yang dikenal dengan feminisme yang kemudian terhimpun dalam wadah Women’s Liberation (Gerakan Pembebasan Wanita).

Gerakan yang berpusat di Amerika Serikat ini berupaya memperoleh kesamaan hak serta menghendaki adanya kemandirian dan kebebasan bagi perempuan. Pada tahun 1960, isu feminisme berkembang di AS. Tujuannya adalah menyadarkan kaum wanita bahwa pekerjaan yang dilakukan di sektor domestik (rumah tangga) merupakan hal yang tidak produktif.

Kemunculan isu ini karena diilhami oleh buku karya Betty Freidan berjudul The Feminine Mystiquue (1963). Freidan mengatakan bahwa peran tradisional wanita sebagai ibu rumah tangga adalah faktor utama penyebab wanita tidak berkembang kepribadiannya. Ide virus peradaban ini kemudian terus menginfeksi tubuh masyarakat dan ‘getol’ diperjuangkan oleh orang-orang feminis.

Gencarnya kampanye feminisme tidak hanya berpengaruh bagi masyarakat AS pada saat itu, tetapi juga di seluruh dunia. Munculnya tokoh-tokoh feminisme di negeri-negeri Islam seperti Fatima Mernissi (Maroko), Nafis Sadik (Pakistan), Taslima Nasreen (Bangladesh), Amina Wadud (Malaysia), Mazharul Haq Khan, serta beberapa tokoh dari Indonesia seperti Wardah Hafidz dan Myra Diarsi, kemudian beberapa gerakan perempuan penganjur feminisme, seperti Yayasan Kalyanamitra, Forum Indonesia untuk Perempuan dan Islam (FIPI), Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK), Yayasan Solidaritas Perempuan, dan sebagainya, setidaknya menjadi bukti bahwa gerakan ini pun cukup laku di dunia Islam.

Bahkan tak hanya dari kalangan wanita, dari kalangan pria juga mendukung gerakan ini seperti Asghar Ali Engineer, Didin Syafruddin, dan lain-lain.

Dalam perjuangannya, orang-orang feminis seringkali menuduh Islam sebagai penghambat tercapainya kesetaraan dan kemajuan kaum perempuan. Hal ini dilakukan secara terang-terangan maupun ‘malu-malu’.

Yang menarik, tuduhan-tuduhan ‘miring’ itu tiba-tiba memasuki ranah hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan rumah tangga, seperti ketaatan istri terhadap suami, poligami dianggap sebagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan menimbulkan potensi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Sementara itu peran domestik perempuan yang menempatkan perempuan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, dianggap sebagai peran rendahan. Busana muslimah yang seharusnya digunakan untuk menutup aurat dengan memakai jilbab (Q.S Al-Ahzab:59) dan kerudung (Q.S An-Nur:31) dianggap mengungkung kebebasan berekspresi kaum perempuan. Lalu benarkah R.A Kartini dalam sejarahnya merupakan pahlawan emansipasi, sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis?

Andai Kartini Masih Hidup

Dalam buku Kartini yang fenomenal berjudul Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang), R.A Kartini saat itu menuliskan kegelisahan hatinya menyaksikan wanita Jawa yang terkungkung adat sedemikian rupa. Tujuan utama beliau menginginkan hak pendidikan untuk kaum wanita sama dengan laki-laki, tidak lebih. Ia begitu prihatin dengan budaya adat yang mengungkung kebebasan wanita untuk menuntut ilmu.

Kartini memiliki cita-cita yang luhur pada saat itu, yaitu mengubah masyarakat, khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan. Juga untuk melepaskan diri dari hukum yang tidak adil dan paham-paham materialisme, untuk kemudian beralih ke keadaan ketika kaum perempuan mendapatkan akses untuk mendapatkan hak dan dalam menjalankan kewajibannya.

Ini sebagaimana terlihat dalam tulisan Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902, yang isinya berbunyi;

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Menurut Kartini, ilmu yang diperoleh para wanita melalui pendidikan ini sebagai bekal mendidik anak-anak kelak agar menjadi generasi berkualitas. Bukankah anak yang dibesarkan dari ibu yang berpendidikan akan sangat berbeda kualitasnya dengan mereka yang dibesarkan secara asal? Inilah yang berusaha diperjuangkan Kartini saat itu.

Dalam buku tersebut Kartini adalah sosok yang berani menentang adat-istiadat yang kuat di lingkungannya. Dia menganggap setiap manusia sederajat sehingga tidak seharusnya adat-istiadat membedakan berdasarkan asal-usul keturunannya. Memang, pada awalnya Kartini begitu mengagungkan kehidupan liberal di Eropa yang tidak dibatasi tradisi sebagaimana di Jawa. Namun, setelah sedikit mengenal Islam, pemikiran Kartini pun berubah, yakni ingin menjadikan Islam sebagai landasan dalam pemikirannya. Kita dapat menyimak pada komentar Kartini ketika bertanya pada gurunya, Kiai Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat Semarang, sebagai berikut:

“Kiai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa? Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Demikian juga dalam surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902 yang isinya memuat, “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”

Selain itu Kartini mengkritik peradaban masyarakat Eropa dan menyebutnya sebagai kehidupan yang tidak layak disebut sebagai peradaban, bahkan ia sangat membenci Barat. Hal ini diindikasikan dari surat Kartini kepada Abendanon, 27 Oktober 1902 yang isinya berbunyi, “Sudah lewat masamu, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik sesuatu yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?”

Selanjutnya di tahun-tahun terakhir sebelum wafat ia menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu Islam. Pada saat Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya dan mengkaji isi Al-Qur’an melalui terjemahan bahasa Jawa, Kartini terinspirasi dengan firman Allah SWT (yang artinya), “…mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) (QS al-Baqarah [2]: 257),” yang diistilahkan Armyn Pane dalam tulisannya dengan, “Habis Gelap Terbitlah Terang.”

Demikianlah, Kartini adalah sosok yang mengajak setiap perempuan memegang teguh ajaran agamanya dan meninggalkan ide kebebasan yang menjauhkan perempuan dari fitrahnya. Beberapa surat Kartini di atas setidaknya menunjukan bahwa Kartini berjuang dalam kerangka mengubah keadaan perempuan pada saat itu agar dapat mendapatkan haknya, di antaranya menuntut pendidikan dan pengajaran untuk kaum perempuan yang juga merupakan kewajibannya dalam Islam, bukan berjuang menuntut kesetaraan (emansipasi) antara perempuan dan pria sebagaimana yang diklaim oleh para pengusung ide feminis. Kini jelas apa yang diperjuangkan aktivis jender dengan mendorong perempuan meraih kebebasan dan meninggalkan rumah tangganya bukanlah perjuangan Kartini.

Feminisme untuk Menipu

Sejarah Kartini telah disalahgunakan sesuai dengan kepentingan mereka. Kaum Muslim telah dijauhkan dari Islam dengan dalih kebebasan, keadilan, dan kesetaraan jender.

Refleksi perjuangan Kartini saat ini sangat disayangkan karena banyak disalahartikan oleh wanita-wanita Indonesia dan telah dimanfaatkan oleh pejuang-pejuang feminisme untuk menipu para wanita, agar mereka beranggapan bahwa perjuangan feminisme memiliki akar di negerinya sendiri, yaitu perjuangan Kartini. Mereka berusaha menyaingi laki-laki dalam berbagai hal, yang kadangkala sampai di luar batas kodrat sebagai wanita. Tanpa disadari, wanita-wanita Indonesia telah diarahkan kepada perjuangan feminisme dengan membawa ide-ide sistem kapitalisme yang pada akhirnya merendahkan dan menghinakan derajat wanita itu sendiri.

Sistem kapitalisme sejatinya telah menghancurkan kehidupan manusia, termasuk kaum hawa (perempuan). Akibat diterapkan sistem kapitalisme, terjadi himpitan ekonomi sehingga tidak sedikit perempuan lebih rela meninggalkan suami dan anaknya untuk menjadi TKW, misalnya, meskipun nyawa taruhannya. Ribuan kasus kekerasan terhadap mereka terjadi. Mereka disiksa oleh majikan hingga pulang dalam keadaan cacat badan, bahkan di antaranya ada yang akhirnya menemui ajal di negeri orang. Sebagaimana yang dialami derita seorang TKW asal Palu, Susanti (24 tahun), yang kini tak bisa lagi berjalan karena disiksa majikannya (Liputan6.com, 9/3/2010).

Maraknya perdagangan perempuan dan anak-anak (trafficking) pun terjadi. Pada Desember 2009 ditemukan 1.300 kasus perdagangan manusia dan pengiriman tenaga kerja ilegal dari Nusa Tenggara Timur (Vivanews.com, 15/12/2009). Sekitar 10.484 wanita yang berada di Kota Tasikmalaya Jawa Barat rawan dijadikan korban trafficking. Pasalnya, mayoritas di antara mereka berstatus janda serta berasal dari kalangan yang rawan sosial dengan taraf ekonomi rendah (Seputar-indonesia.com, 1/4/2010).

Di Kabupaten Cianjur Jawa Barat kasus trafficking dan KDRT tercatat 548 kasus. Tidak sedikit dari mereka menjadi korban dan dipekerjakan sebagai pekerja seks komersil (PSK) (Pikiranrakyat.com, 23/3/2010). Fakta-fakta tersebut setidaknya memberikan gambaran kepada kita bahwa sistem kapitalisme telah gagal dalam memuliakan wanita.

Habis Gelap Terbitlah Islam

Upaya meneladani perjuangkan Kartini seharusnya bukanlah kembali pada ide-ide feminis dengan membawa ide kapitalisme yang absurd, melainkan kembali pada sistem syariah Islam (ideologi Islam), yang dalam rentang masa kepemimpinannya selama 13 Abad mampu memposisikan wanita pada kedudukannya yang teramat mulia, maka wajar bila desas desus diskriminasi perempuan ketika diterapkan ideologi Islam tidak pernah terdengar.

Di muka bumi ini laki-laki maupun perempuan diposisikan setara. Derajat mereka ditentukan bukan oleh jenis kelamin, tetapi oleh iman dan amal saleh masing-masing. Sebagai pasangan hidup, laki-laki diibaratkan seperti pakaian bagi perempuan, dan begitu pula sebaliknya. Namun dalam kehidupan rumah-tangga, masing-masing mempunyai peran tersendiri dan tanggung-jawab berbeda, seperti lazimnya hubungan antarmanusia.

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, laki-laki dan perempuan dituntut untuk berperan dan berpartisipasi secara aktif, melaksanakan amar ma’ruf dan nahi munkar serta berlomba-lomba dalam kebaikan.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah. laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” Demikian firman Allah dalam al-Qur’an (Q.S al-Ahzab: 35).

Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan bahwa sesungguhnya perempuan itu saudara laki-laki (an-nisâ’ syaqâ’iqu r-rijâl) (HR Abu Dâwud dan an-Nasâ’i).

 Meskipun di kalangan muslim pada kenyataannya masih selalu dijumpai diskriminasi terhadap perempuan, namun yang mesti dikoreksi adalah sistemnya, bukan agamanya. Di tanah kelahirannya sendiri, gerakan feminis dan kesetaraan gender masih belum bisa menghapuskan sama sekali berbagai bentuk pelecehan, penindasan, dan kekerasan terhadap perempuan. Maka sekarang sudah saatnya baik laki-laki dan perempuan berjuang untuk mengganti sistem kapitalisme sekuler dengan sistem Islam, yakni dengan menerapkan sistem syariah Islam secara kaffah dalam wadah khilafah Islamiyah sebagai wujud ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Karena hanya dengan sistem syariah Islam saja wanita dimuliakan. Karena itu harusnya, semboyan Kartini di masa lalu, harus lebih maju kita tingkatkan; dari “Habis Gelap, Terbitlah Terang” menjadi “Habis Gelap Terbitlah Islam.”

Penulis adalah Ketua umum Majelis Ta’lim Al-Marjan FPIK IPB 2007-2008 dan Bendahara Umum LDK BKIM) IPB 2006-2007

sumber:www.hidayatullah.com

Baca Selengkapnya......

Tanpa TV Anak Berfikir Lebih Luas

Pengaruh televisi dalam keluarga Indonesia tampaknya sudah demikian kuat menyatu dengan keseharian masyarakat. Data Bank Dunia tahun 2004 menunjukkan, ada 65 persen lebih rumah tangga pemilik televisi di Indonesia. Bentuk media audio visual yang menarik dan lengkap dari si ”tabung ajaib” menjadikan ia lebih digandrungi dibandingkan dengan produk budaya lain, seperti buku. Hiburan yang disajikan mampu menarik mayoritas penduduk menekuni tayangan televisi dalam kegiatannya sehari-hari. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2006, lebih tiga perempat (86 persen) dari seluruh penduduk usia 10 tahun ke atas di Indonesia memiliki aktivitas rutin mengikuti acara televisi dalam seminggu. Tapi jumlah itu tak termasuk Mohammad Fauzil Adhim (38), pria yang namanya melejit lewat bukunya “Kupinang Engkau dengan Hamdalah” (1977) justru tak memiliki TV. Mungkin akan terasa janggal bagi semua orang. Bagaimana cara dia menjelaskan pada anak tanpa hiburan TV di rumah? Berikut petikannya wawancara dengan laki-laki kelahiran Mojokerto, Jawa Timur pada 29 Desember l972 ini.


Oleh : Fauzil Adhim

Apa alasan Anda menolak TV di rumah?

Saya tidak menolak, tapi karena saya melihat tidak ada alasan yang membuat TV layak untuk dipelihara di rumah, sehingga saya tidak memelihara TV.

Sejak kapan itu Anda lakukan?

Memang sejak awal saya sudah tidak memelihara TV. Tapi suatu saat, karena penasaran ingin tahu seperti apa sih TV sekarang, saya dan istri pernah juga mencoba menyewa TV. Nah, pada saat TV itu distel, justru anak pertama saya, Fathimah yang memprotes, dan minta TV itu dimatikan. Sampai dia bilang,”Ibu dimatiin, kok Ibu suka sih nonton film yang jelek-jelek. Itu kan nggak bagus.” Makanya TV akhirnya dimatikan dan kita tidak pernah nyewa lagi.

Mudharatnya apa?

Tidak ada stasiun TV yang mengudarakan acara yang benar-benar mengaktifkan otak anak, dan menggugah anak terlibat dalam proses berfikir. TV justru menyedot perhatian anak yang dalam jangka panjang bisa mempasifkan otaknya. Belum lagi soal content (isi). Film-film yang ditayangkan maupun iklan pariwaranya sebagian besar tidak layak untuk dikonsumsi anak. Katakanlah misalnya ada acara yang cukup bagus, itu saja mengenaskan.

Berarti Anda tidak butuh TV?

Saya merasakan tidak ada kebutuhan dari TV. Karena itu mengapa saya harus mengeluarkan biaya yang cukup besar. Menurut saya hiburan yang paling mahal ya TV. Untuk mendapatkan sampah kita harus mengeluarkan biaya jutaan rupiah, padahal dengan dana segitu, kita bisa membelikan anak-anak kita ensiklopedi, atau bisa kita belikan komputer atau buku, atau hal-hal lain yang jelas manfaatnya.

Di TV kan juga ada tayangan pendidikan yang bermanfaat untuk anak?

Pertama, Ayat Al-Quran bisa ditempelkan di tissue, di kaleng bir. Tapi kalau ada tulisan bismillah di kaleng bir bukan berarti birnya halal. Khamr pun dikatakan ada manfaatnya, tapi kenapa diharamkan? Berarti ada manfaatnya tidak cukup untuk menjadikan sesuatu itu halal. Kedua, tayangan-tayangan yang diperuntukkan anak-anak sebagian besar tidak dikemas sesuai dengan perkembangan anak, dan tidak dikemas untuk merangsang kemampuan berpikir aktif maupun konstruktif, sehingga anak hanya menjadi pihak yang mengalami terpaan exposure dari berbagai tayangan TV.

Bagaimana dengan kebutuhan informasi yang bisa didapatkan di TV?

Sumber informasi, sumber untuk mendapatkan kebutuhan psikis berupa perhatian, kebutuhan untuk mendengarkan itu ada pada orang tua, dan orang-orang penting lainnya dalam keluarga. Kalau dalam ilmu psikologi dikenal dengan significant person atau significant others. Sejauh ini, sepanjang yang saya tahu, kualitas attachment yang baik meningkatkan kreatifitas anak, meningkatkan kecerdasan anak dan meningkatkan percaya diri anak. Anak cenderung akan memiliki konsep diri yang bagus dan cenderung lebih bisa mengelola dirinya.

Apa dampak lebih jauh dari menonton TV?

Sejauh yang saya pahami sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh ahli-ahli psikiatri Amerika Serikat, tayangan TV yang sering disaksikan anak adalah tayangan-tayangan yang tidak dikemas untuk anak, sehingga banyak menonton TV menyebabkan anak otaknya pasif dan cenderung tidak suka berpikir. Dan jika anak tidak suka berpikir, maka anak cenderung tidak mampu mengkomunikasikan perasaannya dengan baik. Dan itu berarti menambah kesulitan kita dalam mendidik anak.

Bagaimana respon anak dengan tidak adanya TV di rumah?

Anak-anak memang saya didik untuk suka membaca. Karena itu mereka cenderung bisa mengungkapkan gagasannya dengan lebih baik. Dan anak-anak yang suka membaca itu cenderung memiliki informasi yang lebih kaya. Bahkan terkadang kalau sudah seperti itu, anak-anak malah suka usul pada saya. Misalnya Fathim, ketika melihat gambar mobil yang ada TV-nya, justru mengatakan pada saya, ”Bapak kalau mau beli mobil tak usah pakai TV, karena di TV banyak yang jelek.”
Bagaimana Anda menjelaskan kepada Anak?

Jadi yang penting prosesnya. Kalau anak langsung dilarang, anak akan penasaran. Tapi cukup dengan dialog. Sebagaimana sekarang Fathimah ndak mau makan di Kentucky Fried Chicken, Mc Donald, ndak mau minum air mineral yang mereknya Aqua dan Ades. Semua itu bisa ditanamkan karena ada dialog, kalau semua itu produk boikot. Begitu juga dengan menyikapi TV, harus ada dialog.

Pernah ditanyai anak tentang TV?

Saya pernah ditanya anak, ”Bapak kok nggak punya TV. Kata temanku kalau ndak punya TV berarti miskin.” Ini kan berarti social pressure, tekanan-tekanan masyarakat. Nah di sinilah saya perlu menjelaskan setepat-tepatnya. Ya karena kebetulan Allah memberikan rezeki pada saya maka saya gantikan dengan benda-benda yang ada manfaatnya, dan harganya melebihi TV, seperti ensiklopedi. Sekarang anak saya punya 3 ensiklopedi. Itu memberikan pemahaman pada anak bahwa ini lebih berharga dari TV, dan saya memperkuat dengan dialog bahwa ini lebih baik dari TV.
Apa pengganti TV, selain ensiklopedi?

Kalau anak sudah senang buku apakah kemudian dia masih ingin mencari ganti yang lain. Jadi tidak sekedar ensiklopedi, tapi komputer, buku atau bacaan-bacaan lainnya. Atau juga ketika anak-anak butuh hiburan, saya belikan tenda yang mereka bisa bermain di sana.

Anak-anak tidak bosan baca ensiklopedi dan buku terus-terusan?

Kalau otak anak itu aktif, maka dia akan cenderung aktif mencari. Kalau dia sudah bosan membaca, maka dia akan mencari kegiatan yang inovatif lainnya. ketika anak-anak suka membaca, maka mereka cenderung komunikatif, lebih mampu mengungkapkan perasaannya. Misalnya, suatu saat anak saya minta dibelikan buku. Untuk apa? Dia mau menulis buku harian. Selain itu, ketika dia tidak terlalu fokus pada TV, saya lihat mereka cenderung menyukai benda-benda intelektual, seperti memotret sendiri. Ia mengembangkan berbagai macam keterampilan karena pikirannya berkembang. Pikirannya tidak tersedot oleh bayangan yang sebenarnya tidak diperlukan itu.

Nilai positif rumah tanpa TV?

Tanpa TV anak akan memiliki kesempatan berfikir yang lebih luas, anak akan mengembangkan inisiatif-inisiatif yang lebih aktif dan progresif. Sementara dengan adanya TV anak siap untuk dicekoki. Anak belum sempat berpikir sudah dijejali dalam tempo yang sangat tinggi. Ketika anda melihat TV, maka dalam 1 menit akan terjadi perubahan-perubahan gambar yang luar biasa cepatnya. Padahal masa kanak-kanak adalah masa yang paling pesat perkembangan otaknya. Semestinya pada masa itulah rangsang-rangsang otak itu dimaksimalkan. Anak betul-betul diberi pengayaan rangsang otak yang luar biasa.

Mengapa demikian?

Otak itu berkembang dari usia 0 – 6 tahun, dan porsinya mencapai 80 %. Sementara sisanya yang 20 % terjadi pada usia-usia berikutnya. Dari usia itu, yang lebih penting lagi adalah 18 bulan pertama usia anak. 20% perkembangan otak terjadi pada usia itu. Maka alangkah sayangnya jika pada usia-usia yang sangat strategis ini justru anak-anak tidak memperoleh rangsangan yang maksimal. Dan sebaliknya justru hanya memperoleh exposure dari TV. Padahal banyak kegiatan lain yang bisa merangsang daya nalar anak, contohnya membaca.

Dampak anak yang suka menonton TV?

Saya kira anak yang biasa menonton TV, maka di sekolah pun TV memiliki daya tarik yg lebih besar baginya. Karena itu sekolah tidak menjadi surga baginya. Karena di TV anak tidak akan banyak dapat informasi. Ada kasus yang pernah saya dapatkan, ketika ada orang tua yang membawa anaknya, saya kira dia ini idiot sehingga dia tidak naik kelas dan nilainya nol semua, tapi ternyata anak ini tidak idiot. Ia lebih senang nonton TV dan main game, sehingga ketika di kelas, pikirannya tidak di kelas, tapi di rumah, yaitu di TV.

sumber : www.hidayatullah.com

Baca Selengkapnya......

Antusiasme yang Menyala

Monday, 11 January 2010 11:45

Jika Anda belajar dalam keadaan sangat bergairah, Anda akan lebih mudah mengingat sekaligus memahami apa yang Anda pelajari

Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Pernahkah bayi Anda sakit? Apa yang terjadi padanya? Ya, dia akan rewel jika sakitnya sudah benar-benar sangat mengganggu. Lebih-lebih pada malam hari ketika kantuknya datang dan mata tak kunjung bisa terpejam. Tetapi begitu dia mulai sedikit sehat (belum sehat betul), rasa sakit yang mendera tak dirasakannya lagi. Ia bermain-main dengan gembira. Tertawa renyah, berlari-lari, dan berceloteh. Padahal badannya masih panas, nafasnya masih tersengal, dan batuknya belum sepenuhnya reda.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari anak-anak kita yang lucu itu? Fokus dan antusiasme. Pada saat perhatian kita fokus pada satu hal, kita cenderung tidak peka terhadap hal-hal lain sekalipun itu sebenarnya kurang nyaman bagi diri kita. Rasa sakit kita “menghilang” karena hampir seluruh energi kita mengarah pada sesuatu yang menjadi fokus kita. Semakin kuat fokus kita, semakin besar perhatian kita, serta semakin tinggi kepekaan kita terhadap hal tersebut. Pada saat yang sama kita cenderung “mengabaikan” hal-hal lain.

Ketika fokus perhatian saya terhadap pendidikan anak sangat kuat, membaca buku sejarah atau politik pun memantik insight (semacam “aha…!”, “oya, ya…”) tentang pendidikan anak. Saya menulis buku Salahnya Kodok misalnya, bukan karena membaca buku-buku psikologi anak. Tetapi saya membaca tentang Jepang, Amerika, dan Israel; bagaimana mereka menanamkan sikap politik. Saya tercenung sejenak, lalu melihat ada yang keliru pada kita saat anak terjatuh. Bukan mengajarinya memahami apa yang terjadi, apa konsekuensinya dan tindakan apa yang perlu dilakukan untuk masa-masa berikutnya. Tetapi kita menyalahkan sekeliling dan bila perlu melakukan tindakan naif untuk mencari pembenaran.

"Hush, itu ayamnya yang nakal.” Kita hibur anak sembari melemparkan sandal kita ke arah ayam di seberang sana, atau kita salahkan lantai yang tak bersalah, dan jadilah anak kita belajar menjadi pengecut. Anak terhibur, tetapi kehilangan kesempatan belajar. Anak segera reda tangisnya, tetapi kehilangan daya tahan menghadapi tantangan. Ia belajar melemahkan dirinya sendiri karena orangtua mengajarkannya demikian. Ia tidak belajar memahami tindakannya dan mengendalikan sekeliling. Ia hanya belajar mengendalikan orangtua dan menyalahkan sekeliling. Dan inilah tragedi yang kita tanam sendiri pada jiwa anak-anak kita!

Kembali ke fokus. Kuatnya fokus membuat otak kita semakin cemerlang. Kita mengingat dengan baik bukan karena menghafal, tetapi karena fokus yang kuat memberi sinyal pada otak bahwa informasi itu berharga. Dan Anda tahu, ada dua hal yang membuat otak kita mengingat dengan lebih baik: perhatian dan makna. Sesuatu bisa memiliki makna yang bagi kita karena berhubungan erat dengan kepentingan kita. Ketika Anda bermusuhan dengan seseorang, Anda lebih mudah mengingat informasi tentang keburukannya. Anda juga lebih cepat melihat hubungan antara sebuah peristiwa dengan kesalahan atau keburukan orang yang sangat tidak Anda sukai.

Bermakna tidaknya informasi bisa juga berkait dengan nilai-nilai ideologis yang mempengaruhi jiwa kita. Lebih-lebih jika nilai itu benar-benar telah menjadi daya penggerak (driving force) bagi hidup kita, maka tingkat kepekaan kita akan meningkat dan segala hal yang berkaitan semakin bermakna.

Itu sebabnya, kita perlu menggerakkan anak-anak kita dengan tujuan yang sifatnya ideologis. Kita berusaha agar agama menjadi daya penggerak bagi hidupnya, sehingga membentuk reason for being "semacam alasan untuk bertindak" bagi anak-anak kita. Sesungguhnya, motivasi itu berkait erat dengan apa yang menggerakkan kita untuk bertindak, apa yang ingin kita capai, dan cita-cita besar yang ingin kita raih.

Dalam keadaan termotivasi (motivated), fokus kita akan semakin kuat. Dan kita baru saja melihat bahwa kuatnya ingatan kita berkait erat dengan perhatian dan makna.

Penjelasan ini memahamkan kita mengapa anak-anak generasi salafush-shalih sangat cemerlang otaknya. Anak-anak itu fokusnya terjaga dan motivasinya menyala-nyala karena agama. Persoalannya, apakah kita sudah cukup layak untuk menjadi orangtua? Orangtua yang tidak sekedar lebih tua umurnya daripada anak!

Lalu apa yang melemahkan fokus? Hadiah dan gengsi. Kita perlu memberi hadiah pada anak untuk menunjukkan rasa sayang kita. Bukan untuk “menggaji” perbuatan baiknya, sebab ini akan melemahkan. Kita bisa memberi mereka iming-iming, tetapi bukan sesuatu yang bisa diraih hanya dengan satu perbuatan, saat ini juga, sekarang juga. Kita bangun mimpi mereka tentang surga, sembari membangun harapan kita sendiri untuk bisa meraih surga. Tetapi surga tidak bisa Anda raih seketika. Anda harus mati dulu. Itu pun tidak cukup untuk memastikan kita masuk surga. Mati bukan jalan masuk surga. Harus ada amal shalih. Itu pun tak cukup. Amal shalihnya harus yang diridhai, sebagaimana diamanahkan dalam surat Al-Ahqaaf ayat 15.

Mengenai gengsi, pada awalnya anak tidak pusing-pusing dengan baju apa yang ia pakai. Mahal atau tidak, bermerek atau tidak, anak tidak peduli. Kitalah yang mengajari mereka untuk malu memakai baju hadiah, sehingga pikiran yang seharusnya fokus pada keunggulan, jadi terpecah karena penampilan.

Tentu saja anak-anak harus berpakaian pantas. Tapi yang harus kita ajarkan adalah alasan mendasar di balik itu. Jadi, ada tujuan di balik tindakan.

Astaghirullahal adzim. Rasanya saya belum pantas menjadi orangtua untuk anak-anak saya. Banyak sekali kekurangan yang masih melekat pada diri saya.

Antusiasme

Kekuatan lain anak kita adalah antusiasme yang menyala. Secara sederhana, antusiasme adalah perasaan yang kuat, rasa senang, kegairahan dan semangat terhadap sesuatu. Ketika anak belajar berjalan, ia benar-benar merasa senang dengan proses belajar berjalan yang ia lakukan. Tidak peduli berapa kali dia jatuh, tak peduli lecet-lecet lututnya. Mungkin ia menangis sesaat sebagai reaksi terhadap rasa sakit di badan, tetapi ia segera kembali belajar berjalan dengan sungguh-sungguh, penuh semangat dan senang. Karena antusias, anak belajar dengan mudah apa yang sulit dipelajari. Karena antusiasme yang tinggi pula, anak tetap bersemangat ketika harus berkali-kali jatuh dan gagal. Ia tidak putus asa.

Setiap anak lahir dengan antusiasme yang sangat tinggi. Ia selalu tergerak untuk belajar dan belajar. Ia melakukan berbagai hal yang membantunya segera mampu melakukan berbagai aktivitas yang semula tidak mungkin ia lakukan.

Berbekal antusiasme yang sangat tinggi, anak melakukan proses belajar dengan sangat cepat. Salah satunya, dalam keadaan antusias, otak memproses informasi dan pengalaman dengan lebih baik. Jika Anda belajar dalam keadaan sangat bergairah, Anda akan lebih mudah mengingat sekaligus memahami apa yang Anda pelajari. Belajar terasa menyenangkan bukan karena materi pelajarannya yang mengajak kita bersenang-senang, tetapi perasaan kita yang kuat membuat apa pun yang kita pelajari 'sekalipun sulit' terasa menyenangkan.

Dari sini kita bisa memahami mengapa ada TK (Taman Kanak-kanak) yang sengaja tidak mengajarkan menyanyi. TK model ini menyelenggarakan kegiatan belajar yang menyenangkan dengan terutama membangun kedekatan emosi antara guru dan anak, merangsang antusiasme anak untuk belajar, mengobarkan motivasi yang kuat dan membangun karakter yang kuat. Guru merancang model kegiatan yang terasa alamiah, spontan, menyenangkan dan antusias. Dengan demikian, tidak adanya menyanyi bukan membuat anak tertekan. Karena prinsip pokok pembelajaran usia dini adalah menyenangkan. Jika menyanyi tidak menyenangkan bagi anak, mereka tidak boleh dipaksa untuk menyanyi. Bukankah anak bisa mengalami proses belajar yang menyenangkan dan penuh gairah hanya jika antusiasme anak menyala-nyala?

TK tanpa nyanyi ini sudah ada di beberapa negara. Salah satu keunggulan yang menonjol dari TK model ini adalah pembangunan karakter pada anak.

Saya ingin berbicara lebih lanjut tentang TK yang berkembang pertama kali di Austria ini. Tetapi kali ini bukan kesempatan yang tepat. Kali ini saya hanya ingin mengajak Anda untuk melihat betapa besarnya kekuatan yang bernama antusiasme. Tugas kitalah untuk menjaganya dan mengarahkan pada aktivitas yang terbaik. Salah satunya dengan membangun kekuatan motivasi saat anak-anak berada di jenjang TK dan SD.

Secara keseluruhan, fokus dan antusiasme pada orang-orang dewasa bisa kita temukan pada mereka yang ikhlas dan istiqamah. Karena ikhlas, mereka bersungguh-sungguh dan melakukan kegiatan serta amal shalih secara total.

Energi keikhlasan itulah yang perlu kita bangun pada anak di tahap awal kehidupannya di sekolah. Wallahu a'am bish-shawab.

sumber:www.hidayatullah.com

Baca Selengkapnya......