Harus ada keyakinan kuat yang mereka pegangi agar bisa tegak kepalanya, mantap langkahnya, jelas tujuannya dan ada alasan yang kuat untuk bertindak dan bekerja keras. Keyakinan kuat kepada Allah Yang Maha Menciptakan hampir tidak ada artinya jika tidak ada petunjuk yang pasti benarnya untuk hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya. Ringkasnya, petunjuk itu harus pasti dan meyakinkan. Betul-betul petunjuk dari Allah 'Azza wa Jalla. Bukan rekaan.
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim *
Tak kalah pentingnya untuk diperhatikan, petunjuk itu haruslah menjadi pijakan dalam bertindak, berpikir dan bersikap. Mengacu pada petunjuk, kita mengarahkan pikiran, sikap, keinginan dan tindakan kita. Berpijak pada petunjuk, kita membangkitkan mimpi-mimpi dalam diri kita untuk meraihnya sekaligus memperoleh kebaikan dari usaha maupun hasilnya. Petunjuk menjadi daya penggerak (driving force) untuk bertindak, berjuang, bersungguh-sungguh dan berkorban untuk menjalani serta mewujudkan cita-cita yang bersifat
moralistik-idealistik.
Apakah petunjuk yang pasti benarnya itu? Al-Qur'an. Allah Ta'ala menjamin, 'Alif Laam Miim. Kitab (al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat." (Al-Baqarah [2]: 1-4).
Tetapi Al-Qur'an tidak memberi manfaat jika kita menggunakannya sebagai pembenaran atas pendapat dan keinginan kita, bukan sebagai sumber kebenaran. Kita kehilangan petunjuk. Pada saat yang sama, sikap itu membuat anak-anak kehilangan kepercayaan terhadap al-Qur'an, meski secara kognitif mengakuinya sebagai kitab suci. Hilangnya kepercayaan itu secara pasti akan menyebabkan anak kehilangan rasa hormat terhadap kesucian agama sehingga hampir tidak mungkin menjadikannya sebagai pembentuk sikap hidup yang kokoh.
Maka, kita perlu menghidupkan budaya mengambil petunjuk dari al-Qur'an semenjak anak-anak masih amat belia. Kita mengakrabkan mereka dengan kebiasaan mengenali bagaimana kemauan al-Qur'an dalam setiap urusan sekaligus membuktikan kebenaran al-Qur'an. Kita membiasakan mereka untuk mencerna ayat al-Qur'an, lalu mengajak mereka menemukan apa yang harus mereka kerjakan berdasarkan ayat-ayat tersebut.
Ini berarti, kita memperkenalkan tradisi mendeduksikan pesan-pesan al-Qur'andalam pemahaman. Artinya, bermula dari ayat al-Qur'an kita belajar merumuskan sikap dan tindakan. Bermula dari al-Qur'an, kita mengarahkan perasaan dan pikiran kita. Berpijak pada al-Qur'an kita menilai segala sesuatu. Dalam hal ini, al-Qur'an menjadi penilai, penjelas dan pembeda.
Cara memperkenalkan al-Qur'an semacam ini lebih sempurna jika orangtua maupun guru memiliki kecakapan untuk memahami 'maksud al-Qur'an yang sebenarnya' sebelum mengeksplorasi lebih jauh. Hal ini kita lakukan dengan membiasakan anak memahami maksud tiap ayat berdasarkan tafsir yang otoritatif, yakni tafsir baku yang semua mufassir terpercaya menerimanya. Tanpa memahami maksud yang sebenarnya, kita bukannya mengambil petunjuk dari al-Qur'an, tetapi menjadikan al-Qur'an sebagai penguat dari pendapat kita tanpa kita menyadari.
Contoh sederhana. Dalam al-Qur'an, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendirian." (Ar-Raad [13]: 11).
Penggalan ayat ini sering menjadi argumentasi mereka yang sedang meyakinkan saudara-saudaranya untuk melakukan perubahan nasib. Padahal ayat ini sebenarnya menunjukkan bahwa pada dasarnya Allah Ta'ala limpahkan kebaikan dan kemuliaan kepada kita sampai jiwa kita berubah.
Nah.
Contoh sederhana ini menunjukkan betapa pentingnya kita menghidupkan budaya mengambil petunjuk secara tepat. Sebab, salah dalam mengambil petunjuk "meski sumber petunjuknya benar" akan salah pula tindakan yang kita ambil.
Di sini kita perlu berhati-hati. Pemahaman, perasaan, sikap, keyakinan dan tidak terkecuali tindakan, banyak berawal dari perkataan. Cara kita mengungkapkan, sangat berpengaruh terhadap pemahaman, penghayatan dan keyakinan. Sangat berbeda akibatnya bagi keyakinan anak terhadap al-Qur’an. Salah cara kita berbicara, salah pula sikap anak terhadap al-Qur'an sebagai petunjuk untuk masa-masa selanjutnya.
Sangat berbeda pengaruhnya bagi pikiran ketika kita berkata, "Begitulah Allah Ta'ala berfirman. Karena itu", kita perlu berusaha dengan sungguh-sungguh agar bisa lebih banyak bersedekah.†Kalimat ini mengisyaratkan bahwa al-Qur'an adalah sumber petunjuk dan inspirasi tindakan. Sedangkan kalimat berikut, melemahkan keyakinan anak terhadap al-Qur'an karena terasa sebagai pembenaran. Bukan sumber kebenaran. Sainslah yang menjadi sumber kebenaran manakala kalimat kita berbunyi, "Berdasarkan penemuan mutakhir tadi kita bisa melihat bahwa sikap kita bisa mempengaruh alam semesta, meskipun kelihatannya tidak merusak. Karena itu…, tidak heran kalau Allah Ta'ala berfirman;
Agar anak semakin percaya kepada al-Qur'an suasana yang menjadikan al-Qur'an sebagai petunjuk dan acuan dalam bertindak perlu dihidupkan. Ini menuntut budaya pembelajaran yang kontekstual. Seorang guru al-Qur'an adalah guru yang kemana pun ia pergi, ia akan menunjukkan kepada murid-muridnya bagaimana al-Qur'an berbicara. Melalui cara ini anak memperoleh pengalaman mental bahwa al-Qur'an melingkupi seluruh aspek kehidupan, sehingga anak semakin dekat hatinya kepada petunjuk. Selengkapnya, pembicaraan tentang ini akan kita lanjutkan pada edisi mendatang.
Anak-anak juga perlu memperoleh pengalaman iman dan sekaligus intelektual bahwa al-Qur'an merupakan penimbang, penilai dan pemberi kata putus tentang benar tidaknya sebuah pendapat, bahkan penemuan yang dianggap ilmiah sekalipun. Bukan sebaliknya, menakar kebenaran al-Qur'an dari sains. Untuk itu, seorang guru perlu memiliki wawasan luas, meski yang diajarkan di sekolah hanya satu mata pelajaran: tahfidz. Menghafal al-Qur'an. Tujuannya, agar murid tidak hanya hafal di otak, tetapi lebih penting lagi meyakini di hati.
Selebihnya, tidak bisa tidak, modal yakin dan tidak ragu sama sekali terhadap al-Qur'an adalah dengan mengenal dan mengimani sumber al-Qur'an, yakni Allah Ta'ala dan proses turunnya.
Ringkasnya, ternyata untuk mengajak anak-anak meyakini al-Qur'an, guru tidak cukup sekedar bisa membaca. Hanya dengan meyakini secara total sehingga tidak ada keraguan di dalamnya, al-Qur'an bisa menjadi daya penggerak untuk bertindak. Dengan demikian, mereka tidak sekedar hafal. Lebih dari itu, hidup jiwanya dan kuat keyakinannya dalam memegangi prinsip.
Semoga melalui lisan para guru yang memancarkan cahaya al-Qur'an, anak-anak kita bisa belajar memegangi al-Qur'an dengan kuat, sehingga kita bisa berharap anak-anak itu kelak menjadi mukmin yang bertakwa, penuh belas kasih hatinya, berbakti pada orangtua, santun, tidak sombong dan hidup jiwanya. *Wallahu a'lam bish-shawab.
Penulis buku-buku laris masalah parenting dan kolomnis di Majalah Hidayatullah
http://www.hidayatullah.com/
KB/TK ISLAM IBNU RUSYD PARENT COMMUNITY
Selasa, 15 Desember 2009
Kuat Memegangi Prinsip
Saat Menegangkan sebagai Orangtua
Sungguh, pada mulut kita terletak surga dan neraka kita, sekaligus surga dan neraka anak-anak kita. Maka apakah yang sudah kita lakukan?
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Hidayatullah.com--Pernah ribut dengan anak? Kita merasa sudah menasihati, mewanti-wanti, dan menjelaskan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak, tetapi anak masih saja melakukan hal-hal yang tak terduga. Urat syaraf kita menegang karena anak membangkang. Ada sebagian orangtua yang menangis karena merasa anaknya tak mengerti kemauan orangtua. Padahal sudah banyak diingatkan, dimarahi, bahkan dihukum.
Lonjakan tekanan emosi ini akan lebih menegangkan lagi ketika ada tamu datang ke rumah kita, sedang berbelanja di toko, atau saat melakukan perjalanan jauh bersama anak. Semenjak usia dua tahun, anak sepertinya tahu bahwa dalam situasi-situasi seperti itu kendali orangtua melemah. Ibu tak akan mengeluarkan teriakan yang menakutkan, bapak tidak mungkin berdiri mengacungkan tangan untuk memukul, seheboh apapun tingkah anak. Mereka tahu, orangtua kerap kali tak berdaya menghadapi tingkah anak–setidaknya selama tamu masih berada di rumah.
Memasuki usia dua tahun, anak memang berubah. Para ahli menggambarkan usia ini–sampai sekitar empat atau lima tahun—sebagai the terrible twos (dua tahun yang mengerikan). Anak-anak semula begitu menyenangkan, mudah diatur, membuat kita bahagia karena tingkahnya yang lucu menggemaskan, begitu memasuki usia dua tahun berubah menjadi ketegangan, mulai menunjukkan keakuan, tak jarang menampakkan “perlawanan” dan mulai ingin mengatur lingkungan. Usia dua tahun adalah usia paling lucu sekaligus membuat kita sulit tertawa. Ia ingin diperhatikan dan terutama dilibatkan. Itulah sebabnya anak bertingkah heboh.
Setidaknya ada dua hal yang membuat anak seperti itu. Pertama, anak ingin mendapat perhatian dan penerimaan dari orang lain, misalnya tamu. Tingkahnya akan lebih heboh lagi bila ia merasa di-persona-non-grata-kan (tidak disenangi) atau merasa tidak dianggap manusia. Ia merasa sudah melakukan yang terbaik, berlari keluar untuk menyambut tamu, berinisiatif menanyakan nama dan alamat, tetapi tamu yang datang menampakkan sikap tidak membutuhkan anak kecil itu.
Kedua, anak merasa kehilangan perhatian dari orangtua saat tamu datang. Sebelum usia dua tahun, orangtua selalu melibatkannya, menceritakan tentang kelucuannya, menunjukkan kehebatan sekaligus mengajaknya berdialog di depan tamu. Tetapi begitu memasuki usia dua tahun, atau beberapa bulan sebelum itu, kita mulai “mengabaikan dia”. Atas sebab itu, anak bertingkah menghebohkan untuk merebut perhatian. Tentu saja ini harus dibedakan dengan perilaku anak yang memang gesit dan meriah gerak maupun suaranya, tak peduli ada tamu atau tidak. Hanya saja, saat ada tamu kita lebih sensitif mendengar teriakan mereka yang mengagetkan.
Sepanjang saya perhatikan, anak-anak cenderung lebih tenang apabila mereka merasa tamu datang tidak hanya membutuhkan orangtua mereka. Anak-anak itu menampakkan perilaku yang lebih kooperatif bila mereka ikut disapa–satu atau dua menit—sebelum berbicara dengan orangtua.
Sikap orangtua terhadap anak juga turut berpengaruh. Kalau anak-anak disuruh masuk seketika, begitu ada tamu datang, kerapkali yang terjadi adalah ketegangan yang melelahkan. Saat-saat menemui tamu penuh pergolakan untuk menahan diri dan gusar dengan teriakan anak. Sebaliknya, ketika kita memiliki sedikit waktu untuk berbicara baik-baik dengan mereka, memberi pengertian dengan menceritakan siapa tamu yang datang dan apa keperluannya, anak cenderung lebih bisa menempatkan diri.
Jarang-seringnya tamu datang juga mempengaruhi dahsyat-tidaknya perilaku anak. Anak-anak yang di rumahnya sering kedatangan tamu, akan lebih tenang dibanding mereka yang jarang menerima tamu. Begitu ada yang datang, bagai musim kemarau disiram hujan, anak-anak itu segera berteriak lantang, bertingkah dengan selepas-lepasnya dan sibuk mencari perhatian. Tingkah anak yang memusingkan itu akan lebih menegangkan lagi jika tamu datang di saat anak sedang mempunyai permintaan dan tidak dituruti oleh orangtua. Kesempatan yang sangat bagus untuk memaksa orangtua.
Khusus berkait dengan rengekan anak saat tamu datang, ada yang perlu kita perhatikan. Tak jarang orangtua menyerah hanya demi “menjaga nama baik”, padahal dampaknya sangat buruk. Kadang orangtua menolak membelikan es krim dengan alasan tidak punya uang. Ketika anak merengek atau menangis, orangtua bersikeras tidak mau membelikan. Tetapi begitu rengekan dilakukan di hadapan tamu, segera keluar uang “pembungkam mulut”. Anak memang seketika terdiam, tetapi pada saat yang sama mencatat setidaknya mencatat empat pelajaran penting yang berbahaya.
Pertama, anak belajar berbohong dengan contoh nyata dari orangtua. Bukankah tadi orangtua mengatakan tidak punya uang? Dan bukankah orangtua ternyata dapat memberinya uang saat tamu datang? Padahal tamu datang tidak membawakan uang untuk orangtua.
Kedua, anak belajar memaksa dengan menggunakan tangis dan kekerasan. Ketika ia meminta baik-baik, orangtua tidak menuruti. Tetapi begitu ia berteriak keras, menangis, bila perlu mengamuk, orangtua segera menuruti. Pengalaman yang sangat berkesan sehingga layak menjadi “pegangan” dalam menghadapi orangtua.
Ketiga, anak belajar mempermalukan orangtua dan kelak orang lain–na’udzubillahi min dzalik—demi memperoleh apa yang diinginkan. Belajar dari pengalaman di depan tamu, anak menemukan pelajaran bahwa yang membuat orangtua bersegera menuruti adalah rasa malu. Orangtua tidak ingin kehilangan muka di hadapan tamu.
Keempat, anak belajar tidak mempercayai orangtua. Orangtuanya mengatakan tidak punya uang, tetapi ternyata mampu memberi uang saat tamu datang. Berarti orangtua telah berbohong, tidak berbicara dengan qaulan sadida (perkataan yang benar) sebagaimana diwasiatkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam Al-Quran. Cara menampik keinginan anak tidak dilakukan dengan alasan yang benar, alasan yang mendidik anak, tetapi dengan alasan yang diada-adakan. Tidak punya uang memang alasan yang paling mudah kita cari, terutama bagi para orangtua yang malas berpikir jernih.
Agar ingatan kita lebih segar dan bekasnya di hati lebih kuat, mari kita simak kembali wasiat Allah Ta’ala:
“Dan hendaklah orang-orang pada takut kalau-kalau di belakang hari mereka meninggalkan keturunan yang lemah, dan mencemaskan (merasa ketakutan) akan mereka. Maka bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan qaulan sadidan (perkataan yang benar).” [An-Nisaa’: 9]
Masya Allah! Begitu kecil kelihatannya, namun begitu besar akibat yang ditimbulkan oleh kata-kata yang salah. Berawal dari hilangnya kesabaran dan keinginan untuk menyelesaikan masalah dengan segera (isti’jal), kita dapat menuai akibat yang sangat panjang. Hanya karena kita tak tahan mendengar tangisan, kita bisa menuai airmata tak habis-habisnya. Hanya karena malu di depan tamu atau pengunjung supermarket yang sebenarnya tidak saling kenal, kita bisa menanggung malu yang lebih besar. Na’udzubillahi min dzalik, tsumma na’udzubillahi min dzalik. Semoga Allah Yang Membolak-balikkan Hati, membaguskan akhlak anak-anak kita, memelihara iman mereka, dan meneguhkan kepercayaan mereka kepada kita selaku orangtua. Allahumma amin.
Bicara tentang kata, teringatlah saya kepada Bob Greene, yang pernah menulis artikel rangkuman dari bukunya berjudul He was a Midwestern Boy on His Own. Dalam artikel yang berjudul What Words Can Do (Apa yang Bisa Dilakukan oleh Kata-kata), Bob Greene menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kata. Kata Greene, “Terkadang, bahkan sesuatu yang paling sederhana pun membawa akibat yang selama-lamanya.”
Agaknya, ada yang perlu kita benahi kembali dalam hati kita, jiwa, ilmu pengetahuan, serta sikap kita. Sungguh, pada mulut kita terletak surga dan neraka kita, sekaligus surga dan neraka anak-anak kita. Maka apakah yang sudah kita lakukan?
Semoga Allah ‘Azza wa Jalla membaguskan kita, keluarga, orangtua, dan keturunan kita seluruhnya. Semoga Allah Ta’ala ampunkan yang salah dan tinggikan apa yang benar dari langkah-langkah kita mempersiapkan anak-anak menjadi penolong agama-Nya. Allahumma amin.
[www.hidayatullah.com]
Jumat, 11 Desember 2009
Yuks! Optimalkan Kemampuan Otak Anak
Sampai usia berapa masa keemasan seorang anak?
Para ahli, seperti Dr Keith Osborn dari University of Georgia, Dr Burton L White dari Preschool Project, dan Dr benjamin S Bloom dari University of Chicago sepakat bilang, sejak 0-4 tahun.
Di masa keemasan ini, otak anak berkembang sangat pesat, baik secara fisik maupun intelektualnya. 50% dari perkembangan fisik otak sudah dicapai saat anak berusia 0-2 tahun. 85 persen di usia 5 tahun. Pada usia 12 tahun, perkembangan fisik otak sudah pada tahap sempurna (100%).
Sementara, 50% dari perkembangan intelektual anak sudah dicapai di usia 4 tahun. Lonjakan perkembangan otak berakhir pada usia 10 tahun. Di usia ini perkembangan intelektual anak mencapai 80 persen. Selanjutnya otak akan berkembang sangat lamban. Dan, pada masa remaja, usia 18 tahun, kelenturan otak kita menurun.
Fase Syariat
Sementara jika dilihat dari fase syariat, seperti yang ditulis Muhammad Fauzil Adhim dalam bukunya "Mendidik Anak Menuju Taklif", disebutkan, semenjak lahir hingga usia 2 tahun (fase bayi), orangtua perlu mengembangkan kasih sayang dua arah terhadap anaknya.
Usia 2-7 tahun yang disebut fase anak-anak (thufulah), adalah masa yang tepat untuk memberikan dasar-dasar tauhid pada anak, yang mendorongnya bergerak melakukan sesuatu yang baik menurut Allah.
Usia 7-10 tahun (fase tamyiz), ini masa anak membedakan mana yang baik dan buruk melalui penalarannya. Pada masa ini anak perlu mendapatkan pendidikan pokok syariat. Usia 10-15 tahun disebut fase amrad. Pada masa ini anak memerlukan pengembangan potensinya. Pada masa ini juga anak mencapai aqil baligh (akalnya sampai).
Usia 15-18 tahun, fase taklif. Pada usia ini anak harus tertanam rasa tanggung jawab, baik pada diri, orangtua maupun lingkungannya.
Jadi, penelitian para ahli ini membuktikan otak kita berkembang pesat pada awal masa kanak-kanak. Di masa keemasannya ini, anak mampu menyerap seluruh informasi yang diperolehnya. Otak mereka seperti spons. Apa saja yang dilihat dan didengarnya akan terekam kuat.
So, nggak aneh kalau kita merekam kuat peristiwa yang kita alami di masa kecil dan mampu menghafal dengan baik.
Saya masih ingat saat sakit di usia 4 tahun. Masih terbayang saya tidur di tempat tidur besi di rumah dinas ortu saya. Masih ingat saat itu saya dikecoki sirup 1 gelas dan kerang sepanci.
Saya juga masih ingat saat ibu saya melahirkan adik saya yang bungsu saat usia saya 5 tahun. Saya ingat ada taksi kuning berhenti di depan rumah. Saya masih main jual-jualan dengan teman-teman saya ketika teman saya berkata, "Umi.. Umi, ibunya pulang. Pake mobil taksi loh!" Dan, saya langsung lari penasaran mau lihat muka adik saya. Ganteng (menurut saya, jelas)!
Saya juga masih ingat sewaktu dahi saya bocor karena ditimpuk batu oleh teman saya.
Ingat juga sewaktu diusir tetangga saya, gara-gara saya duduk di bak sampah rumahnya yang dibuat dari semen. Diusir gara-gara bak sampahnya dekat pohon jambu klutuk yang buahnya sangat menggiurkan. Ssssssst, saya memang suka ngambil jambu itu diam-diam.
Jadi buat para ortu, go..go.. go..! Cetak anak-anak unggul. Isi 5 tahun pertama usia anak kita dengan kegiatan positif, baca buku salah satunya.
Jangan sia-siakan golden age anak Anda. Saya siap sharing informasi berharga tentang program buku-buku bermutu untuk pengembangan otak anak-anak, terutama seri Home Learning Program dari Timelife. Ciao....
Informasi lebih lanjut hubungi:
Umi Kalsum (detikcom)
021-87921929
0816 1167862
syifaku2001@ yahoo.com
umi@staff.detik.com
Metode Pendidikan dalam Pandangan Tiga Ilmuwan Islam
Pendidikan merupakan faktor penting yang menentukan kehidupan manusia. Melalui pendidikan, manusia bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Kemajuan yang dicapai peradaban Islam di zaman kekhalifahan tak lepas dari keberhasilan dunia pendidikan. Pada zaman itu, kota-kota Islam telah menjelma menjadi pusat pendidikan dan peradaban yang sangat maju.
By Republika Newsroom
Selasa, 08 September 2009 pukul 09:02:00
Di abad pertengahan, para ilmuwan dan cendekiawan Muslim telah menyusun metode pendidikan atau pembelajaran yang sangat baik. Metode itu disusun agar para siswa bisa memahami dan menyerap ilmu pengetahuan yang diajarkan di madrasah-madrasah dengan mudah.
Berikut ini adalah tiga metode pendidikan yang dicetuskan tiga intelektual Muslim terpadang di zaman kekhalifahan. Mereka adalah Ibnu Sina, Ibnu Khaldun serta Al-Ghazali. Lalu bagaimana gagasan dan pemikiran mereka tentang pendidikan yang baik dan ideal bagi dunia Islam?
* Ibnu Sina (980 -1037)
Abu ‘Ali al-Husayn bin ‘Abdullah ibnu Sina tak hanya dikenal sebagai seorang dokter legendaris. Ibnu Sina juga mencurahkan gagasannya tentang pendidikan. Menurut Ibnu Sina, pendidikan atau pembelajaran itu menyangkut seluruh aspek pada diri manusia, mulai dari fisik, metal maupun moral.
''Pendidikan tidak boleh mengabaikan perkembangan fisik dan apapun yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan fisik seperti olahraga, makanan, minuman, tidur, dan kebersihan,'' tutur Ibnu Sina,
Dalam pandangan Ibnu Sina, pendidikan tak hanya memperhatikan aspek moral, namun juga membentuk individu yang menyeluruh termasuk, jiwa, pikiran dan karakter. Menurutnya, pendidikan sangat penting diberikan kepada anak-anak untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi masa dewasa.
Ibnu Sina mengungkapkan, seseorang harus memiliki profesi tertentu dan harus bisa berkontribusi bagi masyarakat. Ibnu Sina mengungkapkan pendidikan itu harus diberikan secara berjenjang berdasarkan usia.
- Masa baru lahir hingga umur dua tahun
Dalam pandangan Ibnu Sina, pendidikan harus dilakukan sejak dini, yakni sejak seseorang terlahir ke muka bumi. Pendidikan bagi bayi yang baru lahir, kata dia, bisa diberikan melalui berbagai tahapan kegiatan mengasuh bayi seperti menidurkan, memandikan, menyusui, dan memberikan latihan-latihan ringan bagi bayi.
Menurutnya, bayi harus ditidurkan di ruang yang suhunya sejuk; tidak terlalu dingin dan terlalu panas. Ruang tidur bayi juga harus remang-remang, jangan terlalu terang. Menurut dia, sang ibu harus memandikan bayinya lebih dari satu kali dalam sehari, dia juga harus menyusui anaknya sendiri, dan menentukan takaran menyusui yang dibutuhkan bayi.
Ketika bayi sudah memiliki gigi, maka mulai diperkenalkan dengan memakan makanan baru yang lebih kuat dari pada ASI. Bayi bisa memakan roti yang dicelupkan dengan air minum, susu, maupun madu. Lalu makanan tersebut diberikan kepada bayi dalam jumlah kecil dan sedikit demi sedikit dia disapih. Sebab penghentian pemberian ASI tidak bisa dilakukan secara drastis.
- Masa kanak-kanak
Menurut Ibnu Sina, masa kanak-kanak merupakan saat pembentukan fisik, mental, dan moral. Oleh karena itu terdapat tiga hal yang harus diperhatikan: Pertama, anak-anak harus dijauhkan dari pengaruh kekerasan yang bisa mempengaruhi jiwa dan moralnya. Kedua, untuk perkembangan tubuh dan gerakannya, anak-anak harus dibangunkan dari tidur.
Ketiga, anak-anak tak diperbolehkan langsung minum setelah makan, sebab makanan itu akan masuk tanpa dicerna terlebih dahulu. Keempat, perkembangan rasa dan perilaku anak-anak perlu diperhatikan.
Ibnu Sina menganggap anak-anak harus mendengarkan musik, sehingga saat berada dalam ayunan mereka tertidur dengan suara musik. Hal itu akan mempersiapkan anak mempelajari musik, selanjutnya dia akan tertarik untuk mempelajari puisi yang sederhana dan akhirnya membuatnya menghargai nilai-nilai kebenaran.
- Masa Pendidikan
Pada masa ini, anak-anak sudah berusia antara 6 hingga 14 tahun. Pada masa ini, anak-anak harus mempelajari prinsip kebudayaan Islam dari Alquran, puisi-puisi Arab, kaligrafi, juga para pemimpin Islam.
Menurut Ibnu Sina, pendidikan pada masa ini harus dilakukan dalam kelompok-kelompok, bukan perseorangan. Sehingga siswa tidak merasa bosan. Selain itu, mereka bisa belajar mengenai arti persahabatan.
- Masa usia 14 tahun ke atas
Pada masa remaja ini, mereka dipersiapkan untuk mempelajari tipe pelajaran tertentu supaya memiliki keahlian khusus. Selain itu, mereka harus mempelajari pelajaran yang sesuai dengan bakat mereka. Mereka juga tidak boleh dipaksa untuk mempelajari dan bekerja di bidang yang tidak mereka inginkan dan mereka pahami. Namun pelajaran dasar harus diberikan kepada mereka.
Ibnu Sina menganggap pendidikan pada anak-anak maupun remaja harus diberikan karena pendidikan itu memiliki hubungan yang erat antara pemenuhan kebutuhan ekonomi dan sosial. Yang paling penting, setiap pelajar harus menjadi seorang ahli dalam bidang tertentu yang akan mendukung pekerjaannya di masa depan.
* Ibnu Khaldun (1332/732H, -- 1406/808H)
Ibnu Khaldun dikenal sebagai seorang sejarawan terkemuka. Lewat Kitab Almuqadimmah yang ditulisnya, Ibnu Khaldun menjadi salah seorang intelektual Muslim legendaris sepanjang masa. Selain berkontribusi pada bidang sejarah, politik dan ekonomi, Ibnu Khaldun pun mencurahkan pikirannya dalam bidang pendidikan.
Pemikirannya dalam bidang pendidikan bermula dari presentasi ensiklopedia ilmu pengetahuannya. Hal ini merupakan jalan untuk membuka teori tentang pengetahuan dan presentasi umum mengenai sejarah sosial dan epitomologi berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan.
Menurut Ibnu Khaldun, ilmu pengetahuan mengelompokkan ilmu pengetahuan menjadi dua macam, yakni; pengetahuan rasional dan pengetahuan tradisional. Pengetahuan rasional adalah pengetahuan yang diperoleh dari kebaikan yang berasal dari pemikiran yang alami.
Sedangkan pengetahuan tradisional merupakan pengetahuan yang subjeknya, metodenya, dan hasilnya, serta perkembangan sejarahnya dibangun oleh kekuasaan atau seseorang yang berkuasa.
Menurut dia, ketika seorang anak baru dilahirkan, maka sang bayi belum memiliki ilmu. ''Bayi itu seumpama sebuah bahan mentah yang harus diberi isi yang baik supaya menjadi orang dewasa yang berguna kelak,'' tutur Ibnu Khaldun.
Ibnu Khaldun mengungkapkan, setiap orang mendapatkan ilmu pengetahuan melalui organ-organ tubuh yang diberikan oleh Tuhan. ''Kita belajar menggunakan mata, telinga, mulut, kaki, dan tangan. Semua organ tubuh itu mendukung kita dalam proses pembelajaran demi mendapat ilmu pengetahuan,'' ungkapnya.
Ibnu Khaldun juga membagi ilmu pengetahuan berdasarkan tingkat pemikiran yaitu: Pengetahuan praktis yang merupakan hasil dari memahami intelijen. Sehingga membuat kita mampu melakukan apapun di dunia dalam sebuah tatanan.
Pengetahuan tentang apa yang harus kita lakukan dan apa yang harus tidak kita lakukan. Hal ini berkaitan dengan apa yang baik dan apa yang buruk. Nilai-nilai tentang kebaikan dan keburukan bisa diperoleh dari intelijen empirik dan dapat diterapkan untuk menuntun kita saat berhubungan dengan orang lain.
Menurut dia, mengajarkan ilmu pengetahuan itu sangat penting, karena ilmu pengetahuan akan lebih mudah diperoleh manusia dengan bantuan dan ajaran gurunya.
Metode Pendidikan Ala Al-Ghazali
Al Ghazali memberi perhatian yang sangat besar untuk menempatkan pemikiran Islam dalam pendidikan. Menurutnya, seluruh metode pendidikan harus berpegang teguh pada syariat Islam.
Menurutnya, tujuan manusia adalah mencapai kebahagian dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan kata lain, berbagai macam tujuan manusia untuk mendapatkan kekayaan, kekuasaan sosial, ilmu pengetahuan, hanyalah sebuah ilusi jika semua itu hanya berhubungan dan ditujukan untuk pencapaian dunia fana.
Menurut dia, bayi lahir dalam keadaan jernih, lalu tumbuh menjadi anak-anak yang membutuhkan kepribadian, karakter, dan tingkah laku saat hidup dan berinteraksi dengan lingkungan. Keluarga mengajarkan anak-anak tentang bahasa, adat-istiadat, tradisi agama, dan semua pengaruh dari ajaran tersebut tidak mungkin lenyap hingga mereka dewasa.
Oleh karena itu, yang paling bertanggung jawab terhadap buruk atau baiknya pendidikan seorang anak adalah orangtua mereka. Orang tua merupakan mitra dalam mendidik anak-anak dan mereka harus membaginya dengan para guru anak-anak tersebut.
Al-Ghazali menekankan pentingnya pembentukan karakter. Dengan memberikan pendidikan karakter yang baik maka orang tua sudah membantu anak-anaknya untuk hidup sesuai jalan yang lurus. Namun, pendidikan yang buruk akan membuat karakter anak-anak menjadi tidak baik dan berpikiran sempit sehingga sulit membawa mereka menuju jalan yang benar kembali.
Oleh karena itu, anak-anak harus belajar di sekolah dasar sehingga pengetahuan yang diperoleh sejak masih kecil akan melekat kuat bagai ukiran di atas batu. Selain itu, anak-anak juga harus diyakinkan bahwa mereka harus selalu mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya.
Anak-anak terus berkembang, pada usia remaja mereka akan merasa tertarik dengan lawan jenis, lalu pada usia 20 tahun, mereka merindukan menjadi pemimpin, dan pada usia 40 tahun orang membutuhkan kedekatan dan kesenangan terhadap pengetahuan akan Tuhannya.
Pada masa anak-anak, orang tua harus mengajari mereka ilmu Alquran dan hadis. Selain itu, mereka harus dijaga dari puisi-puisi cinta. Sebab hal itu, kata dia, bisa menjadi bibit yang buruk bagi jiwa seorang anak laki-laki.
Mereka juga harus diajari mematuhi nasehat orang tua, gurun, serta orang-orang yang lebih tua. Selain itu mereka juga harus diajarkan menjadi orang yang jujur, sederhana, dermawan, dan beradab. Selain itu, anak-anak sebaiknya memiliki teman yang bermoral baik, berkarakter baik, pandai, serta jujur. dya/taq
“Memahami Perjuangan Pangeran Diponegoro”
Pelajaran sejarah yang benar harus dipaparkan dengan benar kepada anak didik kita sehingga mereka bisa mengambil hikmah meneladani pahlawan Islam. Baca CAP Adian ke-272
Oleh: Dr. Adian Husaini
Hidayatullah.com--Pada jurnal Islamia-Republika, edisi 15 Oktober 2009, dimuat sebuah artikel menarik berjudul ”Diponegoro Pangeran Santri Penegak Syariat”. Artikel itu ditulis oleh Ir. Arif Wibowo, mahasiswa Magister Pemikiran Islam-Universitas Muhammadiyah Surakarta. Artikel itu membuka kembali wacana penting dalam penulisan sejarah Islam di Indonesia bahwa Pangeran Diponegoro bukanlah pahlawan nasional yang berjuang melawan Belanda semata-mata karena urusan tanah atau tahta. Tapi, Pangeran Diponegoro adalah pahlawan Islam, bangsawan Jawa yang mendalami serius agama Islam, dan kemudian melawan penjajah Belanda dengan semangat jihad fi sabilillah. Diponegoro adalah sosok pahlawan yang berani meninggalkan tahta dan kenikmatan duniawi demi mewujudkan sebuah cita-cita luhur, tegaknya Islam di Tanah Jawa.
Berikut ini kita sajikan secara utuh tulisan yang menarik tentang Diponegoro tersebut.
Pangeran Diponegoro lahir pada 1785. Ia putra tertua dari Sultan Hamengkubuwono III (1811 – 1814). Ibunya, Raden Ayu Mangkarawati, keturunan Kyai Agung Prampelan, ulama yang sangat disegani di masa Panembahan Senapati mendirikan kerajaan Mataram. Bila ditarik lebih jauh lagi, silsilahnya sampai pada Sunan Ampel Denta, seorang wali Sanga dari Jawa Timur. Dalam bukunya, Dakwah Dinasti Mataram, Dalam Perang Dipnegoro, Kyai Mojo dan Perang Sabil Sentot Ali Basah, Heru Basuki menyebutkan, bahwa saat masih kanak-kanak, Diponegoro diramal oleh buyutnya, Sultan Hamengkubuwono I, bahwa ia akan menjadi pahlawan besar yang merusak orang kafir. Heru Basuki mengutip cerita itu dari Louw, P.J.F – S Hage – M nijhoff, Eerstee Deel Tweede deel 1897, Derde deel 1904, De Java Oorlog Van 1825 – 1830 door, hal. 89.
Suasana kraton yang penuh intrik dan kemerosotan moral akibat pengaruh Belanda, tidak kondusif untuk pendidikan dan akhlak Diponegoro kecil yang bernama Pangeran Ontowiryo. Karena itu, sang Ibu mengirimnya ke Tegalrejo untuk diasuh neneknya, Ratu Ageng di lingkungan pesantren. Sejak kecil, Ontowiryo terbiasa bergaul dengan para petani di sekitarnya, menanam dan menuai padi. Selain itu ia juga kerap berkumpul dengan para santri di pesantren Tegalrejo, menyamar sebagai orang biasa dengan berpakaian wulung.
Bupati Cakranegara yang menulis Babad Purworejo bersama Pangeran Diponegoro pernah belajar kepada Kyai Taftayani, salah seorang keturunan dari keluarga asal Sumatera Barat, yang bermukim di dekat Tegalrejo. Menurut laporan Residen Belanda pada tahun 1805, Taftayani mampu memberikan pengajaran dalam bahasa Jawa dan pernah mengirimkan anak-anaknya ke Surakarta, pusat pendidikan agama pada waktu itu. Di Surakarta, Taftayani menerjemahkan kitab fiqih Sirat AlMustaqim karya Nuruddin Ar Raniri ke dalam bahasa Jawa. Ini mengindikasikan, Diponegoro belajar Islam dengan serius. (Dr. Kareel A. Steenbrink, 1984, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, Penerbit Bulan Bintang Jakarta hal. 29).
Dalam Babad Cakranegara disebutkan, adalah Diponegoro sendiri yang menolak gelar putra mahkota dan merelakan untuk adiknya R.M Ambyah. Latar belakangnya, untuk menjadi Raja yang mengangkat adalah orang Belanda. Diponegoro tidak ingin dimasukkan kepada golongan orang-orang murtad. Ini merupakan hasil tafakkurnya di Parangkusuma. Dikutip dalam buku Dakwah Dinasti Mataram: “Rakhmanudin dan kau Akhmad, jadilah saksi saya, kalau-kalau saya lupa, ingatkan padaku, bahwa saya bertekad tak mau dijadikan pangeran mahkota, walaupun seterusnya akan diangkat jadi raja, seperti ayah atau nenenda. Saya sendiri tidak ingin. Saya bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Besar, berapa lamanya hidup di dunia, tak urung menanggung dosa (Babad Diponegoro, jilid 1 hal. 39-40).
Perang besar
Dalam bukunya, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke 19, Kareel A. Steenbrink, mencatat, sebagian besar sejarawan menyepakati bahwa perang Diponegoro lebih bersifat perang anti-kolonial. Beberapa sebab itu antara lain: 1. Wilayah kraton yang menyempit akibat diambil alih Belanda, 2. Pemberian kesempatan kepada orang Tionghoa untuk menarik pajak, 3. Kekurangadilan di masyarakat Jawa, 4. Aneka intrik di istana, 5. Praktek sewa perkebunan secara besar-besaran kepada orang Belanda, yang menyebabkan pengaruh Belanda makin membesar, 6. Kerja paksa bukan hanya untuk kepentingan orang Yogyakarta saja, tetapi juga untuk kepentingan Belanda.
Namun menurut Louw, sebab-sebab sosial ekonomis tadi dilandasi oleh alasan yang lebih filosofis, yaitu jihad fi sabilillah. Hal ini diakui oleh Louw dalam De Java Oorlog Van 1825-1830, seperti dikutip Heru Basuki: “Tujuan utama dari pemberontakan tetap tak berubah, pembebasan negeri Yogyakarta dari kekuasaan Barat dan pembersihan agama daripada noda-noda yang disebabkan oleh pengaruh orang-orang Barat.”
Hal ini tampak dari ucapan Pangeran Diponegoro kepada Jendral De Kock pada saat penangkapannya. “Namaningsun Kangjeng Sultan Ngabdulkamid. Wong Islam kang padha mukir arsa ingsun tata. Jumeneng ingsun Ratu Islam Tanah Jawi” (Nama saya adalah Kanjeng Sultan Ngabdulkhamid, yang bertugas untuk menata orang Islam yang tidak setia, sebab saya adalah Ratu Islam Tanah Jawa). (Lihat, P. Swantoro, Dari Buku ke Buku, Sambung Menyambung Menjadi Satu, (2002)).
Kareel A Steenbrink menyebutkan, pemikiran dan kiprah Pangeran Diponegoro menarik para ulama, santri dan para penghulu merapat pada barisan perjuangannya. Peter Carey dalam ceramahnya berjudul Kaum Santri dan Perang Jawa pada rombongan dosen IAIN pada tanggal 10 April 1979 di Universitas Oxford Inggris menyatakan keheranannya karena cukup banyak kyai dan santri yang menolong Diponegoro. Dalam naskah Jawa dan Belanda, Carey menemukan 108 kyai, 31 haji, 15 Syeikh, 12 penghulu Yogyakarta, dan 4 kyai guru yang turut berperang bersama Diponegoro.
Bagi sebagian kalangan, ini cukup mengherankan. Sebab, pasca pembunuhan massal ulama dan santri oleh Sunan Amangkurat I tahun 1647, hubungan santri dengan kraton digambarkan sangat tidak harmonis. Namun Pangeran Diponegoro yang merupakan keturunan bangsawan dan ulama sekaligus, berhasil menyatukan kembali dua kubu tersebut.
Paduan motivasi agama dan sosial ekonomi ini menyebabkan Perang Diponegoro menjadi perang yang sangat menyita keuangan pemerintah kolonial, bahkan hampir membangkrutkan negeri Belanda. Korban perang Diponegoro: orang Eropa 8.000 jiwa, orang pribumi yang di pihak Belanda 7.000 jiwa. Biaya perang 20 juta gulden. Total orang Jawa yang meninggal, baik rakyat jelata maupun pengikut Diponegoro 200.000 orang. Padahal total penduduk Hindia Belanda waktu itu baru tujuh juta orang, separuh penduduk Yogyakarta terbunuh.
Data ini menunjukkan, dahsyatnya Perang Diponegoro dan besarnya dukungan rakyat terhadapnya. Oleh bangsa Indonesia, Pangeran Diponegoro yang dikenal dengan sorban dan jubahnya, kemudian diakui sebagai salah satu Pahlawan Nasional, yang sangat besar jasanya bagi bangsa Indonesia. Louw dalam De Java Oorlog Van 1825 – 1830, menulis: “Sebagai seorang yang berjiwa Islam, ia sangat rajin dan taqwa sekali hingga mendekati keterlaluan.”
Demikianlah artikel penting yang ditulis Saudara Arif Wibowo tentang Pangeran Diponegoro. Informasi tentang Diponegoro tersebut perlu diajarkan di sekolah-sekolah kita, khususnya sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan Islam. Saya masih menemukan banyak sekolah Islam yang masih mengajarkan cerita tentang Diponegoro yang keliru dan tidak menggambarkan Diponegoro sebagai seorang pahlawan Islam. Seolah-olah Diponegoro berjuang melawan Belanda hanya karena urusan duniawi.
Kita berharap, pengelola lembaga pendidikan Islam, juga para orang tua bersedia meneliti buku-buku pelajaran anak-anaknya, agar tidak menyimpang dari ajaran Islam dan fakta yang sebenarnya.
Cobalah bertanya kepada anak-anak kita, apakah mereka memahami bahwa Islam masuk ke Indonesia adalah dibawa oleh para pedagang dari Gujarat India. Padahal, teori buatan Snouck Hurgronje itu sudah lama dijawab oleh para ulama dan sejarawan Muslim. Para pendakwah Islam di wilayah Nusantara ini bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah para pendakwah yang datang dari negeri Arab yang serius mendakwahkan Islam; bukan sekedar pekerjaan sambilan dari pekerjaan utama, yaitu berdagang.
Dalam berbagai kesempatan bertemu dengan lembaga-lembaga pendidikan, saya mengajak para pimpinan dan guru-gurunya, agar serius memperhatikan pelajaran sekolah anak-anaknya. Suatu ketika anak saya menyodori sebuah soal pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas VI Sekolah Dasar dari suatu sekolah Islam terkenal. Salah satu soalnya menceritakan bahwa ada seorang anak yang rumahnya jauh dari rumah. Setelah pulang sekolah ia harus membantu ibunya berjualan sampai Magrib. Usai shalat Magrib, dia masih harus mengaji, sehingga esoknya di sekolah dia kecapekan dan mengantuk.
Soal semacam ini seyogyanya tidak diberikan kepada anak didik, apalagi di sekolah Islam. Mestinya diajarkan bahwa meskipun anak tersebut rumahnya jauh, harus membantu orang tuanya berjualan, dan juga harus mengaji, tetapi si anak tetap dapat meraih prestasi dengan baik di sekolahnya. Faktanya, tidak sedikit anak-anak berprestasi di sekolahnya justru anak-anak yang suka belajar dan bekerja keras, meskipun berada dalam kondisi kehidupan yang tidak mudah.
Itulah pentingnya lembaga-lembaga pendidikan Islam melakukan perbaikan terhadap guru-guru dan kurikulum serta buku-buku pelajarannya. Kita berharap, dari sekolah-sekolah itulah akan lahir anak didik yang beradab. Yakni, anak didik yang mampu memandang dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai derajat yang ditentukan Allah SWT.
Seorang Pangeran Diponegoro harus diletakkan secara terhormat sebagai pahlawan pejuang agama Allah. Era reformasi dan keterbukaan harusnya mampu dimanfaatkan sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan Islam untuk merevisi, dan kalau perlu merombak, buku-buku pelajaran yang selama ini diajarkan kepada anak didik mereka.
Pelajaran sejarah sangat penting diberikan dengan mengungkap fakta dan perspektif yang benar untuk membentuk persepsi dan sikap hidup. Ketekunan, keikhlasan, kezuhudan, dan semangat jihad Pangeran Diponegoro seharusnya dipaparkan dengan benar kepada anak didik sehingga mereka tergerak untuk mengambil hikmah dan meneladani sang pahlawan Islam tersebut.
[Jakarta, 17 Oktober 2009/www.hidayatullah.com]
Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com
Memacu Anak Berpikir Kreatif
“Mmm… Coba irfan kasih tahu sama Ibu. Mengapa kita menyirami tanaman setiap hari?” tanya Hani sore itu, ketika ia menyirami tanaman-tanaman di halaman depan rumah.
“Biar basah…,” sahut Irfan.
“Iya. Terus, biar apa lagi?” tanggap Hani. Sejenak ia menghentikan tangannya yang sedang menyiramkan air.
“Biar… Biar tanamannya bisa minum ya, Bu?” jawab Irfan setengah bertanya.
“Iya. Tanaman juga butuh minum seperti kita. Kalau kita tidak memberi minum kepada tanaman, nanti tanamannya layu. Seperti Mbak Nida’ waktu sakit kema-rin, “Hani menjawab sambil sejenak memandang wajah anaknya yang baru menginjak usia 4 tahun.
“Kok tanaman itu nggak pernah makan? Tanaman nggak pernah lapar ya, Bu?”
Pertanyaan Irfan melompat begitu saja. Bahagia sekali ia mempunyai ibu yang sabar mengantarkannya kepada pintu-pintu pengetahuan. Ibu senantiasa membuka cakrawala berpikirnya.
Penulis : Muhammad Fauzil Adhim
Percakapan di atas tidak sungguh-sungguh terjadi. Hani dan putranya, Irfan, hanyalah nama rekaan. Tetapi ibu-ibu yang seperti Hani bukan tidak ada. Anak-anak membutuhkan ibu-ibu yang seperti Hani.
Anak pada usia 3,5-5,5 tahun perlu mendapatkan rangsangan berpikir konseptual yang memadai dari lingkungannya. Ibu adalah orang pertama yang sangat dinanti kelembutan dan kecerdasannya dalam mengan-tarkan anak kepada latihan berpikir konseptual.
Melihat Masalah Lebih Sederhana
Anda pernah menghadapi masalah dan sulit menyelesaikan? Seringkali seseorang menemui masalah berat. Ada banyak informasi sebenarnya yang dapat ia gunakan untuk
memecahkan masalah. Tapi yang sulit justru bagaimana menghubungkan berbagai informasi itu dengan masalah yang sedang dihadapi.
Seseorang yang memiliki kemampuan berpikir konseptual akan lebih mudah menghubungkan berbagai informasi yang ia punyai. Kemampuan menghubungkan bermacam-macam informasi ini merupakan hal yang sangat mendasar dalam proses berpikir, sehingga orang tidak mudah bingung dan cemas.
Anak merupakan masa eksplorasi. Pada masa ini anak sedang mengalami perkembangan kemampuan berpikir yang sangat cepat. Ia membutuhkan sebanyak mungkin informasi yang ada di lingkungan sekitar agar perkembangan kemampuan berpikirnya semakin cepat. Merangsang anak berpikir konseptual akan sangat bermanfaat bagi perkembangan kepribadian akan di masa depan.
Seseorang yang memiliki kemampuan berpikir konseptual juga lebih mampu mengenali dan mengelom-pokkan informasi-informasi, sehingga informasi yang kompleks menjadi lebih sederhana dipahami. Inilah yang dimaksudkan dengan organisasi informasi.
Keuntungan berikutnya, sudah barang tentu anak cenderung akan tumbuh menjadi orang yang memiliki kemampuan berpikir inovatif. Kematangan konseptual membawa anak kelak mampu berpikir besar. Hal-hal yang di mata orang lain tidak bermakna – terkadang sukar dimengerti-bagi dia justru mendatangkan ide-ide segar yang kreatif. Para ahli menyebut manfaat terakhir dari berpikir tinggi (konseptual) ini sebagai berpikir non-algoritmik.
Percakapan antara Hani dan putranya, Irfan, dalam contoh di atas menggambarkan proses pelatihan berpikir konseptual yang diajarkan oleh Hani kepada Irfan. Anak belajar merumuskan konsep tentang air, tumbuhan, dan lingkungan sekitar.
Merangsang anak usia 4 tahun untuk berpikir tinggi (konseptual) bisa dilakukan dengan berbagai cara. Setidaknya ada tiga cara yang dapat dipakai oleh orang tua dalam memacu kemampuan berpikir anak, yang saya uraikan di bawah ini.
Definisi Teoritikal
Definisi teoritikal dapat juga disebut definisi makna atau definisi pengertian. Orangtua dapat menanyakan kepada si kecil apakah arti sayang? Apakah yang dimaksud dengan dingin? Atau, apakah yang dimaksud dengan bola?
Sampaikan pertanyaan-pertanyaan itu dengan bahasa yang mudah dimengerti anak.
Misalnya, “Coba, Nisa’ tahu bola?”
“Tahu,” jawab Nisa’.
“Tahu? Pintaaar. Sekarang Nisa’ bisa terangkan sama Mama, bola itu apa ya?”
“Yang ditendang-tendang…”
“Terus apa lagi?”
“Mmm…bulat.”
Menanyakan definisi makna akan merangsang si kecil untuk menemukan prinsip-prinsip dasar dari setiap hal. la belajar menemukan kekhasan dari benda-benda yang ada di sekitarnya. Seperti Nisa’, pada awalnya ciri khas bola yang membedakannya dengan benda-benda lain adalah ditendang-tendang dan bulat. Kelak ia akan melihat ciri khas serta prinsip-prisip yang lebih luas, karena yang bulat tidak hanya bola.
Orang tua yang senantiasa merangsang anak untuk menemukan definisi makna dari benda-benda alam, akan besar manfaatnya bagi anak. Anak akan menyadari bahwa lingkungan alam merupakan sumber ide yang berharga.
Merangsang anak berpikir konseptual dengan menanyakan definisi makna, merupakan cara yang pa¬ling sulit. Kesulitan ini terletak pada bagaimana kita mengemas pertanyaan agar mudah dicerna anak.
Definisi Fungsional
Percakapan antara Hani dan Irfan dalam contoh di atas merupakan percakapan tentang definisi fungsional (manfaat) air. Orang tua merangsang anak untuk mampu menemukan manfaat yang bisa didapatkan dari air. Apa saja keuntungannya kalau tanaman diberi air.
Anak yang mengetahui manfaat air akan “menyadari” bahwa air tidaklah sekadar benda mati yang mengalir. Anak menyadari bahwa setiap gejala alam akan sangat berguna bagi kesejahteraan manusia.
Air adalah karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala yang luar biasa manfaatnya, ini jika orang tua sekaligus menanamkannya sebagai sarana untuk menanampak religiusitas kepada anak. Tidak ada satu pun ciptaan Tuhan yang sia-sia.
Orang tua dapat memberikan sentuhan pendidikan dengan menunjukkan manfaat benda-benda yang ada di sekitarnya. Ini tidak hanya bermanfaat untuk memacu kemampuan berpikir anak, juga bermanfaat untuk memberikan sentuhan perasaan dan kasih sayang.
Definisi manfaat memiliki muatan afeksi yang lebih tinggi dibanding definisi makna, sehingga membuka pintu kesadaran melalui definisi manfaat akan efektif. Orang tua dapat memberikan sentuhan kesadaran lingkungan, kesadaran kesetiakawanan sosial, bahkan kesadaran spiritual.
Orang tua dapat menanamkan keimanan dan kesadaran spiritual dengan menunjukkan bahwa alam semesta, termasuk objek-objek yang tampak sepele, merupakan bukti keagungan Tuhan yang sangat tinggi nilainya. Semuanya merupakan ciptaan Tuhan yang sangat berguna bagi manusia.
Misalnya, “Allah sangat sayang kepada kita. Allah memberi kita air, udara, tanaman-ta-naman … banyak sekali. Semuanya sangat berguna. Coba, kalau seandainya tidak ada air, apa yang terjadi kalau kita sedang kehausan?”
“Makanya kita harus mencintai semua ciptaan Al¬lah. Kita harus menjaganya agar tidak rusak. Kita harus cinta kepada Allah. Irfan kan cinta kepada Allah, ya?”
Definisi Operasional
Suatu saat tunjukkanlah kepada anak bagaimana cara memanfaatkan air. Atau tanyakanlah kepada si kecil apa yang bisa kita lakukan kalau kita sedang sakit.
Meminta anak untuk menunjukkan apa yang bisa dilakukan ketika sakit, merupakan contoh dari definisi operasional. Bisa juga disebut definisi penerapan. Kata-kata sifat biasanya lebih mudah ditanyakan definisi penerapannya daripada definisi makna. Anak lebih mudah untuk berpikir tentang apa yang bisa dilakukan ketika sakit daripada arti dari sakit itu sendiri.
Orang tua dapat bertanya kepada anak, apa yang bisa dilakukan anak kalau ia sedang kedinginan, gelisah menunggu teman, atau ketika sedang gembira. Orang tua dapat bertanya definisi panas, misalnya dengan, “Apa yang akan Vida lakukan kalau Visa sedang kepanasan?”
“Minum es…,” jawab Vida.
Anak yang terbiasa memahami definisi penerapan, akan terdorong untuk berpikir kreatif. Ia akan terangsang untuk melakukan hal-hal baru yang orisinal. Kemampuan berpikir besar dengan menghasilkan ide-ide segar, dimulai dari sini. Tetapi ini tidak bisa dipisahkan dari dari definisi manfaat.
Kehangatan dan penerimaan dari orang tua, terutama ibu, merupakan kunci penting dalam memberikan sentuhan pendidikan kepada anak. Termasuk ketika memacu kemampuan berpikir anak.*
Sumber: Majalah Hidayatullah, edisi Februari 2006
Matinya Perjuangan
Sering orangtua mendidik anak mereka hari ini bukan untuk mempersiapkan menantang masa depan. Akibatnya sering digilas masa depan
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim *
Sejarah peradaban besar pada dasarnya adalah perjalanan hidup seorang manusia besar. Ia menciptakan perubahan bukan karena banyaknya harta yang dimiliki, atau kuatnya kekuasaan yang ia genggam. Tetapi ia menciptakan perubahan yang menggerakkan orang-orang di sekelilingnya oleh kuatnya jiwa, tajamnya pikiran, kokohnya hati, dan tingginya daya tahan berjuang dikarenakan besarnya cita-cita. Kerapkali, cita-cita besar itu bukan digerakkan oleh gemerlapnya dunia yang sekejap, tetapi oleh keyakinan yang menjadi ideologi perjuangan.
Orang-orang yang merintis jalan perjuangan, adalah mereka yang merelakan kenikmatan hidup demi meraih apa yang menjadi keyakinannya. Bukan karena mereka tidak pernah berhasrat pada kenikmatan, tetapi karena kenikmatan itu menjadi kecil dan tidak ada artinya dibanding cita-cita besar yang terpendam dalam jiwa.
Demi memperjuangkan keyakinan, mereka bersedia memilih jalan hidup yang tidak populer; mengawali perjuangan dengan menghadapi senyum sinis dan bahkan bila perlu–seperti halnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam—dianggap gila dalam arti yang sebenarnya. Sedemikian kuatnya tudingan itu, sampai-sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
"Nuun, demi qalam dan apa yang mereka tulis, berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila." (Al-Qalam: 1-6).
Orang-orang yang merintis jalan adalah mereka yang memiliki kelapangan hati untuk belajar, meski kepada yang lebih muda dan masih amat hijau. Mereka inilah yang memenuhi dadanya dengan kelapangan dan sekaligus kepedihan tatkala melihat saudaranya berkubang dalam keburukan.
Ketegaran jiwanya bertemu dengan kelembutan yang penuh kesantunan. Kematangan ilmunya bertemu dengan kehausan untuk belajar dan kesediaan untuk mendengar. Mereka ingin sekali mencicipkan kebenaran, bahkan kepada orang yang telah terjerumus dalam kesesatan.
Inilah yang menggerakkan para pendurhaka mendatangi majelis-majelisnya, dan bahkan mendatangi lututnya untuk bersimpuh. Inilah yang menyebabkan orang-orang yang keras hati menjadi luluh dan bahkan berbalik menjadi sahabat dalam berjuang dan penderitaan. Inilah yang membangkitkan semangat untuk berbenah sesudah mereka berputus asa atas banyaknya keburukan yang telah mereka perbuat. Ini pula yang menyebabkan satu negeri, satu kawasan, atau sekurangnya satu kampung mendapat kucuran barakah dari Allah; baik yang Ia turunkan dari langit maupun yang Ia munculkan dari bumi.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, "Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (Al-A’raaf: 96).
Maka bertebaranlah kebaikan di dalamnya. Setiap yang masuk di tempat itu akan merasakan kebaikan yang merata. Hingga zaman bertukar, masa berganti. Para perintis telah beranjak tua dan sesudah itu pergi. Sementara yang dulu menyertai perjuangan di samping kiri, kanan, atau belakang, kini telah menjadi yang dituakan. Anak-anak yang dulu bermain-main lucu, sekarang sedang menentukan warna zamannya. Atau…, mereka ditentukan oleh semangat zaman yang melingkupinya.
Inilah titik krusial yang kerapkali menjadi awal terhentinya perjuangan. Banyak jebakan pada masa ini. Peralihan dari generasi perintis kepada generasi kedua, tepatnya generasi yang menyertai pahit getirnya perintisan ketika sudah mulai berjalan, jika tidak berhati-hati bisa terjatuh pada tafrith atau ifrath (kebablasan). Bisa terjebak pada tasahhul (menggampangkan) yang berlebihan atau sebaliknya tasyaddud (mempersulit) yang melampaui batas. Bisa terperangkap pada sikap jumud yang anti perubahan dan sulit menerima masukan, atau sebaliknya berlebihan dalam menanggapi perubahan dan bahkan tercebur dalam arus perubahan itu sendiri.
Sikap jumud membuat kita sulit menerima nasihat yang disampaikan dengan penuh kasih sayang sekalipun (tawashau bil-marhamah). Dalam keadaan seperti ini, amar ma’ruf nahi munkar bisa terhenti karena yang tua tidak bisa mendengar suara yang muda. Jika yang muda memiliki sikap takzim kepada yang tua, kebaikan insya Allah masih bertebaran di dalamnya.
Tetapi jika tidak segera disadari, situasi seperti ini dapat menyebabkan hilangnya sikap hormat dari yang muda kepada yang tua pada generasi berikutnya, yakni kelak ketika generasi ketiga memasuki masa dewasa, sementara generasi kedua menjalankan pola yang sama seperti yang pernah mereka jumpai. Mereka menjalankan pola yang sama, tetapi dengan penghayatan yang rendah atas apa yang seharusnya menjadi ruh perjuangan. Pada titik ini, generasi ketiga bisa berbalik menjadi berlebihan dalam menerima apapun yang datang dari luar, bahkan yang nyata-nyata bertentangan dengan nash Kitabullah. Alhasil, generasi ketiga justru menjadi perusak perjuangan generasi pertama. Na’udzubillahi min dzalik.
Apa yang salah sebenarnya? Banyak sebab yang bisa kita runut dan catat. Salah satunya adalah karena kita terjebak pada bentuk, lupa kepada yang prinsip. Atau sebaliknya, menyibukkan diri dengan prinsip tetapi mengabaikan bentuk. Kita tidak belajar secara utuh atas generasi terdahulu, sehingga lupa menyiapkan anak-anak memasuki masa depan. Bisa terjadi, kita bahkan tidak dapat membaca masa depan. Kita sibuk menjadi manusia masa lalu dan memaksa anak-anak untuk menjadi manusia masa lalu. Padahal ‘Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu mengingatkan agar kita mendidik anak-anak untuk sebuah zaman yang bukan zaman kita. Kata ‘Ali, "Jangan paksakan anakmu untuk menjadi seperti kamu, karena dia diciptakan bukan untuk zamanmu."
Di antara bentuk-bentuk pemaksaan adalah hilangnya kesediaan kita memahami anak-anak. Setiap kali ada masalah, kita rujukkan pada masa lalu, "Dulu bapak begini juga bisa." Atau, "Ah, dulu orangtua kita tidak pakai macam-macam juga bisa berhasil."
Kita lupa bahwa sekalipun prinsip-prinsip yang berjalan pada suatu zaman selalu sama, tetapi bentuknya bisa berubah. Kalau tidak disiapkan untuk menghadapi bentuk tantangan yang sesuai dengan zamannya, mereka bisa gagap mengantisipasi perubahan. Akibat berikutnya bisa tragis; mereka menjadi manusia kolot yang tidak memahami prinsip dengan baik dan tidak mampu memetakan bentuk persoalan yang sedang terjadi. Atau sebaliknya mereka kehilangan rasa hormat kepada yang tua sehingga berkata, "Ah, apa itu orangtua…! Gagasan mereka semuanya usang!"
Mereka tidak bisa membedakan mana yang tetap dan mana yang berubah, mana yang pasti dan mana yang praduga. Mereka memutlakkan apa yang ijtihadiyah, sehingga memunculkan generasi yang menisbikan semua perkara, bahkan yang jelas-jelas tetap dan mutlak. Dalam bentuk yang lebih ringan, pintu ijtihad dibuka lebar-lebar, meskipun terhadap orang yang tidak memiliki kualifikasi. Atau sebaliknya, melahirkan generasi yang tertutup pikirannya, kaku sikapnya, dan beku gagasannya. Seakan-akan agama ini telah menutup pintu bagi ijtihad.
Di antara sebab-sebab tidak munculnya generasi yang tanggap terhadap perubahan zaman tanpa hanyut di dalamnya, adalah tidak sejalannya dakwah dan jihad dengan pendidikan dan penyiapan generasi. Dakwah berjalan tanpa perencanaan yang matang sehingga kehilangan visi dan kepekaan.
Pendidikan berjalan tanpa arah yang jelas dan "ruh" yang kuat, sehingga mudah terpengaruh oleh tepuk-tangan, pemberitaan di koran atau pujian orang-orang yang tulus maupun mereka yang menikam secara halus dengan memuji.
Kita mendidik anak-anak untuk kita lihat hasilnya hari ini. Bukan untuk mempersiapkan mereka menantang masa depan seperti wasiat ‘Ali. Akibatnya, gemerlapnya prestasi hari ini tidak memberi bekal apa-apa bagi mereka untuk menciptakan masa depan. Sebaliknya, mereka menjadi orang yang hanya menyongsong masa depan atau bahkan digilas oleh masa depan.
Teringatlah saya kepada ayat Allah: "Tidaklah sepatutnya bagi orang-orang Mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri." (At-Taubah: 122).
Agar perjuangan tidak mati, atau terhenti justru oleh anak-anak kita sendiri, ada yang perlu kita renungkan dari ayat tadi. *
Berseteru Karena Cemburu
Sejak awal Tia tidak ingin repot dengan urusan anak yang riuh rendah. Tetapi keinginan untuk punya anak ada. Betapa pun, rasanya belum lengkap pernikahan tanpa hadirnya keturunan. Itu sebabnya, dari awal menikah Tia merasa perlu membicarakan dengan suaminya.
Penulis : Muhammad Fauzil Adhim
“Saya mau punya anak satu,” kata Tia, “Biar bisa mendidik dengan lebih baik, bisa memberi perhatian yang optimal, dan mengembangkan seluruh potensi anak.” Tia berharap-harap cemas menunggu reaksi suami¬nya. Tia sengaja mendahului mengutarakan gagasannya karena ia merasa masalah ini sangat prinsip baginya. Entah kenapa, suaminya masih diam saja.
“Kalau Mas sendiri ingin punya anak berapa?” tanya Tia.
“Saya sih….,” kata suaminya,”… pingin punya anak sembilan.”
Jawaban yang tak terduga. Jawaban yang sama sekali tak diharapkan Tia. Begitu mengejutkannya, sehingga Tia tak bisa dengan cepat menyikapinya dengan baik. Salah satunya karena ia tahu jawaban suaminya sangat serius.
Ah…, tetapi kebahagiaan pengantin baru dengan cepat mengalahkan semua kerisauannya. Dan tak lama, ia pun mengandung anak pertama; anak yang kemudian ia perlakukan sebagai anak tunggal. Selalu mencurahkan perhatian besar dan kadang lupa membedakan antara kasih-sayang dengan memanjakan.
Tanpa sadar, Tia sering mengajak bercanda anaknya yang semata wayang dengan kata-kata yang menjadikan anak merasa sebagai satu-satunya. Tak pernah ia mengajak anak untuk membayangkan indahnya punya saudara. Ketika anak mulai beranjak besar, Tia mulai merasa kerepotan. Satu anak saja sudah sangat repot, apalagi kalau dua. Tia coba yakinkan suaminya ketika lelaki yang menikahinya empat tahun lalu itu mulai mengajaknya bicara tentangkemungkinan punya anak lagi. Sekali lagi, Tia ingin menunjukkan kepada suaminya, repot sekali punya anak dua kalau yang pertama saja belum mandiri.
“Nantilah, Mas kalau anak kita sudah usia empat tahun. Kalau adek sudah masuk TK, kita bisa merencanakan untuk punyaanak lagi,” kata Tia. Suaminya setuju. Dan Tia kembali menghadapi kesibukan melayani anaknya yang semata wayang, Dita.
Sudah tiga tahun usia Dita sekarang. Aduh, anak yang manis itu kini sangat menyusahkan. Mandi susah, makan susah, sikat gigi apalagi. Kalau sudah di depan TV, malas sekali beranjak meski sekedar untuk mengambil sendok. Lagi-lagi Tia dan suaminya yang harus sibuk dengan semua itu, tanpa mengingat bahwa anak harus mulai belajar mandiri. Kadang kita sulit membedakan antara menyayangi dan memanjakan, sehingga karena takut memanjakan kita kurang memberikan kasih-sayang pada anak-anak kita, Sebalik-nya, karena ingin menyayangi, kita keliru memanjakan.
Menjelang anaknya berusia empat tahun, Tia mulai hamil. Saat anaknya memasuki usia 4,5 tahun lebih sedikit, Tia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat, Tangisnya keras memecah kesunyian. Hari-hari pertama, Dita sangat senang punya adik, Tetapi setelah satu minggu, kecemburuannya mulai tampak. Setelah adiknya lahir, perhatian ibunya menjadi jauh berkurang. Dita mulai menyerang adiknya. Tak cukup dengan itu, belakangan Dita menunjukka perlawanan. Kerapkali ia melarang ibunya meninabobol kan si adik. “Adik sama bapak aja,” teriak Dita.
Tak pelak, suami Dita yang harus menggendong dan menangani si kecil kalau Dita sedang menampakkan perlawanannya. Tia sendiri kerap menyalahkan keingnan suaminya untuk punya anak lagi, sehingga menjadi pembenar Dita untuk menunjukkan perlawanan. Keinginan Dita untuk menguasai ibunya hanya untuk dia saja, seakan gayung bersambut dengan sikap ibunya.
Tetapi…
Tia akhirnya merasa sangat kerepotan. Bagaimara pun juga, ia harus memberi perhatian kepada anak lelakinya. Kalau Dita terus mengganggu, tak bisa Tia mengurus si kecil dengan baik. Masalahnya, Dita sudah terlanjur “menguasai ibunya” kalau sedang minta diperhatikan. Semakin dituruti keinginannya, rasa cemburu Dita terhadap adiknya justru tampak semakin besar. Bukan semakin reda. Sekarang, baru menyusui si kecil sebentar saja, Dita sudah menunjukkan marahnya. Sudah tak kurang-kurang Tia menyampaikan kepada Dita bahwa sebagai kakak, Dita harus sayang sama adik Tetapi Dita tampak semakin keras saja. Rasa cemburunva semakin menyala-nyala.
Apa yang salah sebenarnya dengan Dita? Tak ada yang salah. Dita berseteru dengan adiknya karena cemburu. Bahasa psikologinya sibling rivalry (persaingan antar saudara). Rasa cemburunya besar, dan bahkan cenderung menolak adik, karena ia memang diperlaku-kan sebagai anak tunggal oleh ibunya. Pada saat yang sama, Tia sebagai ibunya tidak mempersiapkan anak untuk memiliki adik. la tidak menumbuhkan keinginan, harapan, dan bayangan tentang apa yang bisa Dita lakukan untuk adiknya kelak. la juga tidak menata mental anak menghadapi perubahan menjelang adiknya lahir. Seperti Tia, banyak di antara kita yang tidak merencanakan kelahiran dengan baik. Anak-anak kita punya adik karena adiknya memang sudah lahir. la lahir begitu saja. Dan tiba-tiba sesudah kelahiran, segala sesuatu berubah. Kita sendiri juga berubah. Berubah karena hams ada yang kita hadapi: anak kita yang baru lahir dengan segala tangis dan pipisnya. Kita berubah bukan karena secara sengaja merencanakan untuk berubah, mengiringi kelahiran anak kita.
Ujung-ujungnya, kita terjebak oleh ketakutan dan mendapat pembenaran dari repotnya menangani anak. Punya anak satu saja repot, apalagi dua. Punya anak dua lebih repot, kok mau tiga. Padahal hitung-hitungannya tidak demikian. Punya anak satu memang repot, karena sumber perhatian anak hanya dari orangtua. Punya anak dua? Sama saja. Sama-sama repot, karena mereka cenderung bersaing berebut perhatian. Tapi tidak kalau anak sudah tiga atau empat. Mereka akan belajar bekerja sama, bermain bersama-sama dan sesekali bertengkar bersama-sama. Tetapi bukankah melalui peristiwa semacam ini mereka belajar keadilan? Sayangnya sumbu emosi kita begitu pendek, sehingga mudah naik pitam saat mereka bertengkar. Apalagi kalau kita sedang capek. Saya tidak berpanjang-panjang dengan ini, sebab masalah paling pokok umumnya adalah sikap kita yang tidak mau direpoti oleh anak. Berapa pun anak yang kita asuh kalau kita memang tidak mau repot, kehadiran mereka akan sangat merepotkan kita, sekalipun mereka sudah menjadi anak-anak manis yang sangat menyenangkan. Seperti halnya keengganan kita menemani anak dengan berlindung di balik ungkapan terindah yang pernah saya dengar,
“Yang paling penting kan kualitas, bukan banyaknya waktu yang kita habiskan bersama anak.” Kita ungkapkan itu dengan mantap, tetapi lupa menakar waktu berkualitas itu yang seperti apa. Kita juga lupa bertanya, waktu berkualitas itu menurut kita atau menurut anak. Jangan-jangan yang kita anggap .vaktu berkualitas bersama anak, sesungguhnya bagi mereka sama saja dengan waktu-waktu lain. Sama-sama tak berarti. Sama-sama membosankan.
Berawal dari sikap tidak mau direpoti anak, jalan pintas kerap menjadi pilihan yang kita ambil tanpa sadar. Begitu anak menangis, atau bikin kita merasa repot. Termasuk repot karena pertanyaan-pertanyaan cerdas anak, cepat-cepat kita berikan televisi pada mereka. Kita berikan mereka mimpi-mimpi tentang asyiknya melihat benda ajaib bernama televisi, “E, coba. Kita lihat, yuk….Bagus lho acara TV-nya.” Anak pun segera bergegas lari mematut diri di depan TV. Lama sekali. Begitu Iamanya
sampai-sampai kita lupa bahwa amat banyak hal yang telah mempengaruhi otak dan diri anak, hingga ketika berapa waktu kemudian tampak perilaku yang tidak menenteramkan hati, kita marah pada acara TV. Anehnya, kita tetap rawat dan sayang-sayangi kotak kaca ajaib itu.
Ah…, betapa aneh-nya kita ini. Merusak tapi dicintai. Atau saya yang semakin bodoh? Tidak mampu memahami bahwa hidup di dunia modern memang harus memiliki semua yang disebut modern?
Baiklah, kita kembali berbincang tentang TV. Sekurangnya ada dua hal yang membuat kita perlu mempertimbangkan kembali kehadiran TV di rumah kita, sekurangnya mengurangi kehadirannya dalam kehidupan anak kita. Pertama, televisi menjadikan otak pasif, melumpuhkan kemampuan berpikir kritis, dan merusak terutama sekali kecerdasan spasial di otak sebelah kanan. Kedua, semakin banyak nonton TV, anak semakin kurang bergerak. Padahal, seperti yang ditulis Carla Hannaford, Ph.D. dalam Smart Moves: Why Learning is not All in Your Head, gerakan membangkitkan dan mengaktifkan kapasitas mental kita. Gerakan menyatu-kan dan menarik informasi-informasi baru ke dalam jaringan neuron kita. Gerakan sangat vital bagi semua tindakan untuk mewujudkan dan mengungkapkan pembelajaran kita, pemahaman kita dan diri kita.
Alhasil, jangan terkejut jika anak kita mengalami gangguan mental maupun gangguan belajar, sementara kita tahu dengan pasti bahwa ia sejak kecil selalu ditimang-timang oleh TV. Jangan bertanya, gen siapa yang menyebabkan anak bermasalah sehingga menampakkan perilaku seperti anak autis jika kitalah sebenarnya sebagai orangtua yang memperlakukan mereka secara autis. Kita jarang mau bicara karena setiap kali mereka rewel, cepat-cepat kita nyalakan TV.
Tetapi bukan ini perbincangan kita saat ini. Saya sebenarnya cuma mau bertutur bahwa kecemburuan anak terhadap adiknya, Iebih-lebih yang sampai pada tingkat menolak, sebenarnya kerapkali bersumber pada sikap awa1 kita. Saya cuma mau berbincang bahwa tingkah laku mereka yang sangat merepotkan, tidak jarang justru berawal dari sikap kita yang tidak mau direpoti anak. Meski pada sebagian besar kasus, perilaku mereka yang bikin kita geleng-geleng kepala dan membuat ibunya mengelus-elus dada sebenarnya karena kecerdasan mereka yang luar biasa. Pada usia di bawah sepuluh tahun, kadang bahkan berlanjut hingga usia sesudahnya, manifestasi kecerdasan itu adalah gerakannya yang sangat aktif. Sesudahnya adalah kemampuan berpikir yang sangat kritis, cerdas dan kreatif.
Emmm… jangan salah paham. Saya bukan orangtua yang luar biasa. Saya masih sering merasa betapa merepotkannya mereka. Saya juga masih sering marah. Tetapi tak ada lagikah bagi kita ruang untuk saling bertegur-sapa, saling mengingatkan, saling menasehati dan termasuk saling memberitahu agar tidak melemahkan diri sendiri dengan sumber pengaruh yang kita tidak mampu mengendalikan isinya sepuluh menit yang akan datang, yakni televisi?*
Sumber: Majalah Hidayatullah, edisi Desember 2005
Belajar Beramal Islami Bersama.
Rasulullah saw. pernah mengingatkan, untuk mengawali bayi-bayi kita dengan kalimat laa ilaaha illaLlah." Kalimat suci inilah yang kelak akan membekas pada otak dan hati mereka
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Kalau anak-anak itu kelak tak menjadikan Tuhannya sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan, barangkali kitalah penyebab utamanya. Kitalah yang menjadikan hati anak-anak itu tak dekat dengan Tuhannya. Bukan karena kita tak pernah mengenalkan –meskipun barangkali ada yang demikian—tetapi karena keliru dalam memperkenalkan Tuhan kepada anak. Kerapkali, anak-anak lebih sering mendengar asma Allah dalam suasana menakutkan.
Mereka mengenal Allah dengan sifat-sifat jalaliyah-Nya, sementara sifat jamaliyah-Nya hampir-hampir tak mereka ketahui kecuali namanya saja. Mereka mendengar asma Allah ketika orangtua hendak menghukumnya. Sedangkan saat gembira, yang mereka ketahui adalah boneka barbie. Maka tak salah kalau kemudian mereka menyebut nama Allah hanya di saat terjadi musibah yang mengguncang atau saat kematian datang menghampiri orang-orang tersayang.
Astaghfirullahal ‘adziim…
Anak-anak kita sering mendengar nama Allah ketika mereka sedang melakukan kesalahan, atau saat kita membelalakkan mata untuk mengeluarkan ancaman. Ketika mereka berbuat "keliru" –meski terkadang kekeliruan itu sebenarnya ada pada kita—asma Allah terdengar keras di telinga mereka oleh teriakan kita, "Ayo…. Nggak boleh! Dosa!!! Allah nggak suka sama orang yang sering berbuat dosa."
Atau, saat mereka tak sanggup menghabiskan nasi yang memang terlalu banyak untuk ukuran mereka, kita berteriak, "E… nggak boleh begitu. Harus dihabiskan. Kalau nggak dihabiskan, namanya muba…? Muba…? Mubazir!!! Mubazir itu temannya setan. Nanti Allah murka, lho."
Setiap saat nama Allah yang mereka dengar lebih banyak dalam suasana negatif; suasana yang membuat manusia justru cenderung ingin lari. Padahal kita diperintahkan untuk mendakwahkan agama ini, termasuk kepada anak kita, dengan cara "mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan membuat mereka lari". Anak tidak merasa dekat dengan Tuhannya jika kesan yang ia rasakan tidak menggembirakan. Sama seperti penggunaan kendaraan bermotor yang cenderung menghindari polisi, bahkan di saat membutuhkan pertolongan. Mereka "menjauh" karena telanjur memiliki kesan negatif yang tidak menyenangkan. Jika ada pemicu yang cukup, kesan negatif itu dapat menjadi benih-benih penentangan kepada agama; Allah dan rasul-Nya. Na’udzubillahi min dzalik.
Rasanya, telah cukup pelajaran yang terbentang di hadapan mata kita. Anak-anak yang dulu paling keras mengumandangkan adzan, sekarang sudah ada yang menjadi penentang perintah Tuhan. Anak-anak yang dulu segera berlari menuju tempat wudhu begitu mendengar suara batuk bapaknya di saat maghrib, sekarang di antara mereka ada yang berlari meninggalkan agama. Mereka mengganti keyakinannya pada agama dengan kepercayaan yang kuat pada pemikiran manusia, karena mereka tak sanggup merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Sebab, semenjak kecil mereka tak biasa menangkap dan merasakan kasih-sayang Allah.
Agaknya, ada yang salah pada cara kita memperkenalkan Allah kepada anak. Setiap memulai pekerjaan, apa pun bentuknya, kita ajari mereka mengucap basmalah. Kita ajari mereka menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tetapi kedua sifat yang harus selalu disebut saat mengawali pekerjaan itu, hampir-hampir tak pernah kita kenalkan kepada mereka (atau jangan-jangan kita sendiri tak mengenalnya?). Sehingga bertentangan apa yang mereka rasakan dengan apa yang mereka ucapkan tentang Tuhannya.
Bercermin pada perintah Nabi saw. dan urutan turunnya ayat-ayat suci yang awal, ada beberapa hal yang patut kita catat dengan cermat. Seraya memohon hidayah kepada Allah atas diri kita dan anak-anak kita, mari kita periksa catatan berikut ini:
Awali Bayimu dengan Laa Ilaaha IllaLlah
Rasulullah saw. pernah mengingatkan, "Awalilah bayi-bayimu dengan kalimat laa ilaaha illaLlah."
Kalimat suci inilah yang perlu kita kenalkan di awal kehidupan bayi-bayi kita, sehingga membekas pada otaknya dan menghidupkan cahaya hatinya. Apa yang didengar bayi di saat-saat awal kehidupannya akan berpengaruh pada perkembangan berikutnya, khususnya terhadap pesan-pesan yang disampaikan dengan cara yang mengesankan. Suara ibu yang terdengar berbeda dari suara-suara lain, jelas pengucapannya, terasa seperti mengajarkan (teaching style) atau mengajak berbincang akrab (conversational quality), memberi pengaruh yang lebih besar bagi perkembangan bayi. Selain menguatkan pesan pada diri anak, cara ibu berbicara seperti itu juga secara nyata meningkatkan IQ balita, khususnya usia 0-2 tahun. Begitu pelajaran yang bisa saya petik dari hasil penelitian Bradley & Caldwell berjudul 174 Children: A Study of the Relationship between Home Environment and Cognitive Development during the First 5 Years.
Apabila anak sudah mulai besar dan dapat menirukan apa yang kita ucapkan, Rasulullah saw. memberikan contoh bagaimana mengajarkan untaian kalimat yang sangat berharga untuk keimanan anak di masa mendatang. Kepada Ibnu ‘Abbas yang ketika itu masih kecil, Rasulullah saw. berpesan:
"Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasehat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh ummat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu.Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering." (HR. At-Tirmidzi).
Dalam riwayat lain disebutkan, "Jagalah hak-hak Allah, niscaya engkau akan mendapatkan Dia ada di hadapanmu. Kenalilah Allah ketika engkau berada dalam kelapangan, niscaya Allah pun akan mengingatmu ketika engkau berada dalam kesempitan. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang salah dalam dirimu tidak mesti engkau langsung mendapatkan hukuman-Nya. Dan juga apa-apa yang menimpa dirimu dalam bentuk musibah atau hukuman tidak berarti disebabkan oleh kesalahanmu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu akan datang ketika engkau berada dalam kesabaran, dan bersama kesempitan akan ada kelapangan. Juga bersama kesulitan akan ada kemudahan."
Apa yang bisa kita petik dari hadis ini? Tak ada penolong kecuali Allah Yang Maha Kuasa; Allah yang senantiasa membalas setiap kebaikan. Tak ada tempat meminta kecuali Allah. Tak ada tempat bergantung kecuali Allah. Dan itu semua menunjukkan kepada anak bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah.
Wallahu a’lam bishawab.
Iqra’ Bismirabbikal ladzii Khalaq
Sifat Allah yang pertama kali dikenalkan oleh-Nya kepada kita adalah al-Khaliq dan al-Karim, sebagaimana firman-Nya, "Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita berikan kepada anak saat mereka mulai bisa kita ajak berbicara. Pertama, memperkenalkan Allah kepada anak melalui sifat-Nya yang pertama kali dikenalkan, yakni al-Khaliq (Maha Pencipta). Kita tunjukkan kepada anak-anak kita bahwa kemana pun kita menghadap wajah kita, di situ kita menemukan ciptaan Allah. Kita tumbuhkan kesadaran dan kepekaan pada mereka, bahwa segala sesuatu yang ada di sekelilingnya adalah ciptaan Allah. Semoga dengan demikian, akan muncul kekaguman anak kepada Allah. Ia merasa kagum, sehingga tergerak untuk tunduk kepada-Nya.
Kedua, kita ajak anak untuk mengenali dirinya dan mensyukuri nikmat yang melekat pada anggota badannya. Dari sini kita ajak mereka menyadari bahwa Allah Yang Menciptakan semua itu. Pelahan-lahan kita rangsang mereka untuk menemukan amanah di balik kesempurnaan penciptaan anggota badannya. Katakan, misalnya, pada anak yang menjelang usia dua tahun, "Mana matanya? Wow, matanya dua, ya? Berbinar-binar. Alhamdulillah, Allah ciptakan mata yang bagus untuk Owi. Matanya buat apa, Nak?"
Secara bertahap, kita ajarkan kepada anak proses penciptaan manusia. Tugas mengajarkan ini, kelak ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, dapat dijalankan oleh orangtua bersama guru di sekolah. Selain merangsang kecerdasan mereka, tujuan paling pokok adalah menumbuhkan kesadaran –bukan hanya pengetahuan—bahwa ia ciptaan Allah dan karena itu harus menggunakan hidupnya untuk Allah.
Ketiga, memberi sentuhan kepada anak tentang sifat kedua yang pertama kali diperkenalkan oleh Allah kepada kita, yakni al-Karim. Di dalam sifat ini berhimpun dua keagungan, yakni kemuliaan dan kepemurahan. Kita asah kepekaan anak untuk menangkap tanda-tanda kemuliaan dan sifat pemurah Allah dalam kehidupan mereka sehari-hari, sehingga tumbuh kecintaan dan pengharapan kepada Allah. Sesungguhnya manusia cenderung mencintai mereka yang mencintai dirinya, cenderung menyukai yang berbuat baik kepada dirinya dan memuliakan mereka yang mulia.
Wallahu a’lam bishawab.
Penulis adalah penulis kolom rubrik parenting di Majalah Hidayatullah
Bangkitkan Jiwa mereka!!!
Mengapa kita mulai dari jiwa? Karena dari sanalah perubahan bermula.
Otak cerdas, kemampuan berpikir yang tajam dan keterampilan yang hebat tak ada gunanya dalam kehidupan, bahkan bagi diri kita sendri, jika jiwa kita lemah. Tak ada motivasi, takada gairah. Anak-anak yang briliian otaknya, tetap rusak orientasi hidupnya, justru lebih membahayakan daripada mereka yang biasa-biasa saja.
Penulis : Mohammad Fauzil Adhim
Sebaliknya, jika bergabung pada diri anak kita empat perkara sekaligus, yakni akidah yang kuat, jiwa yang hidup dan bercahaya, otak yang cemerlang dan keterampilan yang hebat, maka kita bisa berharap kehidupan lebih baik di masa yang akan datang. Bukan saja untuk dirinya, melainkan juga untuk umat manusia. Sesungguhnya orang-orang pintar mengikuti mereka yang punya inisiatif. Sedangkan orang-orang yang kaya inisiatif, mengikuti mereka yang orientasi hidupnya kuat. Sementara orang-orang yang orientasi hidupnya kuat, akan lebih mudah mengikuti mereka yang visioner, memiliki pijakan keyakinan yang kokoh, idealisme yang kuat, kapasitas sebagai konseptor brilian dan sekaligus siap menjadi pelaksana. Mereka inilah ideolog yang kharismatik. Bukan orang yang sibuk mempelajari ideologi. Mereka inilah yang menjadi penggerak perubahan revolusioner sepanjang sejarah umat manusia.
Antara Ideolog dan Utopis
Umumnya, seorang ideolog memiliki mimpi yang kuat tentang masa depan. la sangat yakin dan bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencapainya. Bukan demi kepentingan dirinya, tetapi demi keyakinannya. Demi akidahnya. Bekerja sungguh-sungguh karena yakin itu merupakan bagian dari tanggung jawabnya. Dan untuk sebuah tanggung jawab, sama mulianya menggali parit dengan merumuskan konsep perjuangan yang rumit.
Inilah bedanya ideolog dengan utopis. Seorang ideolog siap mengotori tangannya dengan debu, meski pikirannya melangit dan cita-citanya membumbung tinggi. la menggerakkan manusia dengan kehadirannya, kata-katanya yang bertenaga, motivasinya yang kuat dan inspirasinya yang menggugah sehingga orang berbondong-bondong menyambut mimpinya tentang masa depan. Ideolog adalah “orang gila” yang membuat sekian banyak manusia rela meninggalkan kenikmatan agar bisa bersama-sama mewujudkan mimpi.
Sedangkan utopis hidup dengan angan-angan dan inisiatif yang berlimpah, tetapi tidak punya kosa kata selain perintah. la duduk di singgasana konsep yang pelik dan pemikiran yang rumit, tetapi tidak pandai membaca kekurangan diri sendiri. la hanya pandai membaca kesalahan lingkungan, orang lain, dan keadaan untuk menjelaskan mengapa mimpinya tak bisa terwujud. Boleh jadi ia punya mimpi besar yang agung, tetapi tak ada keagungan jiwa yang memadai untuk mewujudkan mimpi tersebut.
Apa yang bisa kita petik dari perbandingan sederhana ini? Soal motivasi dan keyakinan. Seorang ideolog dipenuhi dengan motivasi yang menyala-nyala, sehingga kehadirannya menggugah manusia, kata-katanya menggerakkan dan semangatnya berapi-api. la memiliki arah yang sangat jelas sehingga melenyapkan keraguan orang yang bimbang dan memantapkan orang yang sudah yakin. la tak sekadar cerdas. Lebih dari itu, jiwanya sangat hidup!
Membangun Motivasi Anak
Apa yang dihasilkan oleh kuatnya motivasi? Level energi. Motivasi yang besar menaikkan level energi dan aktivitas. Orang-orang yang sangat bersemangat setiap kali melakukan aktivitas, dan seperti tak ada lelahnya sehingga sanggup melakukan kegiatan yang melebihi kesanggupan manusia secara umum, biasanya bisa dilacak akar motivasinya yang besar dan keyakinannya yang kuat.
Mereka memiliki energi yang sangat besar karena keyakinannya menggerakkan dia untuk berbuat. Keyakinan yang kuat menjadi motivator, dan motivasi meningkatkan level energinya. Artinya, sekadar memiliki badan yang kuat tidak membuat seseorang kuat bekerja untuk keyakinannya dan idealismenya.
Bukankah Jenderal Soedirman lemah badannya, sakit-sakitan tubuhnya? Bukankah Syaikh Ahmad Yassin lumpuh badannya? Tetapi dari orang-orang yang sakit badannya itulah ribuan manusia bergerak. Bukan karena mereka memancing rasa iba, tetapi motivasi mereka yang sangat kuat mampu melampaui kelemahan tubuhnya. Mereka tetap memiliki energi untuk bertindak dan mampu menggerakkan jiwa manusia, meski badannya susah bergerak.
Nah, jika anak-anak kita memiliki motivasi yang kuat, mereka akan memiliki energi yang besar untuk belajar. Mereka tergerak untuk berusaha dengan sungguh-sungguh melakukan apa yang menurutnya baik. Semakin kuat motivasinya, semakin kuat usahanya.
Motivasi juga berpengaruh pada perhatian. Semakin besar perhatian, akan semakin efektif anak belajar. Perhatian juga meningkatkan daya ingat anak. Apa yang terjadi pada Imam Syafi’i, jika kita mengingat kembali sejarah hidupnya di masa kecil, erat kaitannya dengan motivasi yang kuat saat belajar. Motivasi itulah yang meningkatkan perhatian Imam Syafi’i kecil sehingga daya ingatnya sangat besar.
Motivasi yang kuat juga mempengaruhi tingkat ketekunan anak saat mempelajari sesuatu. Jika motivasinya bersifat intrinsik, anak akan memperoleh penguat yang semakin menyalakan semangatnya setiap kali melakukan kegiatan.
Alhasil, motivasi yang kuat menjadikan belajar terasa mengasyikkan, meskipun kelihatannya tidak menyenangkan. Anak merasa asyik karena menikmati betul belajarnya, bukan karena ada kegiatan yang menyenangkan saat belajar. Anak menemukan kesenangan saat belajar karena kegiatan itu bermakna baginya. Sementara perhatian dan makna merapakan dua hal yang menguatkan ingatan. Ini berarti, keseriusan membangun motivasi anak sama dengan menyiapkan landasan.
Nah, pembicaraan tentang fikih mulainya dari wudhu. Sedangkan pembicaraan tentang iman mulainya dari niat. Jika Anda membuka Arba’in Nawawiyah, hadits pertama juga tentang niat. Sesungguhnya niat bukanlah apa yang kita ucapkan dengan lisan dan dikatakan dalam hati, tetapi apa yang menggerakkan kita untuk bertindak.
Kapan Memulainya?
Secara sederhana, usia 2-4 tahun adalah masa untuk membangun harga diri (self esteem) anak agar memiliki citra diri, penerimaan diri, dan percaya diri yang tinggi. Pada rentang usia ini orangtua maupun guru di kelompokbermain (KB) bertugas menciptakan perasaan positif terhadap kegiatan belajar.
Harga diri yang tinggi cenderung membangkitkan motivasi intrinsik dalam diri anak, sehingga membuatnya bersemangat belajar. Rasa ingin tahunya berkembang dan perasaan positifnya terhadap belajar tumbuh dengan baik.
Pada rentang usia berikutnya, 4-6 tahun, orangtua dan guru masih bertugas membangun harga diri anak agar lebih kokoh lagi serta menguatkan perasaan positifnya terhadap belajar. Tugas ini perlu diperhatikan sungguh-sungguh sampai anak usia delapan tahun. Bedanya, pada rentang usia 4-6 tahun, orangtua perlu memberi pengalaman yang jauh lebih kaya agar minat anak berkembang. Selama rentang waktu ini, betapa pun kita melihat aspek kecerdasan yang menonjol dalam diri anak, orangtua maupun guru di TK tidak diperkenankan untuk hanya memperhatikan bakat atau sisi kecerdasan yang menonjol. Pada masa ini, tugas orangtua adalah mengembangkan minat anak.
Selama periode 4-6 tahun, orangtua maupun guru TK bisa membangun perasaan positif dan ideal tentang tokoh atau kegiatan yang mulia. Dari ini, kita bisa berharap minat, motivasi, dan sikap anak akan terbentuk.
Berikutnya, pada periode usia 6-8 tahun, orangtua dan guru perlu membangun sense of competence -kesadaran tentang kompetensi- pada diri anak. Pada saat yang sama, orangtua sudah bisa menanamkan pada diri mereka motivasi yang bersifat ideal karena digerakkan oleh keyakinannya pada agama. Ini perlu dilakukan secara terencana, sehingga pada usia delapan tahun -selambatnya sembilan tahun- kita bisa berharap anak-anak itu menjadi pembelajar mandiri karena budaya belajarnya telah terbentuk dan sekaligus memotivasi kuat. Tugas guru -juga orangtua- pada rentang usia berikutnyalah untuk memperkuat dan menjaganya. Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber : Majalah Suara Hidayatullah, Ed. Mei 2007
Antara Orangtua dan Tontonan Anak
Islam tegas memerintahkan kita untuk memuliakan dan mengajarkan anak-anak dengan akhlak yang baik. Anak itu amanah, kalau kita salah mendidik, dia bisa menjadi ujian, bahkan bisa menjadi musuh.
Elly Risman, Konselor Yayasan Kita dan Buah Hati
Orangtua zaman sekarang bingung menghadapi tontonan TV dan perkembangan IT yang dampaknya menghawatirkan anak kita
Ya. Anak-anak bisa seperti itu karena pendidikan agamanya lemah. Komunikasi dengan orangtua sangat buruk. Misalnya anak tanya tentang kondom tidak boleh, bertanya tentang perkosaan dan sodomi dimarahi. Padahal itu semua mereka lihat di TV. Orangtua tak siap jadi orangtua. Tak tahu tahapan perkembangan anak. Mereka masih memegang pendidikan seks sebagai sesuatu yang tabu, tidak layak dibicarakan. Kalaupun ingin berbicara tak tahu bagaimana memulainya, sampai kapan dan sejauh mana.
Islam tegas memerintahkan kita untuk memuliakan dan mengajarkan anak-anak dengan akhlak yang baik. Anak itu amanah, kalau kita salah mendidik, dia bisa menjadi ujian, bahkan bisa menjadi musuh. Orangtua sering tidak memuliakan anaknya. Kalau mereka bertanya malah dibentak. Padahal setiap anak punya hak untuk mengetahui sesuatu yang dia lihat. Mereka butuh informasi yang benar dan lurus, termasuk masalah seks.
Pernahkah orangtua bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita penuhi hak anak-anak? Sudahkah kita mendengar perasaan mereka? Sudah cukupkah kita memberi bekal kepercayaan diri yang benar pada mereka? Bukankah bekal kepercayaan diri mereka sudah banyak kita curi dengan cara pendidikan yang salah?
Orangtua masih bersikap double bounce (plin-plan) pada anak. Suatu saat dibolehkan, tapi pada saat lain dilarang. Dampaknya anak merasa tidak mampu, tidak berharga, sehingga gampang dipengaruhi. Pendidikan agamanya mestinya dari orangtua sendiri. Dari sini saya berfikir, berat benar pekerjaan orangtua sekarang ini.
Apakah keadaannya memang sudah segawat itu?
Iya. Sekarang ini kepala si anak seperti dipanah dari segala penjuru; dari atas, bawah, kiri, kanan dan belakang. Mereka dituntut macam-macam. Prestasilah, ranking, dan macam-macam. Padahal Allah menciptakan manusia itu berbeda-beda. Tapi kita menuntut berlebihan, seperti harus mendapatkan ranking. Itu artinya semua mata pelajaran harus bagus. Padahal tidak semua mata pelajaran harus bagus. Ada yang kuat matematikanya, bahasanya, atau seninya. Dalam teori multiple intelligents, cerdas itu macam-macam. Ada cerdas angka, cerdas ruang, dan cerdas gerak. Kita harus tahu itu.
Orangtua harus mengetahui kecerdasan yang dimiliki anaknya. Jika menuntut berlebihan maka membuat anak tak terpenuhi haknya. Itu baru satu panah, dari orangtua. Lalu sekolah, guru-gurunya, lingkungannya, dan semuanya “memanah” dia. Lalu ada tawaran baru dalam bentuk pornografi. Banyak beredar komik porno, VCD porno, internet porno, narkoba, ajakan berantem.
Ada orangtua yang merasa tak tega bila anaknya tak mengikuti perkembangan kemudian anaknya dibelikan HP berkamera. Apa akibatnya? Anak-anak itu kemudian bukan hanya mengirim SMS porno, tapi juga MMS (foto) porno.
Pengaruh itu tampaknya tak terbendung, begitu?
Saya berani bilang, anak kita menjadi sasaran industri seks internasional. Silakan buka situs international media watch di Amerika. Di situ ada tulisan tentang The Drug of the New Millennium. Di situ saya memperoleh informasi bahwa memang di sana memproduksi film, VCD, dan komik porno. Film-film itu dibuat sangat murah dengan bintang film yang tidak terkenal. Kemudian dilempar ke sini. Itu bisa mencuci anak kita empat hal.
Satu, dasar-dasar kepercayaan, bahwa seks itu fun, “Kamu butuh, jangan sok alim.” Lalu, harga diri. “Kalau sudah terima uang sekian boleh pegang, lebih banyak lagi bisa cium, lebih banyak lagi boleh hubungan badan.” Itu terjadi karena harga diri tidak ada. Kenapa? Karena di rumah waktu belajar pasang tali sepatu dibentak. “Lama amat, sini Mama bantuin!” Anak tidak pernah punya kepercayaan pada kemampuannya. Dari situ asalnya, jadi ketika sudah gede dia tak pernah merasa dirinya berharga. Ketiga, sikap yang negatif dibuat jadi positif. “Bukan pacaran kalau kamu tidak ada sentuhan fisik”. Emosinya dibuat jadi kacau.
http://www.hidayatullah.com/
Anak Harus Paham Ada Agama Selain Islam
Jika anak tak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka akanmengalami kebingungan, mengapa hanya Islam diridhai Allah
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Ada seorang kepala sekolah, kepada murid-muridnya selalu menunjukkan bahwa di dunia ini hanya ada satu agama. Hal yang sama juga dilakukan kepada anaknya sendiri. Setiap kali ada hari libur keagamaan non-Islam, sekolah tetap masuk dan guru tidak boleh menginformasikan yang sesungguhnya. Guru hanya boleh menginformasikan kepada murid dengan satu ungkapan: "hari libur nasional". Apa pun liburnya! Sungguh, sebuah usaha yang serius!
Hasilnya, anak-anak tidak mengenal perbedaan semenjak awal. Dan inilah awal persoalan itu. Suatu ketika anaknya bertemu dengan anak rekannya yang non- Muslim. Begitu tahu anak itu bukan Muslim, anaknya segera bertindak agresif. Anaknya menyerang dengan kata-kata yang tidak patut sehingga anak rekannya menangis. Peristiwa ini menyebabkan ia merasa risau, apa betul sikap anaknya yang seperti itu.
Tetapi ini belum seberapa. Ada peristiwa lain yang lebih memilukan. Suatu hari salah seorang muridnya mengalami peristiwa "mencengangkan". Ia berjumpa seorang non-Muslim, yang akhlaknya sangat baik. Sesuatu yang tak pernah terduga sebelumnya, sehingga menimbulkan kesan mendalam bahwa ada agama selain Islam dan agama itu baik karena orangnya sangat baik.
Apa yang bisa kita petik dari kejadian ini? Semangat saja tidak cukup. Mendidik tanpa semangat memang membuat ucapan-ucapan kita kering tanpa makna. Tetapi keinginan besar menjaga akidah anak tanpa memahami bagaimana seharusnya melakukan tarbiyah, justru bisa membahayakan. Alih-alih menumbuhkan kecintaan pada agama, justru membuat anak terperangah ketika mendapati pengalaman yang berbeda. Beruntung kalau anak mengkomunikasikan, kita bisa meluruskan segera. Kalau tidak? Kekeliruan berpikir itu bisa terbawa ke masa-masa berikutnya, hingga ia dewasa. Na'udzubillahi min dzaalik.
Hanya Islam yang Allah Ridhai
Apa yang harus kita lakukan agar anak-anak bangga dengan agamanya, sehingga ia akan belajar meyakini dengan sungguh-sungguh? Tunjukkan kepadanya kesempurnaan agama ini. Yakinkan kepada mereka bahwa inilah agama yang paling benar melalui pembuktian yang cerdas. Sesudah melakukan pembuktian, kita ajarkan kepada mereka untuk percaya pada yang ghaib dan menggerakkan jiwa mereka untuk berbuat baik. Hanya dengan meyakini bahwa agamanya yang benar, mereka akan belajar bertoleransi secara tepat terhadap pemeluk agama lain. Tentang ini, silakan baca kembali kolom parenting bertajuk Ajarkan Jihad Sejak Dini di majalah Suara Hidayatullah kita ini.
Dalam urusan akidah, ajarkan dengan penuh percaya diri firman Allah Ta'ala: "... Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. " (Al-Maa'idah [5]: 3).
Melalui penjelasan yang terang dan mantap, anak mengetahui bahwa agama di dunia ini banyak jumlahnya, tapi hanya satu yang Allah Ta'ala ridhai. Baik orangtua maupun guru perlu menunjukkan kepada anak sejarah agama-agama sehingga anak bisa memahami mengapa hanya Islam yang layak diyakini dan tidak ada keraguan di dalamnya. Jika anak tidak memahami proses terjadinya penyimpangan agama-agama di dunia, mereka dapat mengalami kebingungan mengapa hanya Islam yang Allah ridhai.
Pada gilirannya, ini bisa menggiring anak-anak secara perlahan menganggap semua agama benar. Apalagi jika orangtua atau guru salah menerjemahkan. Beberapa kali saya mendengar penjelasan yang mengatakan Islam sebagai agama yang paling diridhai Allah. Maksudnya baik, ingin menunjukkan bahwa Islam yang paling sempurna, tetapi berbahaya bagi persepsi dan pemahaman anak. Jika Islam yang paling diridhai Allah, maka ada agama lain yang diridhai dengan tingkat keridhaan yang berbeda-beda. Ini efek yang bisa muncul pada persepsi anak.
Kita perlu memperlihatkan pluralitas pada anak bahwa memang banyak agama di dunia ini, sehingga kita bisa menunjukkan betapa sempurnanya Islam. Mereka menerima pluralitas (kemajemukan) agama dan bersikap secara tepat, sebagaimana tuntunan Rasulullah. Tetapi bukan pluralisme yang memandang semua agama sama.
Berislam dengan Bangga
Setelah anak meyakini bahwa Islam agama yang sempurna dan satu-satunya yang diridhai Allah 'Azza wa Jalla, kita perlu menguatkan mereka dengan beberapa hal.
Pertama, kita bangkitkan kebanggaan menjadi Muslim di dada mereka. Sejak awal kita tumbuhkan kepercayaan diri yang kuat dan harga diri sebagai seorang Muslim, sehingga mereka memiliki kebanggaan yang besar terhadap agamanya. Mereka berani menunjukkan identitasnya sebagai seorang Muslim dengan penuh percaya diri, "Isyhadu bi anna muslimun.” Saksikanlah bahwa aku seorang Muslim!
Kedua, kita biasakan mereka untuk memperlihatkan identitasnya sebagai Muslim, baik yang bersifat fisik, mental dan cara berpikir. Inilah yang sekarang ini rasanya perlu kita gali lebih jauh dari khazanah Islam; bukan untuk menemukan sesuatu yang baru, tetapi untuk menemukan apa yang sudah ada pada generasi terdahulu yang berasal dari didikan Rasulullah Saw dan sekarang nyaris tak kita temukan pada sosok kaum Muslimin di zaman ini.
Ketiga, kita bangkitkan pada diri mereka al wala' wal bara' sehingga memperkuat percaya diri mereka. Apabila mereka berjalan, ajarkanlah untuk tidak menepi dan menyingkir karena grogi hanya karena berpapasan dengan orang-orang kafir yang sedang berjalan dari arah lain. Bukan berarti arogan. Kita hanya menunjukkan percaya diri kita, sehingga tidak menyingkir karena gemetar. Sikap ini sangat perlu kita tumbuhkan agar kelak mereka sanggup bersikap tegas terhadap orang-orang kafir dan lembut terhadap orang-orang yang beriman, sebagaimana firman Allah Ta'ala pada Surat Al-Maa'idah ayat 54. "... bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.”
Berislam dengan Ihsan
Jika percaya diri sudah tumbuh, kita ajarkan kepada mereka sikap ihsan. Kita tunjukkan kepada anak-anak itu bagaimana seorang Mukmin dapat dilihat dari kemuliaan akhlak dan lembutnya sikap. Ada saat untuk tegas, ada saat untuk menyejukkan. Bukan untuk menyenangkan hati orang-orang kafir karena hati yang lemah dan diri yang tak berdaya, tetapi karena memuliakan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.
Bukankah Rasulullah berdiri menghormat ketika jenazah orang kafir diantar ke tanah pekuburan? Bukankah Shalahuddin Al-Ayyubi, salah seorang panglima yang disegani dalam sejarah Islam, memperlakukan musuh-musuhnya dengan baik dan penuh kasih sayang ketika musuh sudah tidak berdaya?
Dorongan untuk Berdakwah
Agar anak-anak itu memiliki percaya diri yang lebih kuat sebagai seorang Muslim, kita perlu tanamkan dorongan untuk menyampaikan kebenaran serta mengajak orang lain pada kebenaran. Ini sangat penting untuk menjaga anak dari kebingungan terhadap masalah keimanan dan syariat. Tidak jarang anak mempertanyakan, bahkan mengenai sesama Muslim yang tidak melaksanakan sebagai syariat Islam. Misalnya mengapa ada yang tidak pakai jilbab.
Melalui dorongan agar mereka menjadi penyampai kebenaran, insya Allah kebingungan itu hilang dan berubah menjadi kemantapan serta percaya diri yang tinggi. Pada diri mereka ada semacam perasaan bahwa ada tugas untuk mengingatkan dan menyelamatkan. Ini sangat berpengaruh terhadap citra dirinya kelak, dan pada gilirannya mempengaruhi konsep diri, penerimaan diri, percaya diri dan orientasi hidup.
*Wallahu a'lam bish-shawab.
[Sahid/www.hidayatullah.com]
Ajarkan Jihad Sejak Dini
Toleransi tanpa ketegasan adalah ketidakberdayaan. Sedangkan ketegasan tanpa ilmu adalah keberingasan. Tanpa berpijak pada prinsip yang kokoh dan jelas semenjak dini, anak-anak akan kehilangan orientasi hidup yang menjadikan dirinya bermakna. Betapa banyak bangsa yang meraih kemajuan fisik luar biasa, tetapi jiwa mereka kering dan hidup mereka hampa. Bukankah Jepang mencapai kemajuan dan kemakmuran luar biasa? Tetapi pada saat yang sama, banyak orang mengalami kekosongan makna dalam hidup mereka.
Penulis : Muhammad Fauzil Adhim
Inikah yang akan kita siapkan untuk anak-anak kita? Ataukah kita siapkan mereka untuk menjadi pewaris bumi yang mampu memakmurkannya dengan ilmu-Nya dan meninggikan kalimat Allah di muka bumi dengan iman dan kesungguhan untuk berdakwah? Ataukah tidak dua-duanya. Kalimat Allah tidak tegak, kemakmuran tidak dapat. Padahal ketika kita berbicara tentang memakmurkan bumi, maknanya tidaklah sesempit dan sedangkal kemakmuran finansial. Tetapi bukan di sini tempatnya untuk berbincang. Kita bertemu sejenak di ruang ini untuk berbincang tentang apa yang harus kita berikan untuk anak-anak kita, agar tidak meninggalkan di belakang kita generasi lemah yang kita khawatiri keadaannya.
Sungguh, kita perlu ajarkan pada anak-anak kita sikap toleran terhadap mereka yang tidak seiman. Tetapi toleransi tanpa ilmu adaiah kelemahan dan rasa rendah diri. Kita merasa menjunjung tinggi toleransi, padahal yang terjadi sesungguhnya adaiah meletakkan keyakinan kita kepada Allah di belakang kita. Kita merasa menegakkan toleransi, padahal yang terjadi sesung¬guhnya menanggalkan pegangan kita pada aqidah yang lurus dan iman yang bersih.
Tidak akan pernah lahir toleransi yang bermartabat kecuali apabila kita yakin bahwa agama ini yang
paling benar. Sangat sulit saya membayangkan seseorang mengimani Tuhan, sementara ia tidak
merasa benar-benar percaya bahwa yang ia imani benar-benar Tuhan. Padahal tanpa meyakini
bahwa agama yang ia peluk adaah yang paling benar, apa pun agama yang ia yakini, maka sesungguhnya ia bukan sedang bertoleransi terhadap pemeluk agama lain. Bukan. Ia tidak risau dengan apa yang terjadi di sekelilingnya karena memang imannya rapuh dan jiwanya gersang.
Wallahu a’lam bishowab.
Jika toleransi kita tegakkan tanpa masing-masing merasa yakin agamanya benar, maka sesungguhnya yang demikian ini adalah jalan menuju tidak adanya keimanan kepada Tuhan. Jika tidak, hanya ada dua kemungkinan; iman kita yang sakit atau kita yang sakit jiwa. Sebab, tidak mungkin jiwa yang sehat meyakini sesuatu sebagai kebenaran dan pada saat yang sama meyakini apa yang ditentangnya sebagai kebenaran juga. Jika sikap beragama yang demikian dianut oleh kebanyakan orang, maka akan kita jumpai masyarakat yang sakit. Ada agama, tetapi ia tidak memberi pengaruh apa pun bagi kehidupan, cara pandang, kejujuran, kesungguhan kerja dan seterusnya. Agama berubah menjadi sekadar gaya hidup, atau bahkan sekadar menjadi upacara yang hanya dibutuhkan ketika manusia lahir, kawin dan mati. Pada tingkat yang lebih parah, agama hanya menjadi upacara pengantar penguburan jenazah.
Jiwa yang sehat serta memiliki kedewasaan beragama akan dapat menghormati keyakinan orang lain. Tidak ada halangan baginya untuk santun terhadap tetang-ganya yang kafir. Syaratnya, ia sendiri orang beriman yang benar-benar meyakini kebenaran agamanya. Tanpa itu, sesungguhnya yang terjadi bukan toleransi., melainkan sikap tidak peduli pada agama. Dan inilah mimpi buruk bagi peradaban sebuah bangsa. Sebab karakter bangsa hanya akan terbangun dengan kuat apabila memiliki pijakan nilai yang kokoh, hidup dan jelas.
Maka…
Tak ada pilihan bagi kita dalam mengajarkan toleransi kecuali dengan menanamkan iman yang kuat di dada anak-anak kita semenjak dini. Tidak akan lahir generasi yang kuat, bermartabat dan mampu menghormati orang lain yang tidak seiman kecuali kita besarkan mereka dengan membiasakan berkata yang benar (qaulan sadiida). Bukankah Allah telah ingatkan kepadamu dalam surat An-Nisaa’ ayat 9.
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatiri keadaannya. Maka, hendaklah mereka berlakwa kepada Allah (fal yattaqullah) dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (wal yaquuluu qaulan sadiida).” (QS. An-Nisaa’, 4: 9).
Saya tidak memperbincangkan lagi tentang qailan sadiida pada kesempatan kali ini karena kita sudah membicarakan lebih khusus di ruang ini sebelumnya. Karena itu, jika ingin menyegarkan ingatan, periksa kembali tulisan saya bertajuk Qaulan Sadiida. Saya kutip ayat ini untuk menegaskan bahwa generasi yang kuat hanya akan lahir apabila kita besarkan di atas pijakan takwa dan berkata dengan perkataan yang benar (qaulan sadiida). Salah satu makna qaulan sadiida adalah berkata tegas, tidak menutup-nutupi kebenaran. Berpijak pada dua hal inilah akan lahir anak-anak yang kokoh imannya, lembut perangainya dan tegas sifatnya. Ia toleran kepada pemeluk agama lain karena seperti itulah contoh yang diberikan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan karena kerdilnya jiwa, ciutnya nyali dan rusaknya iman.
Ia mampu bersikap tegas karena percaya diri yang tinggi, iman yang bersih dan ilmu yang benar. Bukan karena keberingasan dan kerasnya hati.
Agar anak-anak kita mampu bertoleransi tanpa kehilangan sikap tegas, mereka perlu memiliki keberanian, keyakinan dan ilmu yang mencukupi. Kita perlu ajarkan kepada mereka bagaimana sikap tegas harus ditegakkan agar kelak mereka dapat melindungi dirinya (hifzh an-nafs)’, melindungi hartanya (hifzli al-mal) dan membela agamanya hiifzh ad-dien). Inilah trilogi tujuan syari’ah, dan memahami jihad adalah pintu awal untuk menegakkannya.
Kita perlu menanamkan kepada mereka pemahaman tentang jihad secara utuh. Bukan mengajarkan tentang jihad yang benar dan jihad yang salah, sebab tidak ada jihad yang salah. Kalau kemudian ada yang salah memahami jihad sehingga melakukan tindakan yang keliru, maka ini sebenarnya berpangkal pada tidak utuhnya kita memahami jihad. Terlebih ketika hari ini kita menjumpai banyak sekali istilah yang menggunakan kata jihad sebelum memahami istilah jihad yang sesungguhnya dengan benar, semakin jauhlah kita dari pemahaman tentang jihad secara utuh. Hari ini kita menjumpai ada jihad ekonomi, jihad intelektual, jihad pena dan seribu atau semilyar istilah lain yang meng¬gunakan awalan kata jihad. Jika siapa pun dapat menambahkan kata apa saja sesudah kata jihad, maka apakah yang dapat kita ambil dari makna jihad? Tak ada. Karena kita berjalan dengan pikiran kita sendiri-sendiri, bukan dengan petunjuk yang Allah jamin tidak ada keraguan di dalamnya. Pada gilirannya ini menyebabkan sebagian dari kita menganggap agama tak lagi mencukupi untuk menjawab tantangan zaman dan menyelesaikan persoalan manusia. Padahal pada kitalah kelemahan itu ada. Salah satunya bersumber dari tidak utuhnya pemahaman.
Mengajarkan jihad semenjak dini kepada anak berarti menumbuhkan kepada mereka harga diri dan kepercayaan diri sebagai orang yang beragama. Mereka belajar memiliki rasa tanggung-jawab. Pangkalnya sikap al-wala’ wa al-bara’ yang kuat, ujungnya sikap yang bersungguh-sungguh dalam melakukan setiap amal shalih. Tidaklah kelak mereka menggerakkan pena -jika ia seorang penulis -kecuali untuk mengabarkan kebenaran dan menebar kebaikan. Pada setiap tetes tinta yang dituangkan dengan hati yang hidup dan missi yang kuat, insya-Allah akan lahir kata-kata yang menggerakkan jiwa untuk melakukan kebaikan. Yang demikian ini bukan karena ia melakukan jihad pena, tetapi karena kuatnya al-wala’ wa al-bara’ yang disertai besarnya rasa tanggung-jawab kepada Allah, menjadikan ia tidak membiarkan tintanya tumpah sia-sia.
Tidaklah ia hadir di dunia kecuali untuk menjadi anugerah bagi alam semesta. Ia memberi rasa tenteram bagi tetangganya, sekalipun kafir, bukan karena jihad kemanusiaan. Bukan. Tetapi ia hadir memberi manfaat bagi masyarakat sekelilingnya karena agama kita menuntut ia untuk meneladani perilaku Nabi SAW.
Sewaktu-waktu, ia juga mampu bersikap tegas terhadap orang kafir. Bukan karena benci. Bukan pula karena api permusuhan yang berkobar-kobar tanpa sebab, melainkan karena harus menegakkan kebenaran. Ia datang untuk mengingatkan sambil berharap dapat mengantarkan hidayah. Bukan untuk meluapkan amarah yang membabi buta.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber: Majalah Hidayatullah, edisi Januari 2006