Oleh : Mohamamd Fauzil Adhim
........Bukan saja kecerdasan. Orang cerdas kerapkali hanya menjadi pelayan bagi mereka yang memiliki gagasan. Dan orang yang memiliki gagasan besar melayani mereka yang memiliki karakter kuat, sementara orang yang memiliki karakter kuat melayani mereka yang berhimpun pada dirinya karakter yang sangat kuat, visi yang besar, gagasan-gagasan yang cemerlang dan pijakan ideologi yang kokoh.......
Mas Pepeng sakit. Pagi itu ia datang dengan kursi roda. Kemudian beranjak ke mimbar dengan menggunakan kruk guna memenuhi permintaan menjadi moderator sebuah seminar. Ia memimpin acara dengan semangat, sembari sesekali menyisipkan pesan agar tidak ragu mengikuti sunah Rasul. Seakan-akan tak tampak bahwa ia baru saja menjalani operasi lutut, sementara punggungnya juga sedang bermasalah sehingga harus pakai korset. Setagen. Ia bahkan masih berseloroh, “Tinggal pakai kebaya saja.”
Saya tidak sedang berbicara masalah seminar itu di sini, juga tidak tentang sabab musabab Mas Pepeng menjalani operasi. Cerita pertemuan saya dengan mas Pepeng ini saya hadirkan untuk mengambil pelajaran tentang karakter. Bangsa-bangsa besar, pemimpin besar, dan tokoh berpengaruh dalam sejarah adalah kisah tentang manusia yang memiliki karakter kuat.
Bukan saja kecerdasan. Orang cerdas kerapkali hanya menjadi pelayan bagi mereka yang memiliki gagasan. Dan orang yang memiliki gagasan besar melayani mereka yang memiliki karakter kuat, sementara orang yang memiliki karakter kuat melayani mereka yang berhimpun pada dirinya karakter yang sangat kuat, visi yang besar, gagasan-gagasan yang cemerlang dan pijakan ideologi yang kokoh.
Apakah yang bisa kita petik dari Panglima Besar Jenderal Sudirman? Ringkih badannya, lemah tubuhnya, dan bocor parunya. Tetapi orang-orang perkasa di zamannya, tunduk dan hormat padanya. Keperkasaan jasmani memang tidak ada pada diri Jenderal Sudirman, tetapi pada dirinya terhimpun kekuatan ruhiyah, kekuatan jiwa, semangat jihad yang menyala-nyala, keyakinan yang sangat kokoh, dan cita-cita yang sangat besar.
Apa yang bisa kita andalkan dari seorang kakek tua bernama Sheyik Ahmad Yassin? Kakinya lumpuh, suaranya parau, dan badannya kuyuh. Ia tak sanggup menggerakan badannya sendiri secara sempurna. Tetapi dari suaranya yang lirih, ia mampu berbicara lantang, mengobarkan semangat, dan menggerakan ribuan pemuda untuk memenuhi panggilan intifadah. Padahal ia bukan orator ulung. Tak ada di sekelilingnya ahli-ahli komunikasi yang secara khusus bekerja untuk menciptakan efek luar biasa pada setiap pidatonya, sebagaimana yang biasa terjadi pada para pemimpin negara adidaya.
Tak ada ahli yang menyiapkan untuknya strategi rekayasa kesan (image building) maupun rekayasa persetujuan (engineering of consent) agar orang terpukau setuju. Tetapi Allah `Azza wa Jalla sudah meletakan pada dirinya qoulan tsaqiila (perkataan yang berbobot). Siapakah yang sanggup menghalangi pengaruhnya?
Maka, bukan kita yang ditakuti Israel, tetapi kakek yang telah uzur dan lumpuh itu. Sebab padanya ada kekuatan besar. Begitu menakutkan bagi Israel, sehingga untuk membunuhnya negara Yahudi ini harus mengerahkan Apache, helikopter tempur tercanggih dari Amerika yang dilengkapi dengan roket pemusnah.
Maka, bukan kita yang bisa menegakkan kepala di antara bangsa-bangsa di dunia, meski kekayaan alam berlimpah dan sungai-sungai mengalir tanpa ada habisnya. Bukan kita yang memiliki izzah, meski jumlah kita lebih dari cukup untuk menepuk dada. Tetapi bukankah kita telah belajar dari sejarah bahwa peperangan yang paling besar kemuliaannya –Perang Badar– justru terjadi saat jumlah kita sedikit? Sedemikian besarnya sampai-sampai terlupa bahwa kekuatan itu bukan pada jumlah. Sebagaimana satu orang Abu Bakar Ash Shiddiq nilainya melebihi jutaan manusia seperti kita; sebagaimana kebesaran seorang Umar Bin Khatthab tak dapat ditandingi oleh ribuan pemimpin besar muslim hari ini; dan sebagaimana kemuliaan Ali bin Abi Thalib tak dapat disamai oleh kemuliaan yang dihimpun menjadi satu dari berjuta-juta orang seperti kita.
Dan… Ya sebagaimana pula kita harus malu pada Jalaludin As Suyuti yang menulis tak kurang dari enam ratus judul kitab, dari yang tipis hingga yang tebalnya melebihi disertasi terbaik seorang doktor. Padahal tidak ada padanya laptop, PDA atau yang sejenis dengan itu.
Mereka besar karena memiliki karakter yang kuat.
Membangun Karakter
Tak ada yang bisa kita lakukan dengan kecerdasan kita kalau jiwa yang menjadi tempat berkembangnya amat rapuh. Bukan cemerlangnya otak yang menjadikan orang-orang besar memberi warna pada sejarah. Bukan cepatnya berfikir yang menjadikan sebagian negeri lebih disegani dari negeri-negeri lain. Otak anak-anak dari bangsa yang amat disegani itu boleh jadi tak secemerlang anak-anak kita. Akan tetapi, mereka memiliki karakter kuat. Sangat kuat. Begitu kuatnya karakter mereka sebagai pribadi dan sebagai bangsa, sehingga mereka sigap menenangkan sikap. Tidak gamang. Tidak ragu-ragu. Tidak pula gemetar saat menjatuhkan sikap.
Anak-anak yang berpengaruh pada teman-teman sepermainan yang sebaya atau bahkan yang lebih tua usianya, kerap kali bukan ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya. Tetapi oleh seberapa kuat karakter membentuk dirinya. Tak peduli karakter itu baik atau buruk. Kalau karakternya yang menonjol sangat baik, maka anak-anak di sekelilingnya akan cenderung terbawa. Yang semula buruk, berkurang keburukannya dan berangsur-angsur menjadi baik. Sementara yang telah baik, akan berjalan seiring dan berlomba untuk semakin baik.
Karakter yang kuat dibentuk oleh penanaman nilai yang menekankan tentang baik dan buruk. Nilai ini dibangun melalui penghayatan dan pengalaman, membangkitkan rasa ingin dan jijik yang kuat, bukan menyibukan diri dengan pengetahuan. Kita pernah belajar bagaimana Pendidikan Moral Pancasila memberikan pemahaman tentang prioritas ibu hamil untuk duduk dibanding orang lain. Tetapi pemahaman bukan proses penghayatan. Ia hanya sekadar hafalan dan pengetahuan. Padahal pengetahuan hampir-hampir tidak memberi pengaruh pada perilaku jika pengetahuan itu tidak sejalan dengan sikap kita.
Pengetahuan yang tidak diyakini dan dihayati dengan sungguh-sungguh dapat menyebabkan seorang dokter spesialis penyakit dalam meninggal akibat penyakit dalam yang dideritanya akibat terlalu banyak merokok.
Apa yang salah dari pengetahuannya? Tidak ada yang salah. Tetapi pengetahuan yang tidak tidak dihayati dan diyakini sebagai sikap terbaik, tidak bisa memberi bekas apa-apa pada perilaku. Dan sikap terbaik itu penopangnya adalah harapan dan ketakutan. Ketika Anda merasa takut tertular penyakit, makanan yang sehat pun bisa Anda hindari. Tetapi jika dorongan keinginan untuk merasakan nikmatnya makanan lebih menguasai diri Anda, pengetahuan tentang bahaya yang ada di balik sajian di hadapan Anda bisa tidak berarti apa-apa. Anda tetap menikmati.
Emosi Jijik
Temuan Prof. Paul Rozin agaknya menarik untuk kita pikirkan. Guru besar di University of Pennsylvania yang menjuluki dirinya dengan Dr. Disgust (Jijik) ini menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk meneliti emosi jijik. Ia melakukan serangkaian percobaan unutk membangkitkan rasa jijik dan sebaliknya. Hasilnya? Emosi jijik sangat mempengaruhi manusia, sekalipun terhadap apa yang tidak tampak. Lebih-lebih jika emosi jijik itu disertai pengetahuan. Secara umum, emosi yang kuat terhadap suatu perkara jauh lebih kuat pengaruhnya daripada sekedar pengetahuan.
Karakter yang kuat akan cenderung hidup secara berakar pada diri anak-anak kita apabila mereka semenjak awal telah dibangkitkan keinginan untuk mewujudkannya, belajar bersedih apabila orang lain tidak melakukannya, membangkitkan keinginannya untuk menjadikan orang lain lebih baik, dan menumbuhkan kebanggaan saat melakukan, mesti dianggap aneh.
Pendidikan tentang baik dan buruk, serta benar dan salah tanpa membangkitkan keinginan untuk menjadikan orang lebih benar, justru cenderung rapuh. Ia bisa terbawa pada dua titik; jumud atau mudah menghakimi orang. Ini pada gilirannya juga dapat melahirkan kelemahan berikutnya; tidak dapat menerima kebenaran. Atau sebaliknya, sekali terpatahkan akan berantakan keyakinannya.
Proses pembangunan karakter akan lebih mudah membekas apabila kita hadirkan kepada mereka sosok yang dapat menjadi sumber identifikasi diri. Sosok menjadi qudwah. Kita hadirkan kepada mereka sosok-sosok besar itu, meski tak banyak ditulis dalam sejarah, dengan penceritaan yang hidup dan wajar. Kita hadirkan kebesaran mereka dengan menampilkan tantangan-tantangan yang mereka hadapi. Bukan hanya cerita yang bertabur kata sifat sehingga kita tidak memiliki gambaran seberapa besar mereka sesungguhnya.
Di sinilah pembangunan karakter membutuhkan model yang menjadikan anak meniru dan bangga. Dan inilah yang membuat saya sangat berkeinginan menulis tokoh-tokoh besar dalam sejarah; tokoh-tokoh yang membuat anak bangga dan tergerak jiwanya untuk bertindak. Andaikan dunia Islam hanya memiliki seorang Shalahudin Al Ayyubi sesudah Nabi saw., telah cukup bagi kita untuk membakar semangat dan membangun karakter pada anak-anak kita. Tetapi… yang terjadi tidak demikian. Kita hampir tidak mengenalnya.
Sementara di ujung sana, lihatlah! Di Vietnam, Amerika menderita kekalahan secara mengenaskan. Tetapi ia menciptakan Rambo; tokoh rekaan yang membuat seluruh orang Amerika seperti pahlawan. Ia tidak ada, tetapi ia dihadirkan seakan-akan nyata bersama-sama tokoh-tokoh lain yang juga hanya ada di film saja.
O… Allah, Engkau telah hadirkan kepada kami Amru bin Ash, Khalid bin Walid, Umar bin Abdul Aziz, dan entah berapa lagi manusia-manusia besar yang sungguh-sungguh ada telah Engkau berikan kepada kami. Tetapi… kebanyakan dari kami tidak mengenalnya, sehingga tak sanggup kami menggambarkan kepada anak-anak kami tentang mereka. Wallahu a`lam bishawab. Dan perbincangan kita, rasanya belum selesai. (Sahid, 08-05)
sumber : BAITUL MAAL HIDAYATULLAH (BMH), 08 December 2006.
KB/TK ISLAM IBNU RUSYD PARENT COMMUNITY
Kamis, 24 April 2008
Membangun Karakter Anak Kita
Change Your Child's DNA
Positive Parenting
Oleh : Mohamamd Fauzil Adhim
Kazuo Murakami, Ph.D., ahli genetika asal Jepang pernah menulis sebuah buku yang sangat menarik bertajuk The Divine Code of Life: Awaken Your Genes & Discover Hidden Talents. Sebagaimana tercermin dalam judulnya, Anda melihat potensi luar biasa dalam DNA kita. Pada awalnya para ilmuwan melihat DNA sebagai unsur pembentuk sifat yang tidak bisa berubah -sebaliknya mengubah dan menentukan kita- maka Kazuo Murakami menunjukkan kita berdasarkan serangkaian riset bahwa meskipun DNA merupakan cetak biru (blueprint) bagi manusia, tetapi DNA bisa berubah karena pikiran kita. Tepatnya, jika kita secara serius memikirkan hidup kita dengan satu paradigma yang kuat, DNA dalam diri kita bisa berubah.
Begini. Jika Anda mengerahkan diri untuk berpikir secara terus-menerus dengan paradigma yang Anda bangun, dan Anda menggelisahkan hal tersebut dalam diri Anda sehingga mempengaruhi pikiran dan perasaan Anda, maka lingkungan berpikir itu lama-kelamaan mengubah diri Anda dan keturunan Anda. Sesungguhnya pikiran yang bersungguh-sungguh itu dapat menular. Semakin kuat melekat dalam diri Anda, semakin berpengaruh pada kepekaan Anda sehingga membangkitkan intuisi Anda.
Tetapi...
Jangan keliru! Sekedar mengisi pikiran Anda dengan berbagai pengetahuan tentang baik dan buruk, tidak mempengaruhi perilaku dan sikap Anda. Cara Anda berpikirlah yang mempengaruhi perilaku Anda. Tetapi cara berpikir juga merupakan akibat saja. Ada perubahan lebih mendasar yang harus terjadi agar cara berpikir itu berubah secara keseluruhan.
Apa itu? Keyakinan. Bukan pengetahuan tentang keyakinan. Sama seperti aqidah. Penghayatan aqidah Anda yang mempengaruhi sikap Anda. Bukan pengetahuan Anda tentang aqidah. Tetapi bagaimaha mungkin Anda berakidah dengan benar jika Anda tidak memiliki ilmunya? Apa artinya? Yang harus kita lakukan bukan terutama memberikan pengetahuan sehingga anak-anak kita memiliki wawasan yang sangat luas dan pengetahuan yang sangat kaya. Yang harus kita lakukan adalah membentuk cara berpikir yang berpijak pada landasan kuat sehingga anak-anak itu memiliki orientasi hidup yang kuat dan visi yang besar. Mencerdaskan otak saja tidak cukup. Kita harus membangkitkan jiwa mereka dengan ideal-ideal karena kuatnya keyakinan!
Wallahu a'lam bish-shawab .
Sumber : Makalah Bedah Buku "Positive Parenting" - Rektorat UNY, Ahad 8 April 2007
Jadikan Mereka Pribadi Visioner
Oleh : Mohamamd Fauzil Adhim
Kita bisa mengajari anak-anak untuk menghafal dengan cepat dan membaca dengan lancar. Tetapi keterampilan melafazkan Al-Qur'an dengan benar tidak dengan sendirinya membuat anak-anak dekat hatinya pada Al-Qura'an. Bisa membaca dengan baik tidak sama dengan mampu mengambil petunjuk. Bahkan sekedar sadar bahwa Al-Qur'an merupakan petunjuk, pembeda dan penjelas pun belum tentu. Sebab, sangat berbeda antara memahami secara kognitif dengan dorongan spontan untuk selalu melihat bagaimana Al-Qur'an berbicara.
Itu sebabnya, berbicara tentang bagaimana mengajarkan Al-Qur'an sama pentingnya dengan menyakinin bahwa tidak ada keraguan sama sekali di dalamnya. Mengajarkan keterampilan membaca dan menghafal Al-Qur'an tanpa menanamkan kenyakinnan yang kuat sekaligus pengalaman berinteraksi dengan ayat-ayat Al-Qur'an, sama seperti meletakkan bertumpuk kitab di punggung keledai. Banyak ilmu di dalamnya, tetapi tak bisa mengambil pelajaran di dalamnya.
Lalu apa yang perlu kita perhatikan? Pertama, kita berusaha menghidupkan jiwa anak-anak kita dengan Al-Qur'an. Kita limpahi mereka kasih sayang sebagaimana kita melihat lemah-lembutnya Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam terhadap anak. Berlimpah kasih-sayang saat sedang bersama mereka atau lebih-lebih saat mengajarkan Al-Qur'an merupakan bekal untuk membuat jiwa mereka hidup tatkala belajar. Selain itu, menghidupkan jiwa juga berarti membuat anak senantiasa melihat dan merasakan "ada ayat Al-Qur'an" dalam setiap kejadian yang mereka jumpai. Ini menuntut kemampuan guru untuk mengajarkan Al-Qur'an secara kontekstual. Artinya, guru harus menjadikan anak melihar bahwa kemana pun ia hadapkan wajahnya, di situlah ia melihat ayat Allah. Bukan mengkait-kaitkan Al-Qur'an agar sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan atau trend pemikiran. Yang demikian bukan kontekstual, tetapi tabrir al-waqi' (pembenaran realitas).
Hasil dari upaya "menghidupkan jiwa" adalah anak-anak yang memiliki orientasi hidup sangat kuat. Mereka menjadi pribadi visioner semenjak usianya yang belia. Sesungguhnya Al-Qur'an tidaklah berbicara dunia kecuali untuk mengajak manusia meraih kebahagiaan akhirat. Al-Qur'an mengajak kita untuk hidup dengan visi akhirat yang kuat, sehingga senantiasa bersungguh-sungguh melakukan kebaikan demi kebaikan yang Allah Ta'ala ridhai. Ini berarti kita harus memahamkan anak mengapa ada amal shalih yang diridhai, mengapa pula ada yang tidak.
Kedua, membangun tradisi berpikir yang bijak pada Al-Qur'an. Kita membiasakan anak memikirkan ayat serta mengambil pelajaran darinya. Kita menanamkan pola pikir berupa tradisi mendeduksikan ayat Al-Qur'an dengan memahami makna (tafsirnya) dari orang-orang yang memiliki otoritas dan literatur terpercaya. Sesudah itu, baru kita mengajak anak untuk menggunakan nalarnya agar mampu memahami lebih jauh. Jadi bukan menggunakan nalarnya lebih dulu baru memahami maknanya. Sebab ini lebih dekat dengan praduga daripada tafsir, lebih cenderung kepada pembenaran pikiran daripada menemukan kebenaran sehingga bisa mengoreksi kesalahan kita dalam berpikir.
Tampak sepele, tetapi jika tidak berhati-hati dalam mengajarkan kita bisa keliru mengembangkan cara berpikir yang sebaliknya. Anak-anak kita ajak untuk melihat realitas, memikirkan sebab akibat serta berusaha menemukan cara berpikir, sesudah itu baru mencari ayat-ayat Al-Qur'an yang sesuai. Yang demikian ini dapat menimbulkan kesalahan berpikir bahwa kebenaran Al-Qur'an itu relatif, jika cara berpikir semacam ini sudah tumbuh, akibat selanjutnya adalah runtuhnya keyakinan bahwa kebenaran Al-Qur'an bersifat mutlak. Tak ada keraguan di dalamnya. Pada gilirannya ini menyebabkan anak kelak tidak lagi mengambil petunjuk dari Al-Qur'an.
Na'udzubillahi min dzaalik..
Mirip tetapi sangat berbeda pengaruhnya adalah membiasakan anak berpikir dan berdiskusi, kemudian melihat bagaimana Al-Qur'an memberi petunjuk. Dalam hal ini, Al-Qur'an menjadi pemisah mana yang haq dan mana yang bathil dalam setiap perkara. Al-Qur'an menjadi penilai setiap urusan.
Ketiga, mengajarkan kepada anak untuk memegangi Al-Qur'an dengan kuat. Ada beberapa aspek kekuatan yang perlu kita bangun pada anak agar bisa berpegang pada Al-Qur'an. Semua saling berkaitan dan saling mendukung kesanggupan untuk menggenggam erat petunjuk Al-Qur'an.
Secara sederhana, beberapa aspek tersebut meliputi kekuatan hati sehingga mereka memiliki antusiasme yang kuat, kecintaan yang mendalam dan kemampuan menghafal yang baik; kekuatan pikiran sehingga memudahkan mereka belajar, menajamkan kemampuannya memahami maupun mengambil pelajaran; kekuatan fisik sehingga mereka memiliki kemampuan untuk mempertahankan, memperjuangkan serta daya untuk belajar; serta kekuatan motivasi sehingga mereka bisa belajar dengan keinginan yang kuat dan perhatian yang penuh.
Wallahu a'lam bishawab..
Sumber : Buletin Fahma. Vol.3 | No.9 | September | 2007
Selasa, 22 April 2008
Semangati, Jangan Bebani
Positive Parenting
Oleh : Mohamamd Fauzil Adhim
Tahukah Anda bedanya mengejar anjing dan dikejar anjing? Keduanya sama-sama menguras tenaga. Tetapi berbeda akibatnya bagi jiwa dan pada akhirnya bagi badan.
Saat kita mengejar anjing, energi baru akan muncul ketika kita melihat anjing itu lewat di hadapan kita. Energi yang semula hilang karena mati-matian berlari, terasa memenuhi seluruh rongga badan kita kembali saat binatang yang luput dari kejaran kita itu tampak berkelebat. Ia menghadirkan semangat selagi tujuan kita masih kuat atau kita merasa cukup memiliki kemampuan untuk mengejarnya.
Tetapi kondisi psikis yang sama tidak kita miliki kalau yang terjadi sebaliknya. Kita dikejar anjing. Barangkali baru lima meter kita berlari, rasanya lunglai seluruh badan kita. Lemas tak berdaya. Kita perlu waktu cukup lama memulihkan kembali energi yang hilang. Begitu pula kesiapan emosi kita untuk bertindak, perlu pemanasan untuk bisa kembali cepat tanggap. Kecuali jika anjing itu menyalak lagi mengejar kita, maka kesanggupan berusaha akan muncul lagi, meski tak seberapa. Sekadar menyelamatkan diri dari ancaman.
Anak-anak kita juga demikian. Kalau semangat yang kita tanamkan kepadanya, maka ia akan senantiasa memiliki energi dan kesegaran untuk mengejar anjing yang bernama cita-cita. Tetapi kalau ia kita paksa meraih sesuatu yang kita harapkan mereka miliki, maka kitalah yang menjadi anjing penjaga itu. Anak-anak kita belajar bukan karena haus ilmu, melainkan karena takut kepada kita. Kalau kita tidur, tidur pula semangat anak untuk belajar. Kalau kita pergi, pergi pula kemauannya untuk berbuat baik.
Ia menjadi robot dari keinginan kita, yang menanti saat untuk berontak. Atau justru sebaliknya, menjadi orang yang tidak punya gairah sama sekali. Tak ada yang menyenangkan baginya selain makan. Bahkan makan pun boleh jadi tak menyenangkan baginya.
Ini mungkin gambaran yang terlalu ekstrem. Tetapi jangan katakan tidak ada, meski saya berharap itu tidak terjadi pada keluarga kita. Saya berdoa, semoga atas setiap letih lelah kita mengasuh mereka di waktu kecil, kelak Allah 'Azza wa Jalla akan memberikan kepada kita kemurahan dan kasih sayang di surga-Nya.
Tak ada cita-cita yang lebih mengharukan bagi orang tua terhadap anaknya, kecuali berharap agar mereka kelak menjadi anak-anak saleh yang mendoakan (waladun shalih_un yad'u lah). Karenanya, sudah seharusnya kita memberi perhatian yang lebih banyak kepada apa yang dapat mengantarkan mereka menuju kesalehan.
Kita sentuh hatinya, sehingga hiduplah akal pikirannya. Bukan menyibukkan dengan banyaknya pengetahuan yang mereka serap. Sementara terhadap jiwa mereka, kita lupa menghidupkannya.
Saya teringat dengan Dr. Marian C. Diamond, peneliti otak milik Einstein. Setelah mempelajari otak milik mendiang Albert Einstein, Dr. Diamond mencoba memahami lebih jauh dengan melakukan berbagai percobaan terhadap tikus. Mulanya dia memberi pengayaan lingkungan, kemudian mencoba melakukan eksperimen berbeda.
Dr. Diamond meneliti dua kelompok tikus. Satu kelompok memperoleh pengayaan emosional, yakni mendapat perhatian yang penuh kasih sayang. Dr. Diamond menemukan bahwa ketika dia memberikan sentuhan kasih itu, mereka menunjukkan tanda-tanda fisik akan perbaikan fungsi sistem limbik mereka.
Karena itu, mengacu pada percobaan ini, pengayaan secara mental dapat memberikan kepada kita kapasitas fisik yang lebih luas bagi kecerdasan intelek dan emosi. Begitu dijelaskan dalam buku Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak terbitan MLC, Bandung.
Kecerdasan Cair
Ada sejumlah penelitian lain yang menyerupai hasil percobaan Dr. Diamond. Kali ini penelitiannya terhadap manusia. Bukan tikus. Ringkasnya, pengayaan secara mental akan meningkatkan kapasitas fisik kecerdasan kita dan anak-anak kita. Peningkatan kapasitas mental memungkinkan mereka memiliki kecerdasan cair yang lebih tinggi.
Apa itu kecerdasan cair? Rumusannya begini, "Kecerdasan cair adalah ukuran efisiensi kerja otak, bukan ukuran jumlah fakta yang tersimpan di dalamnya."
Seorang anak boleh jadi tahu banyak, tetapi ia tidak dapat memanfaatkan pengetahuan yang ada di otaknya. Ia dapat mempelajari, katakanlah kimia karbon, di usia yang sangat belia. Tetapi, ia tidak mengambil manfaat darinya. Pengetahuannya tentang kimia karbon menjadi tumpukan pengetahuan mati, sehingga menjadi kotoran data (data smog) dalam otaknya.
Nah, keadaan seperti ini mudah terjadi apabila anak-anak kita belajar seperti robot. Mereka belajar disertai beban yang harus mereka singkirkan. Tanpa tujuan, tanpa keterlibatan emosi, tanpa bisa menikmati. Saat yang paling membahagiakan bagi mereka adalah ketika terbebas dari beban dan tuntutan.
Ini berbeda dengan anak-anak yang belajar karena ada semangat yang menyala dalam dirinya. Gairah belajar selalu ada pada dirinya, kecuali apabila orang tua atau guru telah menjebaknya dengan rutinitas yang terus-menerus tanpa memberi kesempatan rehat bagi jiwanya. Di antara bentuk rehat jiwa adalah menghibur diri. Kata Ali bin Abi Thalib r.a., "Hiburlah had suatu ketika, karena jika dipaksakan terus-menerus terhadap sesuatu, ia menjadi buta..."
Itu sebabnya saya sangat berharap, kepada sekolah-sekolah yang memberlakukan jam belajar sehari penuh (full day), agar tidak memberikan pekerjaan rumah bertumpuk-tumpuk. Sebab ini tidak membuat anak semakin cerdas. Justru sebaliknya, inisiatif, antusiasme, dan kecerdasan cairnya bisa melemah. Kita bisa memberi mereka project sebagai bahan pengayaan apabila mereka ingin berlatih meningkatkan kecakapan intelektualnya di rumah. Tetapi, bukan pekerjaan rumah.
Agar mereka menjadi anak-anak yang penuh inisiatif, kecakapan emosinya berkembang, kecakapan sosialnya tidak terhalang, kita perlu memberi kesempatan kepada mereka untuk dapat menikmati hari libur tanpa beban akademik.
Kalau harus ada yang kita berikan kepada anak-anak kita, maka itu lebih bersifat pengayaan mental dan lingkungan. Kita bisa memberi mereka pengayaan pengalaman dengan memberi pekerjaan rumah yang menantang mereka, misalnya beternak atau menggembala kambing –kegiatan yang sangat efektif untuk merangsang empati dan kepemimpinan pada diri mereka.
Selebihnya, semangat merekalah yang perlu kita bangkitkan. Bukan membebani dengan tuntutan-tuntutan yang membuat mereka seperti dikejar anjing. Dalam keadaan tertekan, sejumput makanan di neraca akan jauh lebih berat dibandingkan sekarung bate yang ditopang. Begitu pula jiwa anak-anak kita.
Tugas yang sederhana akan terasa sangat berat dan melelahkan jiwa, bukan hanya fisik –apabila kita memberikannya sebagai tuntutan dan bahkan ancaman. Tetapi, tugas yang sangat pelik, rumit, dan berat pun jika kita sertai dengan dukungan dan perhatian tutus, akan terasa ringan.
Boleh jadi tugas itu bahkan terasa di luar batas kesanggupan. Tetapi, sekali lagi, dalam keadaan penuh semangat dan gairah menyala-nyala, insya Allah mereka akan sanggup menuntaskan tanggung jawabnya. Dan inilah yang seharusnya ada pada jiwa anak-anak kita.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala merahmati kita. Semoga Allah Azza wa Jalla memampukan saya hadir kembali ke hadapan Anda untuk berbincang tentang bagaimana membangkitkan semangat anak. (*)
Sekedar cerdas saja tidak cukup
Positive Parenting
Oleh : Mohamamd Fauzil Adhim
"Sekedar cerdas saja tidak cukup untuk mempersiapkan anak-anak yang mampu mengemban amanah pada zamannya, menggenggam dunia di tangannya, dan memenuhi hatinya dengan iman kepada Allah. Maka, menjadi orangtua harus berbekal ilmu yang memadai. Tidak cukup memberi mereka uang dan memasukkan mereka ke sekolah unggulan. Uang memang bisa membeli banyak hal, tetapi bukan kebesaran jiwa untuk memberi dukungan saat mereka terempas."
Jumat, 18 April 2008
Jargon-Jargon Kecerdasan Majemuk (???)

KM
Test IQ ???
Mengubah apa yg dinilai dan bagaimana sesuatu dinilai.
Menjadi cerdas tidak ditentukan oleh nilai ulangan; menjadi cerdas ditentukan oleh seberapa baik murid belajar dengan cara beragam.
KALIAN CETAK KAMI JADI BANGSA PENGEMIS, LALU KALIAN PAKSA KAMI MASUK MASA PENJAJAHAN BARU, Kata Si Toni
Oleh Taufiq Ismail
Kami generasi yang sangat kurang rasa percaya diri
Gara-gara pewarisan nilai, sangat dipaksa-tekankan
Kalian bersengaja menjerumuskan kami-kami
Sejak lahir sampai dewasa ini
Jadi sangat tepergantung pada budaya
Meminjam uang ke mancanegara
Sudah satu keturunan jangka waktunya
Hutang selalu dibayar dengan hutang baru pula
Lubang itu digali lubang itu juga ditimbuni
Lubang itu, alamak, kok makin besar jadi
Kalian paksa-tekankan budaya berhutang ini
Sehingga apa bedanya dengan mengemis lagi
Karena rendah diri pada bangsa-bangsa dunia
Kita gadaikan sikap bersahaja kita
Karena malu dianggap bangsa miskin tak berharta
Kita pinjam uang mereka membeli benda mereka
Harta kita mahal tak terkira, harga diri kita
Digantung di etalase kantor Pegadaian Dunia
Menekur terbungkuk kita berikan kepala kita bersama
Kepada Amerika, Jepang, Eropa dan Australia
Mereka negara multi-kolonialis dengan elegansi ekonomi
Dan ramai-ramailah mereka pesta kenduri
Sambil kepala kita dimakan begini
Kita diajarinya pula tata negara dan ilmu budi pekerti
Dalam upacara masuk masa penjajahan lagi
Penjajahnya banyak gerakannya penuh harmoni
Mereka mengerkah kepala kita bersama-sama
Menggigit dan mengunyah teratur berirama
Sedih, sedih, tak terasa jadi bangsa merdeka lagi
Dicengkeram kuku negara multi-kolonialis ini
Bagai ikan kekurangan air dan zat asam
Beratus juta kita menggelepar menggelinjang
Kita terperangkap terjaring di jala raksasa hutang
Kita menjebakkan diri ke dalam krangkeng budaya
Meminjam kepeng ke mancanegara
Dari membuat peniti dua senti
Sampai membangun kilang gas bumi
Dibenarkan serangkai teori penuh sofistikasi
Kalian memberi contoh hidup boros berasas gengsi
Dan fanatisme mengimpor barang luar negeri
Gaya hidup imitasi, hedonistis dan materialistis
Kalian cetak kami jadi Bangsa Pengemis
Ketika menadahkan tangan serasa menjual jiwa
Tertancap dalam berbekas, selepas tiga dasawarsa
Jadilah kami generasi sangat kurang rasa percaya
Pada kekuatan diri sendiri dan kayanya sumber alami
Kalian lah yang membuat kami jadi begini
Sepatutnya kalian kami giring ke lapangan sepi
Lalu tiga puluh ribu kali, kami cambuk dengan puisi ini
Minggu, 13 April 2008
Mengasah Kepekaan dan Tanggung Jawab di Usia Dini
Ringkasan wawancara dengan Dr.Ir. Ratna Megawangi, di media masa nasional, mudah-mudahan bisa memberikan pencerahan mengenai pendidikan karkater untuk putra-putri kita.
……………..
Manusia kalau dididik dengan baik, dengan kasih sayang, dengan ahlak mulia, itu ngak mungkin jadi sosok penindas. Mereka akan jadi seorang pria, suami yang tanggungjawab, loving, penuh dedikasi. Alih-alih menindas istrinya, lihat kucing kelaparan saja dia tak akan tega. Jadi di situ saya berpikir, bicara jender itu tak ke mana-mana, kalau manusianya tidak kita siapkan. Manusianya yang harus dididik karakter, akhlak mulia. Saya menyebut character building. Jadi, tak cukup sampai di isu jender saja, namun harus ada solusinya. Dengan demikian tidak terjadi penindasan. Itu tahun 2000.
………………
Alasan kedua, kenapa saya masuk pada pendidikan usia dini, karena usia di bawah tujuh tahun adalah usia golden years. Usia yang paling strategis jika kita mau membentuk akhlak manusia. Seperti menulis di atas batu, yang akan long lasting. Otak manusia terbentuk 95 persen di bawah tujuh tahun.
Fenomena yang lain, karena memang ternyata data pada saat itu hanya 12 persen anak usia empat hingga enam tahun yang punya akses masuk ke TK. Selebihnya tidak bisa. Memang ada masuk ke Taman Pendidikan Alquran. Itu bukan TK, karena belajar 'Iqro' saja. Jika pun anak bisa masuk TK belum tentu pola pendidikannya bagus. Jika kita gagal pada fase ini, dampaknya permanen.
Kami membuat sebuah model. Anak yang masuk ke sini terbentuk akhlaknya, kreativitasnya, semangat dan motivasi belajar tinggi. Sekolah menjadi menyenangkan dan berbeda dari sekolah klasik. Banyak sekolah mematikan natural impulse anak-anak untuk menjadi kreatif. Padahal potensi krativitas itu diberikan oleh Tuhan. Jika kita salah mendidik, pada usia delapan tahun kreativitasnya tinggal 10 persen, dan jika berlangsung hingga dewasa tersisa dua persen saja. Itulah mengapa amat bahaya jika sebuah pendidikan salah.
Di sini anak dididik dengan menghafal. Jika dia hafal diberi nilai seratus. Meski, tak paham maknanya. Masalah kita amat krusial. Pada masa usia yang sangat strategis, tidak kita tangani dengan baik. Kemudian pada masuk usia SD, karena input awalnya tidak bagus, tidak akan bagus sampai ke sananya. Sehingga SDM kita terus saja di bawah. SDM kita termasuk yang paling rendah, baik di Asia maupun di Asia Tenggara.
.................................
Biodata
Nama: Dr. Ir. Ratna Megawangi, M.Sc
Lahir: Jakarta, 24 Agustus 1958
Jabatan: Pendiri dan Direktur Eksekutif Indonesia Hheritage Foundation (Yayasan Warisan Luhur Indonesia), pengajar di IPB
Suami: Dr. Sofyan A. Djalil, SH, MA, MALD
Anak:
1. Muhammad Rumi, lahir 1985
2. Safitri Mutia, lahir 1990
3. Muhammad Lutfi, lahir 1998
Ayah: Ayah Drs Harmonie Djaffar
Ibu: Sri Mulyatie
Pendidikan:
Post Doctoral Fellow, Tufts University School of Nutrition, Medford, Massachussets, AS bidang Keluarga, Pengasuhan Anak, Orangtua, 1991-1993
S-3, Tufts University School of Nutrition, Medford, Massachussets, AS, bidang Kebijakan Internasional Makanan dan Gizi, 1998-1991
S-2, Tufts University, bidang Ilmu Sosial dan Gizi, 1986-1988
S-1, Institut Pertanian Bogor (IPB) Bogor, Fakultas Pertanian, Jurusan Makanan, Gizi, dan Sumberdaya Keluarga, 1978-1982
Penghargaan:
-Mahasiswa Lulusan Terbaik Fakultas Pertanian IPB Bogor, Mei 1982
-Ford Foundation Fellowship Award, 1986-1987
-Inter-University Center Fellowship Award, 1987-1988
-Tufts University Graduate Fellowship Award, 1988-1989
-Ford Foundation Fellowship Award, 1989-1991
-Penghargaan "80 Tokoh Wanita Muslim Indonesia Terbaik", Januari 2002,
dimana profilnya ditulis dalam "Profil Tokoh Wanita Muslim Indonesia", 2002.
Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di
dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil 'ek-'ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi
itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Kamis, 03 April 2008
DOA IMAJINER
oleh: Ratih Sanggarwati
Doa yang kupanjatkan ketika aku masih gadis "Ya Allah beri aku calon suami yang baik, yang sholeh. Beri aku suami yang dapat kujadikan imam dalam keluargaku."
Doa yang kupanjatkan ketika selesai menikah "Ya Allah beri aku anak yang sholeh dan sholehah, agar mereka dapat mendoakanku ketika nanti aku mati dan menjadi salah satu amalanku yang tidak pernah putus."
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku lahir "Ya Allah beri aku kesempatan menyekolahkan mereka di sekolah Islami yang baik meskipun mahal, beri aku rizki untuk itu ya Allah...."
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah mulai sekolah "Ya Allah..... jadikan dia murid yang baik sehingga dia dapat bermoral Islami, agar dia bisa khatam Al Quran pada usia muda."
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku sudah beranjak remaja "Ya Allah jadikan anakku bukan pengikut arus modernisasi yang mengkhawatirkanku. Ya Allah aku tidak ingin ia mengumbar auratnya, karena dia ibarat buah yang sedang ranum."
Doa yang kupanjatkan ketika anak-anakku menjadi dewasa "Ya Allah entengkan jodohnya, berilah jodoh yang sholeh pada mereka, yang bibit, bebet, bobotnya baik dan sesuai setara dengan keluarga kami."
Doa yang kupanjatkan ketika anakku menikah "Ya Allah jangan kau putuskan tali ibu & anak ini, aku takut kehilangan perhatiannya dan takut kehilangan dia karena dia akan ikut suaminya."
Doa yang kupanjatkan ketika anakku akan melahirkan "Ya Allah mudah-mudahan cucuku lahir dengan selamat. Aku inginkan nama pemberianku pada cucuku,karena aku ingin memanjangkan teritoria wibawaku sebagi ibu dari ibunya cucuku."
Ketika kupanjatkan doa-doa itu,aku membayangkan Allah tersenyum dan berkata..... .
"Engkau ingin suami yang baik dan sholeh, sudahkah engkau sendiri baik dan sholehah? Engkau ingin suamimu jadi imam, akankah engkau jadi makmum yang baik?"
"Engkau ingin anak yang sholehah, sudahkah itu ada padamu dan pada suamimu. Jangan egois begitu...... masak engkau ingin anak yang sholehah hanya karena engkau ingin mereka mendoakanmu. ... tentu mereka menjadi sholehah utama karena-Ku, karena aturan yang mereka ikuti haruslah aturan-Ku."
"Engkau ingin menyekolahkan anakmu di sekolah Islam, karena apa?...... prestige? ...... atau....engkau tidak mau direpotkan dengan mendidik Islam padanya? Engkau juga harus belajar, Engkau juga harus bermoral Islami,Engkau juga harus membaca Al Quran dan berusaha mengkhatamkannya. "
"Bagaimana engkau dapat menahan anakmu tidak menebarkan pesonanya dengan mengumbar aurat, kalau engkau sebagai ibunya jengah untuk menutup aurat? Sementara engkau tahu Aku wajibkan itu untuk keselamatan dan kehormatan umat-Ku."
"Engkau bicara bibit, bebet, bobot untuk calon menantumu, seolah engkau tidak percaya ayat 3 & 26 surat An Nuur dalam Al Quran-Ku. Percayalah kalau anakmu dari bibit, bebet, bobot yang baik maka yang sepadanlah yang dia akan dapatkan."
"Engkau hanya mengandung, melahirkan dan menyusui anakmu. Aku yang memiliki dia saja, Aku bebaskan dia dengan kehendaknya. Aku tetap mencintainya, meskipun dia berpaling dari-Ku, bahkan ketika dia melupakan-Ku. Aku tetap mencintainya. "
"Anakmu adalah amanahmu, cucumu adalah amanah dari anakmu, berilah kebebasan untuk melepaskan busur anak panahnya sendiri yang menjadi amanahnya."
Lantas...... aku malu...... dengan imajinasiku sendiri....aku malu...... aku malu akan tuntutanku.. .....Maafkan aku ya Allah......lantas aku malu dengan imajinasiku sendiri.
(Ratih Sanggarwati, Gunung Geulis, 25 Desember 2002)
Doa
Ya Allah Amin, Amin, Amin Yaa Robbal Alamin
Wahai Yang Maha Mendengar
Wahai Yang Maha Mulia
Wahai Yang Maha Tahu
Limpahi kami ilmu untuk bertaubat
Tuntun kami dengan ilmu agar bisa berbuat kebaikan.
Ya Allah
Jadikan hidup yang sekali ini; benar-benar bermanfaat; bagi dunia dan akhirat;
Bagi diri sendiri dan ummat;
Duhai Allah
Karuniakan kepada kami bangsa dan ummat yang senang dan cinta kepada ilmu
Karuniakan kepada kami para peminpin yang berilmu
Pemimpin yang dapat membimbing kami menjadi masyarakat yang cinta ilmu
Karuniakan kepada kami para pemimpin yang dapat mengamalkan ilmunya;
Dengan benar dan ikhlas; serta dapat menyampaikan kebenaran dari Mu
Ya Arhama Rahimin Irhamna
Ya Allah
Lindungi kami dari ilmu yang menyesatkan
Lindungi kami dari fitnah dan kejahatan.
Ya Allah
Lahirkanlah dari diri kami keturunan yang hidupnya penuh kasih sayang yang akan menjadi cahaya di kegelapan.
Ya Allah
Golongkanlah kami
Menjadi ahli ilmu yang manfaat
Menjadi ahli amal yang ikhlas
Menjadi ahli ibadah yang istiqomah
Menjadi ahli tahajud yang khusyu.
Ya Allah
Mudahkanlah kami
Dalam menegakan shalat
Dalam melaksanakan shaum
Dalam menunaikan zakat
Dalam memahami Al Quran
Dalam memenuhi undangan ke baitullah.
Ya mukolibal qulub tsabit ala dinik
Allahuma nawir quluban binuri hidayah
Kamanatual binuri syamsika abadan-abadan
Birohmatika ya Arhama-Rohimin
Robbana aatina fidunya hasanah wafil akhiroti hasanah wa kina azabanar.
Ikrar KB/TK ISLAM IBNU RUSYD
•Allah Tuhan-Ku Yang Satu
IMAN-Ku
•Allah Melihat apa yang-Ku lakukan
•Malaikat selalu menemani-Ku
•Nabi Muhammad Teladan-Ku
•Al Quran kitab dan bacaan-Ku
•Hari Akhir tujuan-Ku
•Sabar dan ikhlas sikap-Ku
ISLAM AGAMA-Ku
•Syahadat jiwa-Ku
•Shalat Akhlak dan penerang hidup-Ku
•Puasa kendali diri-Ku
•Zakat membersihkan hati-Ku
•Haji Cita-cita-Ku